PAGI DIHARI TERAKHIR

 

Pagi itu, pada bulan Agustus 2099, saat aku di dalam kamar sedang bersolek untuk hari spesialku, hari pernikahanku mentari bersinar dengan teriknya. Memberikan nuansa hangat yang damai. Trrrrrt. Sebuah benda yang menempel di pergelangan tanganku bergetar.
Sebuah panggilan telephone, dari Gandi. Kemudian munculah hologram dari benda tersebut yang menampilkan wajah Gandi yang nampak tampan dengan stelan jas hitam dengan kemeja putih dan berdasi. Namun, belum sempat aku say hai, tiba-tiba guncangan hebat terjadi yang membuat sambungan telephone terputus. Ada apa ini?
Di kamar sebuah apartemen itu sudah berantakan karena guncangan. Aku terjatuh, dan pingsan untuk beberapa saat kemudian aku mencoba untuk menyelamatkan diri dengan keluar kamar. Namun yang kulihat hanya sebuah gedung yang terbelah. Dan keadaan mulai tidak terkendali, banyak yang meninggal dan yang selamat mencoba meminta bantuan. Sedangkan aku, berusaha mencari Gandi. Apakah Gandi baik-baik saja?

Pagi dihari terakhir

 

***
Beberapa bulan sebelum guncangan hebat, tepatnya pada Maret 2099, ini adalah hari pertama aku bekerja di sebuah perusahaan IT terkenal di negara ini. sudah banyak teknologi-teknologi terbaru dan tercanggih yang dikeluarkan oleh perusahaan ini. mulai dari mobil terbang yang mulai diproduksi sejak 20 tahun terakhir ini. Lihatnya mobil-mobil yang berseliweran diantara gedung-gedung pencakar langit itu. Nampak seperti lalat yang sedang berhamburan di angkasa.
Selain itu teknologi lain yang dihasilkan dari perusahaan ini adalah jam tangan handphone yang bisa menampilkan wajah si penelephone. Teknologi ini sudah hadir 10 tahun terkhir dan juga sudah digunakan oleh semua orang di dunia ini. kemudian teknologi terbaru dan sedang dipromosikan dengan gencar adalah rumah portable.
Di usia bumi yang semakin tua ini, jumlah manusia semakin banyak, dan lahan yang tersedia di bumi ini tidak bertambah malah semakin sempit. Karena pemanasan global, es di kutub utara dan selatan mulai mencair dan menyebabkan luar laut semakin banyak sedangkan tanah semakin sempit. Karena itulah perusahaan ini mengeluarkan rumah portable yang bisa di bawa kemana-mana. Bentuknhya mirip bus, namun dengan isi interior di dalamnya sepreti rumah. Sudah banyak juga yang mulai menggunakanya.
“Gandi!” aku memanggil kenalanku saat wawancara beberapa hari yang lalu yang juga sedang mengabsen kehadiran dengan menempelkan mata pada pemindai retina, sehingga tidak ada kecurangan saat mengabsen kehadiran.
“Oh, kau Slavina. Kau sudah absen?” tanyanya, dan aku mulai mengabsen.
Untuk bisa masuk ke perusahaan ini sangatlah sulit juga melalui banyak tes dan Gandi lah yang jadi teman saat tes-tes itu kulalui. Dia juga membantuku agar bisa melewati semua tes tersebut. Dan ternyata dia adalah adik kelasku saat kuliah dulu.
***
Beberapa hari setelah mulai bekerja diperusahaan IT tersebut, aku mulai tinggal di sebuah apartemen dekat dengan perusahaan agar tidak harus membuang banyak waktu di jalan untuk pergi kerja. Sebelumnya aku tinggal bersama orang tuaku di kota yang berbeda.
Dan Gandi pun sama. Pindah ke apartemen yang sama namun berbeda lantai. Aku lantai paling atas lantai 10 sedangkan Gandi lantai 4. Sering kami berpapasan dan berangkat bareng ke tempat kerja. Saling mencurahkan kekesalan atau kesedihan saat kerja. Dan tak jarang pula sepulang kerja kita mampir dulu ke tempat makan untuk melepas kepenatan.
Sampai pada akhirnya perasaan itu hadir, perasaan ingin selalu bersama dengannya. Aku jatuh cinta pada Gandi. Dan gayung pun bersambut. Pada bulan Mei 2099, dia menyatakan cintanya, bahwa dia ingin jadi kekasihku. Itu adalah menjadi hari yang paling membahagiakan. Namun tidak sama hal nya dengan keluargaku.
Beberapa hari dari dia menyatakan cinta, aku langsung mengabari orang tuaku bahwa kini aku sudah punya kekasih. Namun respon mereka malah menolaknya karena alasan lebih baik berkarir dulu, puaskan dulu masa muda mu. Tapi aku tidak menghiraukanya. Aku tetap menjalin hubungan dengan Gandi.
Hingga pada bulan Juli 2099, Gandi melamarku. Dia memberikan cincin yang sangat indah. Walaupun orang tuaku tidak setuju, Gandi dengan berani datang ke rumah orang tuaku untuk melamar. Namun lamaran itu di tolak. Gandi nampak terpukul.
***
Di apartemen yang sudah rata dengan tanah. Aku mencari Gandi diantara puing-puing reruntuhan. Gempa menyebabkan seisi kota luluh lantah. Aku berharap tidak terjadi gempa susulan atau tsunami.
Aku terus mencari Gandi.
“Slavina” terdengar suara parau dari sebelah kananku yang kakinya tertindih bangunan. Itu suara Gandi. Dia terjepit reruntuhan bangunan. Dan aku mencoba menolongnya. Ku ambil sebuah potongan besi dari reruntuhan dan mencoba mengangkat batu tersebut. Syukurlah Gandi bisa selamat. Dan kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah
“Kau tampak cantik dengan memakai gaun pengantin itu.” Aku tersipu malu.
Sedari pagi aku sudah berdandan dengan memakai gaun pengantin berwarna putih yang cantik dengan hiasan bunga di kepala. Ya hari ini adalah hari pernikahanku dengan Gandi.
***
Walaupun lamaran itu ditolak, Gandi masih tetap berusaha untuk menikahiku. Dia terus berusaha dan mencoba mendekati juga membujuk orang tuaku. Berkat kegigihannya yang tidak pantang menyerah akhirnya usaha itu membuahkan hasil. Kami diizinkan menikah tapi orang tuaku tidak mau menghadiri penikahanku.
Ada sebuah kesedihan terselip dari syarat itu, tapi aku mencintai Gandi dan aku ingin menjadi istrinya dan kini dihari pernikahanku. Aku harus terseok-seok mencari Gandi diantara puing-puing bangunan yang rusak akibat gampa yang besar. Dan setelah bertemu kami pun mengikrarkan janji sehidup semati dalam ikatan pernikahan yang suci. Kami menikah dengan puing-puing bangunan sebagai saksinya dan biarlah Tuhan yang menjadi penguhulunya.
Sejenak ada kebahagian di sana karena kami bisa bersama. Namun, kebahagian itu hadir hanya sekejap saja dan berubah menjadi bencana yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya akan terjadi karena gempa susulan datang dan diiringi dengan tsunami yang sanngat besar.
Air setinggi 20 meter menerjang seluruh kota dan menghampaskan semua bangunan dan seisi kota hanya dalam hitungan detik saja. Air itu nampak seperti ombak besar yang siap menelan semua yang dilaluinya. Aku dan Gandi hanya saling berpelukan melihat air datang dengan cepatnya. Ada perasaan takut dan getir. Tanganku bergetar memegangi tangan Gandi. Aku berdoa semoga aku dimasukan dalam surga bersama Gandi. Karena aku mencintainya.
Inilah akhir dunia. Beberapa tahun terakhir memang para ilmuan sudah meramalkan akan ada tsunami yang besar. Hal ini dikarenakan salju abadi yang berada di kutub utara dan selatan yang terus mencair karena pemanasan global. Namun sepertinya pemerintah kurang cepat menanggapi ramalan dari ilmuan tersebut sehingga tidak ada tindakan preventif dari pemerintah.
Dan akhirnya seluruh dunia sudah menjadi lautan. Tidak ada lagi kehidupan.
***

About Retno P.

Seorang ibu rumah tangga berasal dari Bandung yang memiliki hobi menulis. Ingin menyampaikan ide-ide ceritanya dalam sebuah karya tulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *