Cerpen Cinta: Semester Cinta

Di Cerpen Cinta 674 views

Debar

Rania menyisir rambutnya perlahan, Sekar, Rania dan Dea baru sampai dari kampus beberapa saat lalu dan Rania memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Ini kali kedua Sekar dan Dea berkunjung ke rumah Sekar, rumah yang sebenarnya tak seberapa jauh dari kampus mereka. Sekarang Sekar sedang merebahkan badan di tempat tidur, dia terlihat mengamati sekeliling. Kamar Rania sederhana, rumah Rania juga, mungkin hanya setengah dari rumah Sekar. Dea masih di kamar mandi, baru masuk setelah Rania selesai membersihkan badan. Rania tinggal di rumah itu tak sendiri, dengan dua adiknya yang masih kecil dan seorang nenek. Ketika mereka datang, nenek Rania sedang memasak air di dapur sementara adik-adik Rania pergi ke masjid, mengaji. 2

“Rambut kamu bagus, Ra.” puji Sekar. Rania hanya tersenyum, tidak menanggapi. Itu fakta, Rania cantik dengan tubuh yang proporsional. Kulitnya bukan lagi kuning langsat tapi cenderung berwarna putih pucat. Saking putihnya, gurat-gurat kemerahan terkadang terlihat di punggung tangannya. Rambutnya legam, tidak semengkilat iklan sampo, tapi sempurna hitam dan tebal. Alisnya juga, nyaris bertemu di tengah dahi. Sementara irisnya berwarna kecoklatan. Cantik, itu definisi yang tepat untuk Rania. Kondisi fisik Rania jauh berbeda dengan adik pertamanya, begitu pun si bungsu. Intinya, mereka memiliki ciri fisik yang tidak sama.

“Nia, Nia!” suara panggilan nenek terdengar di luar kamar Rania. Gadis itu cepat beringsut membuka pintu.

“Adikmu besok bayar buku, Ibu sudah kirim uang?” tanya neneknya. Nyaris berbisik tapi cukup membuat Sekar menoleh ke arah pintu. Rania segera menutup pintu kamarnya, berhasil menangkap tatapan ingin tahu Sekar.

“Belum, Mbah, tapi Nia ada uang, nanti Nia kasih ke Simbah ya.” Rania berusaha memberi solusi. Simbah menarik napas dalam. Uang beasiswanya, beasiswa pascasarjananya mengkaver biaya hidup Rania. Tidak seberapa banyak, tapi bisa digunakan di saat-saat darurat seperti ini.

“Ibumu kenapa sih ngga kerja di sini aja. ” protes Simbah sambil berlalu meninggalkan Rania. Gadis itu tidak menjawab, tidak tau harus menjawab apa.

“Temenmu disuruh minum, Mbah sudah siapin di meja.” Simbah mengingatkan Rania. Ia mengangguk kecil lalu kembali masuk ke dalam kamar, menampakan wajah biasa saja pada kedua temannya yang sedari tadi sudah menunggunya. Sekar salah tingkah, sengaja atau tidak ia berhasil mendengar obrolan di luar kamar, dia pura-pura sibuk membuka-buka ponsel pintarnya.

“Ke depan yuk, Simbah sudah nyiapin minum.” ajak Rania.

“Asik, ada pisang goreng kan, Ra? Aku kangen sama pisang goreng Simbah.” Dea menyambut dengan tangan terbuka. Dea segera meloncat mendahului Sekar dan Rania meraih gagang pintu. Baru saja ia akan melangkah ke luar, sesuatu menabraknya. Dea meringis, tidak sempat mengidentifikasi apa dan siapa yang menabraknya, ia sudah mendengar rengekan di kamar Rania. Seorang bocah berjongkok tepat di depan Rania, menyembunyikan wajahnya dalam lipatan tangan. Si bungsu.

“Hei, Rina kenapa?” Sekar ikut berjongkok, mengelus kepala anak itu perlahan. Tidak ada jawaban, si bungsu menangis lebih keras. Sekar tambah bingung pada situasi di sekelilingnya, Dea tertegun di depan pintu. Sama-sama tidak paham kenapa.

” Ini Rina? Eh Rina kenapa nangis?” sekarang Sekar berusaha mengambil peran, ia ikut berjongkok di samping Rania, masih tak ada jawaban.

“Mba Nia!” sebuah suara dari depan pintu membuat mereka menoleh. Abel, adik pertama Rania,”Rina nangis diejek temen-temen. Katanya Abel sama Rina ngga punya bapak.” adunya. Abel kelas lima SD dia lebih tangguh daripada Rina yang masih TK. Soal ejek-mengejek, Abel bisa membalasnya. Soal berkelahI, Abel juga jago.

“Bukannya semua orang pasti punya bapak? Ya kan Mba Nia?” bela Abel. Rania mengangguk, ada yang berdenyar di kepalanya. Adegan itu, bukan kali pertama mereka pulang dalam keadaan salah satunya menangis. Urusannya masih tetap sama, bapak.

“Tuh kan, Mba Nia bilang juga apa Rina! Ngga usah cengeng deh!”

Rania memeluk tubuh kecil Rina. Dulu, dulu sekali dia juga sering mendapatkan perlakukan yang sama dari teman-teman. Diejek tidak punya ayah. Itu dulu sekali, ketika adik-adiknya belum lahir. Rania percaya saja ketika ibu bilang bapaknya meninggal. Kecelakaan. Tertabrak kereta. Namanya Jems. Tulisannya Je-a-em-e-es. JAMES. Rania percaya, itu yang dia sampaikan pada teman-temannya. Tapi apa yang harus dia ceritakan ketika beberapa tahun kemudian ibunya pulang dalam kondisi mengandung Abel? Lalu tujuh tahun kemudian ibunya kembali ke rumah itu dengan membawa bayi kecil bernama Rina? Logikanya menolak, tapi dia tidak pernah berani bertanya pada ibunya. Begitu juga pada Simbah. Dia mulai tau, tetangga sebelah menggunjing, tentang Rania, tentang Ibunya, tentang Rina dan Abel. Dia tau, Simbah yang sudah hidup lebih lama daripadanya, tentu saja telah lebih lama menanggung beban dibandingkan dia.

Sekar menghela napas. Dea mematung.

“Rina, Mba Sekar punya coklat.” Rina melambatkan isakannya. Ia mendongak. Sekar tersenyum, menaikturunkan alisnya, merayu, “tapi Rina jangan nangis.” tawarnya.

**

Dewa memutar gelasnya yang berembun, di depannya Zaky terlihat masih sibuk dengan ponselnya. Ia masih menelepon seseorang beberapa saat lalu. Ada sedikit masalah di perusahaan keluarganya. Perusahaan keluarga yang sudah turun temurun itu tidak serta merta membawa Zaky ke posisi Chief Executive Officer atau CEO dengan singkat. Jabatan elit itu tetap masih dipegang oleh papanya. Menurut papanya, jabatan itu tidak bisa dipegang oleh seseorang tanpa pengalaman. Tidak bisa dipegang oleh orang yang mengedepankan emosi dibandingkan logika.

Internship. Begitu papanya memberi instruksi. Di usianya yang dua puluh tujuh, dan statusnya yang mahasiswa pasca sarjana, Zaky magang di perusahaannya sendiri, bagian Human Resource Development.

“Beres, Zak?” tegur Dewa. Zaky mengangguk.

“Semoga Dew. Beberapa rencana tidak berjalan. Beberapa karyawan resign. “

“Ditambah urusan pernikahan?” Zaky mencoba mengangkat tema itu. Mereka berdua bersahabat dekat. Zaky terpaut satu tahun lebih tua dibandingkan Dewa. Perkenalan mereka membuat Dewa merasa lebih akrab saat memanggil Zaky tanpa embel-embel Mas, Kakak, atau yang lainnya. Zaky mengangguk, tersenyum kemudian.

“Dari kerajaan mana?” Dewa tersenyum sekarang, mengingat kuliah Prof. Bastian semester lalu. Zaky tertawa.

“Apaan sih, Dew. Bukan puteri raja kok.” jawab Zaky sambil mengaduk orange float di depannya. Dewa semakin terbahak.

“Kata Prof. Bastian, sistem perjodohan di zaman kerajaan dilakukan untuk menyatukan kekuatan Zak, memperluas wilayah kekuasaan. Tapi jangan dikira sistem itu sudah tidak ada. Hanya saja bentuk kerajaannya sudah berubah.” Ingatan Dewa sampai pada intermesso kuliah Manajemen Kontrol.

“Berubah jadi?” kejar Zaky penasaran. Memorinya tentang guyonan profesor nyentrik itu hilang. Mungkin saat itu dia tidak masuk kuliah.

“Kerajaan bisnis.”

Keduanya tergelak bersama. Dewa selalu nyaman bersama Zaky, selalu nyaman sampai perasaan ketakutan itu kadang-kadang hadir. Ketakutan yang asing, ketakutan yang seharusnya tidak perlu. Hening lagi. Mereka berkutat dengan pikiran masing-masing.

“Hm, Dew…kamu beneran suka sama Sekar?” Zaky bertanya ragu-ragu. Ada kehati-hatian yang sengaja ia taburkan dalam kalimatnya. Dewa mengankat dagunya, menatap lekat-lekat pada lelaki di depannya.

“Kamu sendiri?” jawaban berupa pertanyaan itu terasa berbeda. Dewa tersenyum, senyum yang terlalu sulit untuk Zaky artikan. Ada detak, bersemu debar. Bukan pada salah satu dada, tapi pada keduanya.

Assalamu’alaikum, aku datang di Sabtu malam. Di sini ngga pernah malam Ahad, ngga tau kenapa hahah …:p. 

Ah ya, tentang beberapa karakter sengaja  disesuaikan dengan keadaan yang ada di lingkungan sekitarku. Rasanya susah mengimajinasikan sesuatu yang asing, misalnya membayangkan kehidupan CEO dsb, sure, I can’t atau lebih tepatnya belum bisa, kecuali suatu saat saya jadi CEO beneran, saya ceritain deh gimana sibuknya dan seberapa banyak duitnya hehe…. Seorang teman memang terlahir dari sebuah keluarga dengan latar belakang pengusaha, pemilik perusahaan yang cukup besar di Indonesia, jadi aku bisa belajar banyak darinya tentang kesibukannya. Cukup sibuk, sempat beberapa waktu menghilang, mengurusi usaha dan perusahaannya, jadi aku sengaja mengadopsi kesibukannya dalam cerita ini agar terasa lebih real. Terimakasih sudah membaca 🙂

Tags: #Cinta

author
Penulis: 
Cerpenis asal Jonggol
Cerbung: Bingkai Cerita Cinta
Prolog Kayla Siang itu sedikit berbeda daripada
Cerpen Patah Hati: Kau dan dia, saya serta beliau
Judul cerpen kau dan dia, saya serta
Cerpen Cinta Romantis: Day by Day
Judul cerpen day by day (ketika balik
Cerpen Patah Hati – Yume Monogatari
Cerpen jepang – Cerpen buatan Sri Yulianti, yang

Tinggalkan pesan "Cerpen Cinta: Semester Cinta"

Baca Juga×

Top