Cerpen Patah Hati: Kau dan dia, saya serta beliau

Di Cerpen Cinta 353 views

Judul cerpen kau dan dia, saya serta beliau
Cerpen karangan: m. Fauzan delfani
Kategori: cerpen cinta dalam hati (terpendam), cerpen patah hati

Mereka berdua saling tatap, tidak tabah ingin mengetahui istilah apa yang akan diucapkan. Di awalnya iben mengajak keliru satu sahabatnya, odie buat mengisi sebuah kekosongan, kehampaan semata. Pada sebuah kafe langganan, tepat tengah perkotaan. Waktu sore kawasan itu telah dipenuhi, akan tetapi waktu malam hampir tutup, sepi sekali bahkan pengunjung pun tidak terdapat. Odie sangat senang keheningan dan mereka telah setuju bahwa mereka akan ke kafe itu saat malam saja. Berasal basa-basi menuju ke suatu hal yg sangat mengagetkan bagi odie, pertama kalinya iben mengungkapkan topik.

“itulah beliau, menurutmu bagaimana?” tanya iben meminta sebuah pendapat.
“bagiku masuk akal, bahkan aku konfiden semua orang akan bilang serupa. Tapi, apa kau yakin buat tidak memberitahuku siapa?”
“aku akan memberitahumu hingga datang waktunya. Bersabarlah.”
Odie diam sebentar lalu mulai mengatakan, “sia serta vitra?”
“sama, tunggu saja sampai saatnya… aku harus balik , kau yakin tidak ikut?… baiklah, hingga bertemu besok.” iben berkiprah pergi meninggalkan sahabatnya itu.

Lelaki itu sangat ganteng , dia mengenakan jaket tebal, rambut yang pirang disampingkannya. Apabila mengenai hidungnya, seperti pisau. Tajam. Tingginya umpakan seseorang atlet basket serta kacamatanya membagikan sifat seorang pemikir. Odie meminum kopinya sambil menatap ke kaca besar , matanya hanya tertuju pada iben, kemudian orang itu tanggal berasal pandangannya.

Odie menyandarkan tubuhnya ke sofa, menghembuskan nafas serta memikirkan omongan iben tersebut. Terdapat getaran beliau rasakan di dalam saku celananya. Lantas odie memamsukkan tangannya dan mengambilnya. Dilihatnya, odie tersenyum mungil.

Umumnya vitra selalu senang bila dia berbicara menggunakan dirinya, cintanya kepada dia tumbuh ketika mungil, dimana mereka masih bermain bersama-sama. Tapi kali ini terdapat yang tidak selaras, mukanya murung tidak memahami mau bilang apa. Lebih baik ini harus diselesaikan sebelum semuanya hancur. Vitra mengambil teleponnya, menghubunginya.

“hai, lagi ngapa?”
“duduk, di kafe, terdapat apa vit?” jawab seorang lewat telepon
“tidak, hanya ingin memahami saja… gimana hubungan kalian?”
“maksudmu?”
Vitra tertawa hambar, “haha, kau jangan bercanda kepadaku di malam begini, beliau maksudku.”
“kau tahu kan aku tidak ada rasa kepadanya.”
“saya melihat kalian selalu bergandengan tangan saat kita ketemu, itu yang dibilang tidak suka ?” vitra menyindirnya, walau itu sangat menyakitkan baginya.
“ayolah, aku memahami dia menyukaiku, akan tetapi aku tak. Telah usang aku bilang, saya sudah suka pada orang lain.”
“iya, iya. Sebaiknya secepatnya kau bilang siapa orang itu.”
“nanti, absolut akan aku bilang. Ini sudah malam, saya tutup ya. Bye.”

Kemungkinan akbar lelaki itu tidak suka pada dirinya, sakit. Air matanya keluar dari lubuk hatinya, dia resah apakah harus menerimanya atau tidak. Vitra memeluk lutut pada atas tempat tidurnya menggunakan ketika yang sungguh lama , mengangkat kepalanya serta menoleh ke samping. Foto yang hanya mereka berdua ditatapnya.

Odie langsung menjatuhkan tubuhnya pada kawasan tidur. Penyesalan sedang dilandanya, seharusnya dirinya mengungkapkannya tersebut atau sebelumnya. Akan tetapi odie takut, beliau pernah bercerita, wanita itu menyukai seseorang lelaki. Hingga saat ini dia tidak pernah tahu siapa itu. Dan tiba-tiba teleponnya berdering waktu hampir mendekati tengah malam. Berharap dirinya yang menelepon, tetapi itu hanya andai kata saja.

“maaf, seharian ini aku tak memberi informasi.”
“kau tidak perlu melakukan hal seperti itu Jika kau terpaksa.” istilah odie memasang mata yg sayup kelelahan.
“siapa tahu kau cemas?”
“ini sudah malam tidurlah.”
“oke, buat dirimu apa pun akan aku lakukan. Selamat malam pangeran.”
Odie menhempaskan teleponnya, mengusap mukanya berkali-kali. Padahal dia sudah sangat mengantuk, pikiran pada otaknyalah menunda dirinya buat terlelap. Apakah aku wajib menerimanya? Itulah yg dipikirkannya sekarang.

