MENGEJAR CINTA SEJATI

Lari. Terengah. Derap langkah cepatku terus berlari, mengejar cinta sejatiku. Di sebuah bandara internasional, ku percepat langkah. Berharap semoga pesawat terbang yang dia naiki belum lepas landas. Berharap semoga cintaku juga tidak kandas terbawa pesawat yang 10 menit lagi akan pergi meninggalkanku.
Aku menyesal karena ini semua salahku, dia harus pergi.
“Perhatian! Penerbangan menuju kota Tokyo akan segera berangkat. Harap segera memasuki pesawat.”
Oh tidak pesawatnya akan segera berangkat. Air mata pun sudah tidak sanggup lagi kubendung. Sambil terus berlari, kumohon jangan pergi. Kumohon batalkan penerbangan ini. Kumohon.

Mengejar cinta sejati
***
Sebulan sebelumnya.
“Kumohon ayah, jangan paksa aku untuk menikah dengan Angga. Angga hanya sahabat.”
Walaupun memohon, ayah tetap bersikeras agar aku menikah dengan Angga. Angga adalah anak teman ayahku dan rumah kami juga berdekatkan. Waktu kecil aku sering bermain dengannya bahkan kami bersahabat sejak kecil. Namun jika harus menikah? Rasanya aneh jika harus menikah dengan sahabat sendiri karena kita sudah tau satu sama lain.
Lagipula aku sudah punya calon sendiri. Dimas. Dialah yang bisa membuat hatiku bergetar dan dia juga bisa membuat hari-hariku lebih indah. Bahkan aku sering cerita soal Dimas pada Angga. Angga malah sering membantuku agar aku bisa berkencan dengan Dimas. Angga selalu meminta izin pada ayah untuk berkencan denganya padahal aku pergi dengan Dimas. Karena ayah tidak menyetujui hubunganku dengan Dimas.
Aku memang anak satu-satunya dan ibuku juga sudah meninggal. Ayah ingin punya anak yang bisa meneruskan bisnis Ayah dan Angga dianggap bisa melakukanya. Selain pintar, Angga juga sering membantu bisnis Ayah. Jika ayah sakit, sering dia menyuruh Angga untuk menggantikanya di perusahaan.
“Sudah pokonya kamu harus menikah dengan Angga. Ayah mau berangkat kerja dulu.” Dan pembicaraan di pagi itu berakhir dengan keteguhan hati Ayah.
Tapi hari itu menjadi hari terakhir aku berbicara dengan Ayah karena, saat perjalanan menuju tempat kerja Ayah mengalami kecelakaan dan meninggal. Aku menyesal.
***
Sepeninggal Ayah, Anggalah yang menghandle perusahaan. Karena Angga sering membantu Ayah jadi dia tidak mengalami kesulitan untuk menanganinya. Sedangkan Dimas, sejak Ayah meninggal dia malah seolah menjauh dariku.
“Ga, kenapa ya Dimas sekarang seolah menjauh dan susah banget aku mengubunginya.” Curhatku pada Angga selesai rapat di perusahaan.
Angga hanya diam saja dan aku terus curhat tentang Dimas sambil berjalan menuju ke ruang kerja kami. Dan saat sampai di ruang kerja, Angga tiba-tiba saja mendorongku ke tembok dan kami pun saling berhadapan dengan wajah Angga berada tepat di depan wajahku.
“Arsyila Putranti, tidak bisakah kamu melihatku sebagai seorang lelaki. Walau hanya sekali saja. Apa kamu tidak menyadarinya? Aku melakukan semua ini karena aku menyayangimu sebagai seorang lelaki.” Sambil memegang tanganku dengan sangat erat hingga aku merasa kesakitan.
Baru kali ini aku melihat Angga begitu marah. Dan dia pun melepaskan peganganya seraya berkata.
“Kau tau Cila, rasanya sangat sakit saat melihatmu berjalan bersama Dimas. Namun aku lebih sakit saat melihat Dimas berpelukan dengan wanita lain. Dia hanya mengincar kekayaanmu saja Cila. Tapi jika kamu merasa bahagia bersamanya. Kejarlah dia. Namun aku tidak bisa berperan sebagai sahabatmu lagi” Angga pun pergi dan membuka pintu keluar.
“Oh ya, minggu depan aku akan pergi ke Tokyo untuk melanjutkan S2 ku jadi aku tidak bisa membantumu lagi di perusahaan ini” lanjutnya sambil menutup pintu keluar.
***
Hanya seminggu, aku baru menyadari betapa berharganya Angga. Seminggu tanpanya rasanya ada yang kurang. Lebih menyakitakn kehilangan Angga daripada Dimas. Memang jarak antara sahabat dan cinta itu sangatlah tipis setipis benang hingga kau tak menyadari bahwa kau sudah masuk dalam dunia cinta.
Kini aku terpekur dalan keramaian bandara yang riuh. Menangis
“Angga. Maafkan aku. Kumohon jangan pergi. Tinggalah bersamaku.” Lirihku
“Heh Cila. Kamu ini malu-maluin diri sendiri aja. Nangis di depan umum kayak gini. sambil nyebut nama aku pula.”
Suara itu. Angga?
“Kamu keliatan jelek tau kalau menangis gitu.”
Tanpa berpikir panjang langsung ku katakan
“Aku menyayangimu Angga. Kumohon tinggalah di sini”
“Aku akan tinggal bersamamu jika kau mau menikah denganku”
Tentu saja aku bilang yes ^-^

About Retno P.

Seorang ibu rumah tangga berasal dari Bandung yang memiliki hobi menulis. Ingin menyampaikan ide-ide ceritanya dalam sebuah karya tulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *