Cerpen Cinta: Semester Cinta

Di Cerpen Cinta 679 views

Pagi

“Sekar, Sekar!” Dea berlari terengah-engah ke dalam kelas, tangan kanannya memegang plastik berisi gorengan yang dibungkusnya dari kantin sementara tangan kirinya memegang gelas berisi air dingin. Program studi ini memang menyediakan segalon air beserta dispenser hot and cold khusus untuk mahasiswa tepat di depan ruang kelas Sekar lengkap bersama gelasnya. Mahasiswa yang selalu bisa memanfaatkan situasi biasanya membawa susu sachet atau sekadar kopi instan dari kosan, diseduh di kampus dan dinikmati sembari kuliah.

“Hm.” Sekar menjawab tidak terlalu antusias, dia sedang membaca jurnal yang baru saja berhasil diunduhnya dari situs jurnal internasional yang dilanggan kampus.

“Kamu nyari Prof. Widodo kan tadi? Tadi aku papasan!” terang Dea gemas. Wajar, menunggu dosen di kampus ini sudah jadi bagian dari usaha, terkadang mahasiswa sudah harus menunggu dari sebelum jam 7 pagi lalu dosen yang ditunggu datang setengah delapan. Bertemu lima menit kemudian selesai.

“Serius?!” mata Sekar membulat lalu buru-buru menyambar mapnya. Dia akan mengkonsultasikan beberapa hal terkait tesisnya dengen Prof.Widodo, ahli investasi. Dea mengangguk yakin sementara Sekar sudah melesat ke luar.

“Aku udah di sini, ngapain sih kamu lari-lari?” tegur Dewa di depan pintu yang diacuhkan Sekar.

Bukan saatnya bercanda, Dewa!

Sekar menghentikan langkahnya demi melihat Prof. Widodo sudah memasuki ruang kelas angkatan lain dan menutup pintunya perlahan.

Terlambat.

Gadis itu kembali ke kelasnya.

“Ngajar, De.” Sekar menjelaskan sebelum diminta.

“Oh ya udah tunggu aja, sampai jam setengah sepuluh biasanya.” Dea memberi saran, “coba liat proposal kamu.”

Tangan Dea sudah meraih map di meja Sekar.

“Abis master langsung doktoral?” Sekar bertanya sambil membolak balik halaman proposal di tangannya. 1

“Yaelah, banyak banget perasaan deh yang pekan ini nanyain itu.” Sekar menggerutu lalu berusaha kembali fokus membaca jurnal yang tadi sempat ditinggalkannya. Dea tergelak.

“Aku disuruh nikah dulu, Dea, sayang. Aku tuh jadi pengen cepet-cepet nikah biar bisa cepet doktoral masa.” Sekar menertawakan nasibnya. Tawa Dea semakin meledak.

“Coba ya ada cowo yang juga butuh menikah untuk lisensi doktoralnya. Kan kami bisa simbiosis tuh.” Kelakar Sekar lagi. Kali ini ia benar-benar meninggalkan jurnalnya dan memilih curhat pada teman main badmintonnya itu. Dari sudut yang lain, dua pasang mata mengawasi mereka berdua, dengan mimik yang tidak sama. Satu di antara wajah itu tersenyum, sedangkan wajah lain terdengar menahan napas lalu membuangnya perlahan. Kedua lelaki itu pada akhirnya beranjak meninggalkan kelas. 1

“Dewa, kok kamu pergi? Ngga kuliah?” Dea menahan langkah Dewa, seharusnya sebagai ketua kelas Dewa mengumumkan ada tidaknya kuliah hari ini sejak tadi malam.

“Kuliahnya diganti besok.” Jawab Dewa dengan ekspresi menang.

“Yah kok kamu ngga bilang?” protes Dea sebal.

Seharusnya aku bisa mandi sedikit lebih siang kalau tau kosong!

Dewa meleletkan lidahnya lalu beranjak meninggalkan kelas.

“Terus kamu mau ke mana?” Sekar angkat bicara. Tanpa diduga, Dewa kembali lagi ke kelas, mendekati Sekar. Gadis itu mundur selangkah, jengah.

“Mau pergi sama Zaky. Dia ngajakin aku liat-liat tempat panahan.”

Sekar tidak menanggapi, dia menatap seseorang di belakang Dewa. Yang ditatap tersenyum pertanda Dewa tidak bohong.

“Kamu mau belajar memanah?” Sekar meyakinkan.

“Iyalah, kan biar bisa memanah hati kamu.” Dewa menjawab ringan lalu benar-benar melangkahkan kaki ke luar, meninggalkan Sekar yang membulatkan matanya sambil mencebikkan bibir. 1

Hah, gombalan macam apa!

“Kami mau ke sini, Sekar.” Zaky tiba-tiba sudah berdiri di samping Sekar sambil membuka ponsel pintarnya, menunjukkan beberapa gambar dalam sebuah web. Pesantren Modern. Beberapa kali Sekar pernah ke sana, menghadiri tabligh akbar, tapi ia belum tahu bahwa sekarang tempat itu sudah sedemikian berkembang. Ia memperhatikan tempat itu dengan seksama sembari berdiskusi kecil dengan Zaky sementara Dewa menunggu tak sabar di depan pintu. 1

“Ayo Zak! Kok malah ngerumpi sih! Kapan nyampenya!” wajahnya terlihat tidak suka.

Zaky memberi isyarat tunggu sebentar pada Dewa. Dewa memutar matanya sebal. Sebal karena beberapa hal lebih tepatnya. Dia memilih duduk di kursi terdekat, mengawasi Sekar dan Zaky dengan muka malas.

“Ayo Wa, kok kamu malah duduk sih?” tegur Zaky lima menit kemudian. Dia sudah benar-benar bersiap pergi sekarang.

“Ya kamu kenapa malah ngobrol sih?!” nada suaranya naik beberapa oktaf. Zaky tertawa tanpa komentar. Seharusnya bagi Dewa, pagi ini menyenangkan.

“Eh Sekar di sana ada semacam kebun dan restonya juga lho. Kapan-kapan kita ke sana.” Zaky belum benar-benar menyelesaikan promosinya tentang pesantren modern. Sekar hanya tersenyum sambil menunjukkan ibu jarinya.

Dea beralih berdiri ke sisi Sekar setelah mereka pergi.

“Kalian sebenarnya mirip. Sangat mirip. Karena terlalu mirip itulah kalian tidak bisa bersama. ” lirih Dea sambil melipat tangannya di depan dada, mengekor kepergian kedua lelaki itu sampai menghilang di ujung lorong.

“Kamu ngga patah hati, kan Sekar, Zaky mau menikah?”

Sekar menarik napas dalam lalu membuangnya.

“Entahlah.” Jawab Sekar pendek, “Tapi kehilangan itu pasti.” 1

Detik berikutnya Dea menepuk bahu Sekar, menguatkan, “Fokus lulus dan jadilah dosen seperti yang kau inginkan, lalu S3 bareng simbionnmu.” Dea berusaha memperbaiki keadaan. Pagi seharusnya selalu membangunkan matahari yang lelap semalam, berbagi energi sampai senja nanti.



Tags: #Cinta

author
Penulis: 
Cerpenis asal Jonggol
Cerbung: Bingkai Cerita Cinta
Prolog Kayla Siang itu sedikit berbeda daripada
Cerpen Patah Hati: Kau dan dia, saya serta beliau
Judul cerpen kau dan dia, saya serta
Cerpen Cinta Romantis: Day by Day
Judul cerpen day by day (ketika balik
Cerpen Patah Hati – Yume Monogatari
Cerpen jepang – Cerpen buatan┬áSri Yulianti, yang

Tinggalkan pesan "Cerpen Cinta: Semester Cinta"

Baca Juga×

Top