Inilah saat yang dinantikan-tunggu iben. Akhirnya beliau, gadis tadi akan menetapkan jawabannya. Pada belakang sekolah saat seluruh peserta didik telah balik , wanita itu sudah menunggunya saat iben baru saja tiba. Dia sangat rupawan, rambut hitam pekat lurus terurai begitu saja, wajahnya begitu putih dan lembut, alis matanya lantik menambah kecantikannya, bibirnya kecil sama dengan postur tubuhnya.

“bagaimana?”
Perempuan tersebut hanya memandang wajah iben dan agak sedikit lama dia mulai mengatakan, “sebenarnya… saya… amanah, hingga waktu ini aku sudah cinta pada orang lain, lalu kau tiba dan menyatakan cinta kepadaku. Dia, orang yang aku senang sebenarnya mempunyai perasaan terhadap orang lain, bukan denganku. Daripada aku menunggu dirinya meminta kepastian, lebih baik saya menerima orang yang mencintaiku tanpa kupinta.”
“apakah jawabanmu iya?” wanita itu mengangguk.
Iben lansung memeluknya erat-erat, menandakan Jika dia benar -betul mengasihi perempuan itu, “aku janji, akan membuatmu senang .”
Hari yg cerah begitu dengan suasana hati iben yang lagi berbunga-bunga, akan tetapi belum tentu menggunakan gadisnya.

Jam istirahat tadi, sia makan di kantin, terhenti datang-datang waktu seorang lelaki mengatakan sesuatu yg mencengangkannya. Seorang laki-laki berkulit hitam cantik, tingginya umpamakan model, berhidung mancung, rambutnya lebat berantakan. Tipikal macam itulah disukai sia, baginya gagah.

“kau berfokus?” tanya sia tidak percaya dengan didengarnya barusan.
“sehabis kupikir-pikir lagi, kau begitu nrimo menyayangiku, betapa bodohnya saya apabila ini terlewat, Jika kunggap ini hanya angin lewat semata.”
Sia, gadis berambut pirang dan wajah bulat telur, serta tinggi sebatas sebahu lelaki itu berdiri berasal kursi serta langsung memeluk dia, semua siswa yang terdapat pada kantin itu menyoraki mereka berdua, bertepuk tangan atas ucapan cinta itu. Meriah sekali pada lebih kurang mereka, tapi bagi lelaki itu ini hanya sebuah percobaan tanpa hati menyertai.

Odie, iben, vitra serta sia berkumpul. Empat teman itu bertemu buat memenuhi permintaan iben. Ya, iben akan menepati janjinya, yaitu pacarnya. Serta inilah saatnya.
“kalian absolut akan terkejut.”
Sia pun bertanya-tanya, “memang siapa?”
“ini,” iben merangkul vitra, “orang ini dia, sudah mencuri hatiku.”
“oh, benar-benar saya tak percaya,” kemudian sia memeluk lengan odie, ”serta coba tebak. Saya jua ingin berkata sesuatu.”
“apa?” iben pula ikut bertanya-tanya
“kami berdua resmi jadian.”
Iben ternganga mendengar itu, “wah, jadi pacar kita ini merupakan sahabat kita sendiri. Benar -betul keajaiban.”
Sia mulai tertawa terbahak-bahak, “hahaha, takdir memang menuntun kita ke jalan yang tidak mampu kita terka.”
Iben serta sia saling tertawa senang , akan tetapi teman mereka berdua tak demikian. Odie serta vitra menatap satu sama lain, mungkin buat iben serta sia peristiwa ini menumbuhkan kegembiraan meluap-luap. Di pada lubuk hatinya, vitra menyesal sekali sebab lambat menyatakan cinta kepadanya, lain halnya dengan odie. Beliau merasa begitu bodoh karena tergesa-gesa mengambil keputusan berujung kesakitan ini. Menetaslah air mata vitra tidak menerima semua ini serta odie hanya terdiam menunduk.

Cerpen karangan: m. Fauzan delfani
Facebook: m fauzan delfani

Cerita kau serta dia, saya dan dia adalah cerita pendek karangan m. Fauzan delfani, engkau dapat mengunjungi page khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

Incoming search terms:

  • cerpen patah hati

Tags: #patahhati #penyesalan

author
Penulis: 
Cerpenis asal Jonggol
Cerpen Cinta: Semester Cinta
Cerpen non fiksi (nyata) tentang cinta yang
Cerbung: Bingkai Cerita Cinta
Prolog Kayla Siang itu sedikit berbeda daripada
Cerpen Cinta Romantis: Day by Day
Judul cerpen day by day (ketika balik
Cerpen Patah Hati – Yume Monogatari
Cerpen jepang – Cerpen buatan Sri Yulianti, yang

Tinggalkan pesan "Cerpen Patah Hati: Kau dan dia, saya serta beliau"

Baca Juga×

Top