MENGAJARI ANAK KETERAMPILAN HIDUP SEJAK DINI

Anak adalah titipan Allah yang paling berharga. Seorang ibu berjuang selama 9 bulan mengandung untuk bisa bertemu dengan buah hatinya itu dengan melalui proses yang tidak mudah dan panjang. Apalagi di trimester pertama kehamilan banyak yang mengalami morning sick atau mual di pagi hari belum lagi perjuangan saat melahirkanya adalah sebuah perjuangan antara hidup dan mati.
Jadi pantas sajalah seorang ibu atau ayah pasti akan menjaga anaknya dengan sangat hati-hati dan ingin menjadikan anaknya seorang yang sholeh dan berbakti pada orang tuanya. Namun perjuangan untuk mendidik anak juga tidak mudah apalagi di zaman sekarang dimana teknologi sudah semakin maju sehingga anak-anak bisa dengan mudah mengakses infomasi dengan mudah. Jangan sampai anak-anak mengakses informasi yang salah karena anak adalah peniru yang ulung jadi kita harus memberikan informasi yang membangun mental si anak.

Mengajarkan anak keterampilan hidup sejak dini

Pada usia 2-5 tahun banyak sekali permasalahan yang sering dihadapi oleh orang tua dan dalam tulisan ini kami akan menyampaikan beberapa tips dalam mengajari anak keterampilan hidup.
1.Mengajari anak untuk mengendalikan emosi

Pasti seorang ibu sering menghadapi anak rewel. Rewel biasanya terjadi ada sesuatu yang diingankan sang anak, namun karena kemampuan mengungkapkan keinginannya belum bisa dimengerti oleh orang tua sehingga sang anak akan ‘berulah’ yang sering kita sebut rewel.
Dalam menghadapi rewel anak ada beberapa langkah yang bisa digunakan. Pertama sang orang tua harus cek dulu kebutuhan dasar si anak. Misalnya apakah dia lapar, haus atau ingin buang air dan lain sebagainya. Kedua, jika sang anak masih tetap rewel coba kita ajak negosiasi. Pada anak usia 2-5 tahun si anak sudah bisa diajak negosiasi.
Misalnya saja “sayang, kalau kamu ingin sesuatu coba katakan pada ibu karena jika kamu hanya nangis dan berteriak-teriak seperti ini ibu jadi gk ngerti”.
Namun jika masih rewel maka disitulah kita mengajarkan anak untuk mengandalikan emosinya kita harus memiliki ketenangan dan kesabaran yang cukup tinggi. Jika anak sedang tantrum coba kita bicara pada anak “sudah nangisnya?” atau “silahkan saja nangis karena tetap tidak akan dibelikan mainan sampai kita buat kesepakatan.” Pada umur 2-5 tahun anak-anak sudah bisa diajak negosiasi sehingga setiap dia menginginkan sesuatu kita bisa bernegosiasi dengan sesuatu pula. Misal “kamu boleh mainan itu asal kamu ikuti ibu sholat” atau apa saja yang sifatnya positif. Sehingga dia akan sadar bahwa untuk mendapatkan yang dia ingin harus melalui sebuah perjuangan dulu tidak semudah itu untuk didapat.
Negosiasi ini juga bisa dilakukan saat anak suka jajan berlebihan. Berlakukan aturan untuk mengendalikan jajan mereka yang berlebihan. Karena sering orang tua kebingungan saat anak terus minta jajan.
Dan langkah ketiga coba kita introkpeksi diri apakah selama ini perhatian kita pada anak sudah memenuhi tingkat kebutuhan anak belum. Anak pada usia 0-2 tahun mempunyai tingkat kebutuhan perhatian yang lebih tinggi. Seringlah orang tua ajak main atau menjalin ikatan dengan si anak sehingga kita bisa lebih mengerti apa yang anak inginkan dan rewel pun bisa lebih dihindari.

2. Melatih anak untuk mandiri

Pada umur 2-5 mulai diajarkan kemandirian. Seperti mulai diajarkan toilet training, biarkan anak makan sendiri atau mulai membereskan mainannya sendiri. Jika tidak diajarkan sejak dini maka kebisaan tersebut akan terbawa sampai dewasa nanti.
Untuk toilet training bisa dimulai dengan melepaskan diapers dan mulai diajarkan pada anak agar BAK (Buang Air Kecil), BAB (Buang Air Besar) di toilet dan kegiatan toilet lainya adalah mandi juga harus diajarkan sedini mungkin.
Ada beberapa tahap untuk mengajarkan toilet training. Pertama beri penjelasan kegunaan toilet yaitu untuk BAK dan BAB. Kedua jika sang anak masih pipis di celana, beri penjelasan lagi “jika pipis celana nantinya celananya jadi basah dan adek jadi harus ganti baju lagi” dengan begitu sang anak akan mengerti akibat kalau pipis di celana dan mulai mengerti kegunaan toilet. Dan yang ketiga jika sang anak sudah terbiasa BAK di toilet kita harus memberinya pujian.
Kemudian ajarkan anak untuk makan sendiri meskipun nantinya akan berantakan tapi itu untuk melatih sang anak untuk bisa makan sendiri. Terkadang kita lupa salah satu arti pendidikan adalah proses yang tadinya tidak bisa menjadi bisa jadi wajar jika saat proses melatih anak untuk makan sendiri akan berantakan. Kita cukup membersihkan saja. Disini kita sebagai orang tua harus dilatih untuk bersabar dan mendidik anak agar bisa mandiri.
Selanjutnya anak juga harus dilatih untuk membereskan mainannya sendiri. Biasanya pada umur 2-5 rumah akan seperti kapal pecah karena fitrah seorang adalah bermain. Bagi anak-anak tiada hari tanpa bermain. Bermain dengan mainannya adalah memang pekerjaanya. Mainan akan berserakan dimana-mana. Namun kita juga harus mengajarkan pada anak untuk membereskan mainannya sendiri. Kita bisa mulai dengan mencotohkan cara memebesarkan mainanya dengan memasukan pada kotak mainannya, kemudian coba dia malakukanya dan beri dia pujian jika sudah menyelesaikan pekerjaannya.

3. Melatih anak untuk jujur.

Tidak ada orang tua yang mau anaknya tidak jujur. Pasti akan sangat membanggakan orang tua jika anaknya jujur. Namun terkadang justru orang tua sendirilah yang mengajarkan anak untuk tidak jujur. Contoh kecilnya misal saat sang orang tua menjanjikan untuk membelikan sesuatu karena leberhasilan anak tapi janji itu tidak terpenuhi, atau saat orang tua capek seharian kerja lalu ada tamu kemudian menyuruh anaknya untuk mengatakan pada tamu tersebut bahwa orang tua sedang tidak ada di rumah. Contoh lainya misal saat si anak berkata jujur memecahkan gelas namun kena marah orang tua karena kejadian tersebut.
Contoh-contoh kecil tersebut yang malah akan menjadi benih bagi anak untuk berlaku tidak jujur. Karena anak mengikuti apa yang di contohkan orang tuanya. Children see, children do.
Jadi pertama sekali mulai dari diri orang tuanya sendiri untuk bersikap jujur. Anak belajar dari orang tua, perilaku anak adalah cerminan dari perilaku orang tua.

4. Melatih anak untuk mengatur jam main gadget.

Di zaman sekarang dimana teknologi semakin makin mau tidak mau kita juga harus mengikuti arus perubahan zaman dengan mudahnya mengakses informasi dari gadget bahkan kini anak kecil pun sudah bisa menggunakan gadget dengan mudah. Sampai pada tinggak kecanduan gadget. Sudah banyak kejadian anak yang terlalu sering main gadget atau kecanduan main gadget hingga mengalami mata merah dan harus masuk rumah sakit. banyak orang tua yang risau karena hal tersebut.
Sekali lagi, sayang anak bukan berati kita harus mengikuti apa yang diinginkan sang anak. Seperti gadget ini. memang dengan gadget banyak anak yang merasa anteng. Namun bahaya dari radiasi jaringan harus kita waspadai. Boleh dia main gadget tapi dengan waktu yang kita atur. Misal dia boleh main gadget setelah mainannya dibereskan itu pun hanya 15 menit setelah itu, kita ajak main lagi. main di luar ruangan akan lebih menyehatkan bagi anak.
Jadi untuk menghadapi anak yang sudah kecanduan gadget kita harus buat kesepakatan denganya. Dalam kesepakatan ini harus ada aturan mainya kemudian reward dan punishment nya Dalam mendidika anak harus ada kombinasi yang cantik antara kelembutan dan ketegasan. Lembut dalam menyampaikan aturan mainnya kemudian tegas dalam meberikan reward dan punishmentnya. Sekali saja orang tua lemah atau tidak tegas dalam menjalankan konsekuensi aturan mainya makan sang anak akan memanfaatkan kelemahan itu.
Namun dalam memberikan sebuah konsenkuansi jangan yang berkaitan dengan tugasnya tapi yang berkaitan dengan kesenanganya. Misal jika dia melanggar aturan mainya maka tidak akan diajak jalan-jalan selama seminggu atau tidak akan dibelikan mainan baru. Dengan begitu dia akan berfikir kembali untuk melanggar aturan mainnya.

5. Melatih anak untuk bersosialisasi dengan lingkungan

Pernah ada kasus anak umur 3 tahun ingin berteman dengan ank sebayanya, namun yang dia lakukan malah membuat temanya itu tidak mau dekat dengannya karena dia sering melakukan kekerasan seperti memukul, mendorong atau menendang yang entah darimana ia meniru semua itu. Disini persan orang tua sangatlah penting. Bisa jadi mungkin si anak tidak tau atau tidak diajarkan cara berteman atau mungkin dia meniru seseorang yang jika berteman harus seperti itu.
Dari kejadian seperti ini di kemudian hari bisa jadi muncul bullying. Sejak sedini mungkin si anak harus diajarkan berteman dan bersosialisasi dengan temanya. Pertama ajak si anak berbicara mengapa dia melakukan itu atau dia meniru siapa kemudian yang kedua beri dia pemahaman kalau yang seperti itu salah dan beri tau cara yang benar untuk berteman dan dampingi dia dalam berteman. Jika masih melakukan kekerasan beri dia punishment, jika sudah baik beri dia pujian.
Jadi intinya adalah orang tua harus banyak komunikasi dengan sang anak. Walaupun si anak belum lancar bicara atau mungkin logikanya masih kecil tapi jika kita sering ngobrol dan komunikasi lama-lama dia akan tahu mana yang benar dan salah. Jangan sampai dia tau saat besar dan akan lebih sulit untuk merubahnya.

6. Diajarkan ilmu agama sedari kecil

Agar hidup lebih terarah sejak kecil mulailah ajarkan anak-anak kita pada agama. Bahkan sejak dalam kandung mulai didengarkan murotal Al-Qur’an agar sang anak terbiasa mendengar kata-kata yang baik. Jika anda pernah mendengar sebuah eksperimen Dr. Masaru Emoto dari Universitas Yokohama, Jepang tentang perilaku air. Air murni dari mata air pulau Honshu didoakan secara agama Shinto lalu didinginkan sampai -5 derajat celcius dilaboratorium, kemudian difoto dengan mikroskop elektron dengan kamera berkecepatan tinggi. Ternyata molekul air tersebut membentuk kristal segi enam yang indah, namun saat dikatakan “setan” molekul air pun membentuk kristal yang buruk. Diputarkan musik Symphony moazart, kristal menjadi berbentuk bunga. Ketika diputarkan musik Heavy Metal krital menjadi hancur.
Karena tubuh manusia 68,8% nya adalah terdiri dari air. Otak 74,5% air. Darah 82% air. Tulang yang keras juga mengandung 22% air begitu juga tubuh anak-anak kita. Jadi apa yang kita perdengarkan sehari-hari sedikit banyak akan membentuk karakter mereka. Jika kita selalu memperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an maka akan membentuk karakter Qur’aniah.
Jika memiliki anak laki-laki mulai ajaklah oleh ayahnya ke mesjid agar terbiasa untuk sholat berjamaan di mesjid meskipun nantinya di mesjid mungkin hanya tiduran atau bermain tapi setidaknya dia akan tau jam untuk sholat dan akan terbiasa ke mesjid. Dan nantinya tanpa di suruh pun dia akan pergi ke mesjid jika sudah adzan berkumandang.
Dan jika anak perempuan ajarkan pula jika sudah terdengar suara adzan agar segera melaksanakan sholat walaupun sholat di rumah. Ajaklah oleh ibunya untuk sholat berjamaah di rumah.

Itu adalah beberapa keteranpilan yang bisa diajarkan pada anak di umur 2-5 tahun dan tips untuk menghadapinya. Semua itu hanya ikhtiar dan kita jangan menuhankan ikhtiar karena pemilik dari jiwa-jiwa anak yang masih suci adalah Allah. Dan hanya Allah yang dapat membolak-balikan hati mereka jadi jika ikhtiar kita masih mentok, mintalah pada Allah untuk bisa melembutkan hati mereka sehingga bisa menjadi anak yang berbakti pada orang tua. Wallahu’alam. Semoga bermanfaat. ^_^

Referensi

Menjadi orang tua yang asyik karya Bunda Wening

Mendidik anak laki-laki karya Dr. Khalid Asy-Syantut

About Retno P.

Seorang ibu rumah tangga berasal dari Bandung yang memiliki hobi menulis. Ingin menyampaikan ide-ide ceritanya dalam sebuah karya tulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *