PERJUANGAN MERAIH MIMPI

Senin, awal tahun ajaran baru. Sekolah baru. Kota baru. Ini adalah hari pertama aku masuk SMA sekaligus menjadi minggu pertama di kota ini. minggu lalu aku dan ibu baru pindahan rumah. Dan ini sudah yang ke-3 kalinya aku pindah rumah dan kota.
Ibuku adalah seorang single parent, setelah bercerai dengan ayah karena KDRT setahun yang lalu. Ayahku seorang pemabuk dan krimanal, aku tidak tau kenapa ibu mimilih dia sebagai teman hidupnya. Aku kasian pada ibu. Sendirian mengurus aku dan adikku tanpa merasa lelah.
Ibu bekerja sebagai buruh pabrik. Di kota sebelumnya dia harus putus kontrak kerja karena sering izin mengurus adikku yang sering sakit. Dan sekarang dia mendapatkan pekerjaan baru di salah satu pabrik di kota ini. mudah-mudahan dia bisa menjadi pegawai tetap di sana dan kita tidak harus pindah rumah lagi.
Sebenarnya aku malas jika terus beradaptasi dengan lingkungan baru dan teman baru. Dan karena itu juga aku jadi tidak punya sahabat. Kemudian sekarang aku berniat untuk mencari pekerjaan sambilan untuk membantu ibu mencari uang.
Selesai upacara kami pun segera masuk ke kelas masing-masing. Dan saat masuk kelas sudah ada Rainita di sana.
“Hai, Almira. Sini!” panggil Rainita. Rainita adalah teman sebangku ku yang baru aku kenal sebelum upacara tadi pagi.
Kami duduk dibarisan paling depan agar mudah menangkap pelajaran. Di sela-sela waktu sebelum pelajaran mulai karena guru belum datang kami banyak ngobrol. Aku bersyukur bisa satu bangku denganya. Nita orangnya sangat supel dan mudah bergaul jadi aku bisa cepat dekat denganya.
“Nit, kamu ada info cari pekerjaan sambilan nggak?” tiba-tiba saja topik itu hinggap di sela obrolan kami yang ngalor ngidul itu.
“Hmmm, kalau mau Nita punya paman yang punya tempat makan gitu, kamu bisa jadi pencuci piring atau pramusaji di sana. Paman biasanya buka restoran di sore hari sampai malam jadi kamu bisa selesai sekolah langsung kerja di sana cuma pasti bakal capek banget Mira.” Jawab Nita “Kalau mau nanti Nita antar ke sana pulang sekolah ya.” lanjutnya
Pucuk dicinta ulam pun tiba, seperti mendapat durian runtuh aku mendapat kabar itu. Langsung saja aku ambil kesempatan itu.
“Terima kasih Nit, kau baik banget padahal kita baru kenal”
“Nyantai saja Mir, kita saling bantu saja.” Jawabnya sambil tersenyum.
Guru pun sudah datang dan pelajaran segera di mulai. Aku sudah tidak sabar ingin segera menemui paman Nita dan bisa bekerja di sana.

Perjuangan meraih mimpi

***
Dengan bantuan Nita akhirnya aku bisa bekerja di restoran pamannya yang berada di pusat kota. Memang restoranya setiap hari selalu ramai. Hari-hari sebagai pegawai restosan aku jalani sekarang. Awalnya ibu tidak setuju aku bekerja sambilan lebih baik fokus sekolah tapi aku memaksa agar bisa membantu ibu mencari uang.
Awalnya aku memang kewalahan mengatur jadwal sekolah dan kerja tapi lama-lama aku mulai terbiasa dan kini aku sangat menikmatinya.
Dan tak terasa 6 bulan aku jalani sekolah dan bekerja. Uang hasil bekerja aku tabung dan sebagian aku berikan dan ibu. Hingga suatu hari kondisi kesehatan ibu mulai menurun. Ia jadi jarang masuk kerja dan akhirnya kena PHK lagi dari perusahaannya. Kini akulah jadi tulang punggung keluarga.
Ibu memang sudah tua dan kondisinya tidak lagi kuat seperti dulu untuk bekerja di pabrik. Dan akhirnya dengan tabungan hasil bekerjaku selama 6 bulan ini aku jadikan modal ibu untuk berjualan di depan rumah. Warung kecil-kecilan, lumayan untuk uang makan sehari-hari.
***
Setahun kemudian keadaan ibu semakin memburuk, bolak-balik ibu masuk rumah sakit. Ibu terkena radang usus. Selama ini ibu jarang memperhatikan kondisi kesehatanya. Yang ia pikirkan hanya bagaimana membesarkan anak-anaknya menjadi anak yang sukses sampai ia tidak memperhatikan pola makanya sendiri hingga harus terkena radang usus.
Aku dan adikku bekerja sama dalam mengurus ibu. Jika malam aku bekerja ibu di urus adik sambil menjaga warung. Dan akhirnya beberapa bulan kemudian ibu harus meninggal.
Langit bagaikan runtuh mendengar kabar tersebut saat aku masih bekerja. Dalam telephone terdengar Rani dengan suara terisak mengabarkan bahwa ibu meninggal dunia.
Aku pun meminta izin pada atasanku di restoran untuk pulang karena ibu meninggal. Dadaku bergedup kencang. Air mata pun meleleh tanpa bisa di tahan. Ibu. Apa yang harus aku lakukan tanpa ibu?.
Air mata terus berderai mengiringi kepergian ibu. Aku dan adiku saling menguatkan diri menghadapi ini semua. Dan bertekad untuk menjadi anak yang bisa dibanggakan.
***
Hari ini adalah hari kelulusan sekolah dan aku menjadi lulusan yang terbaik di sekolah. Sepeninggal ibu aku berniat untuk menjadi anak yang bisa membanggakan orang tua walaupun ibu sudah tiada dan aku persembahkan lulusan terbaik ini untuk ibu.
Siang malam aku bekerja keras untuk bisa mendapatkan hasil ini. siang aku sekolah dan malam aku masih bekerja. Di sela-sela saat sepi pengunjung di restoran aku belajar agar bisa mendapatkan nilai terbaik di sekolah.
Air mata kembali meleleh saat mengingat ibu. Andai ibu masih ada, aku ingin melihat senyum ibu karena anaknya kini sudah lulus dengan nilai terbaik dan aku pun mendapatkan beasiswa untuk kuliah di universitas terbaik di kota ini.
Setelah kuliah mungkin aku tidak dapat bekerja lagi di restoran karena jadwal kuliah yang bisa sampai sore tapi penghasilan dari warung yang di kelola oleh adikku sudah lebih dari cukup untuk kehidupan sehari-hari belum lagi aku masih ada tabungan dari bekerja selama 3 tahun kemarin.
Keterpurukan membuat kami kuat dan bisa menghadapi segala masalah. Aku beruntung punya ibu yang kuat yang mengajarkan kami arti kesabaran dan bisa bertahan hidup dalam kesulitan.
Dan adikku pun sekarang tumbuh menjadi anak laki-laki yang kuat. Jika dulu dia sering sakit-sakitan tapi kini tubuhnya di tempa menjadi anak yang tangguh. Warung yang dulu kecil sekarang kami menyewa tempat yang lebih besar untuk di jadikan warung grosir sekaligus rumah untuk kami tinggali dan kami juga mempekerjakan seorang karyawan untuk mengurus warung itu. Karena adikku siang masih harus sekolah dan sorenya baru dia bisa mengelola warung.
Kini adikku sudah kelas 2 SMA tapi dia sudah belajar cara berbisnis dan rencana setelah lulus SMA dia akan mengambil kuliah jurusan bisnis untuk memantapkan lagi usahanya
Sedangkan aku selesai kuliah berencana ingin menjadi guru sambil mencari beasiswa juga untuk ngambil kuliah S2 dan menjadi dosen. Aku ingin bisa bermanfaat untuk anak-anak generasi selanjutnya dan bisa menghasilkan generasi-generasi yang tangguh nantinya.

THE END

About Retno P.

Seorang ibu rumah tangga berasal dari Bandung yang memiliki hobi menulis. Ingin menyampaikan ide-ide ceritanya dalam sebuah karya tulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *