Cerpen Cinta: Semester Cinta

Di Cerpen Cinta 675 views

Senja

Abah duduk di ujung meja, berseberangan dengan Galih. Semua orang di ruang syuro menunggu jawaban. Tatap mata Galih menyapu seisi ruangan dengan seksama kemudian menarik napas dalam sebelum akhirnya memberi jawaban.

“Saya setuju.”

Kompak, semua peserta syuro mendesah lega. Sebagiannya berhamdalah dengan suara yang cukup keras.

“Tapi …” keputusan Galih belum final. Semua raut yang semula lega berangsur-angsur menegang. Hanya Ustadz Hasan yang masih terlihat tenang di sampng Abah.

“Tidak ada afiliasi ke dalam partai politik apapun.”

Seandainya si sulung Gesang tidak tengah mengajukan diri sebagai calon bupati di kota sebelah, permintaan Galih tidak akan menjadi sepolemik ini. Gesang bahkan sudah secara resmi meminta dukungan dari pondok pesantren ini. Perhitungan politik yang matang, pesantren modern ini cukup terkenal seantero negeri dengan lebih dari 500 mahasantri yang telah dipilih secara ketat melalui sekrangkaian proses seleksi. Maka, modal sosial berpa kepercayaan seharusnya sudah berada di kantong Gesang. Sayap bisnis mulai dikembangkan sejak lima tahun lalu, sejumlah peternakan sapi, pelatihan memanah, berkuda dan berenang, stasiun televisi swasta islam serta beberapa gerai ritel modern. Dari core-core bisnis inilah aktivitas pendanaan berjalan dengan sangat lancar. 5

Berselang tiga orang dari tempat Galih duduk, Ustadz Haris mencoba mengangkat tangannya, hendaknmengajukan banding tapi Abah cepat melarang. 1

“Itu hakmu .” Abah berkomentar pendek, bukan ketus, tapi terkesan menyerah.

Syuro selesai, secara resmi Galih sudah membuat keputusan. Ia kembali ke rumahnya, meninggalkan ibukota dan semua yang telah dimulainya di sana. Abah memang sudah berkali-kali memintanya kembali atau setidaknya resign dari sebuah lembaga transaksi pasar uang. Syubhat, begitu alasan Abah. Keputusan Gesang sepertinya telah membuat efek domino bagi kepulangan Galih ke pesantren. Tidak hanya lega Galih kembali ke sisinya, lebih lega adalah karena Abah melihat Galih benar-benar keluar dari tempatnya bekerja.

Setengah jam dari syuro, Galih kembali ke kamarnya dan mendapati Ajeng tengah duduk di kursi menghadapi meja kerjanya. Potongan-potongan video terpampang di layar komputer, menunggu untuk digabungkan.

“Kamu masih di sini?” tanya Galih sambil membuka kemejanya, menggantinya dengan kaos dan celana pendek lalu rebahan di tempat tidur. Tangan kananya memeriksa ponsel.

“Eh Mas Galih kok ngga ketuk pintu dulu.” protes Ajeng.

“Ini kan kamarku, Ajeng.” Jawabnya malas. Ajeng terkekeh lalu kembali bekerja. Galih meliriknya sekilas.

Tunggu!

Pause di adegan sebelumnya coba!” Galih bersingsut, mendekat ke mejanya. Kening Ajeng terlipat, heran, tapi tangannya tetap menekan tombol pause.

“Siapa sih?”

“Zoom!”

“Apa sih, Mas?”

Galih tidak menanggapi sampai sebuah adegan terlihat jelas. Seorang perempuan tertangkap handycam -nya, bukan benar-benar bagian dari film itu.

“Sekar?” entahlah, Galih tidak tau bertanya pada siapa sebenarnya.

“Oh, Mba Sekar. Mas Galih kenal?” tanya Ajeng mulai paham.

“Kamu kenal?” kejar Galih.

“Pernah tau, kakak angkatanku. Kalau ngga salah ambil master di fakultasku juga. Mas Galih kenal?” Ajeng penasaran. Lelaki itu menggeleng.

“Lha terus?” Ajeng malas lalu mulai meneruskan mengedit filmnya, “Ngomong-ngomong Mas Gesang dan Mba Sarah di sini lho.”

**

Kedua lelaki itu berdiri di balkon lantai tiga rumah utama, menatapi aktivitas pesantren yang berjalan sesuai jadwal. Sekelompok mahasantri belajar memanah di sebuah lapangan luas di sisi utara, sementara sekelompok lain terlihat berkumpul di depan istal kuda. Ashar sudah lama berlalu, tapi maghrib belu lagi menjemput. Galih melipat tangannya di dada, enggan memulai pembicaraan terlebih dahulu.

“Abah sudah menyampaikan padaku hasil syuro tadi siang.” Pancing Gesang. Kedua tangannya bertumpu pada besi pembats balkon. Lelaki itu menatap titik yang sama dengan apa yang dilihat Galih. 1

“Aku memahaminya.” Lanjut Gesang kemudian “benar kata Abah, itu hakmu sebagai pimpinan pondok pesantren ini. “

Galih kali ini menoleh, menatap lekat pada wajah kakak laki-lakinya. Kakak yang berubah begitu menyebalkan ketika mereka sama-sama tahu bahwa perempuan yang sama berada di antara mereka berdua. Ujungnya, Gesang menjadi dua kali lebih menyebalkan saat melepaskan perempuan itu begitu saja. Demi nasab, demi aliran darah yang bagi Abah adalah sesuatu yang amat penting, Gesang memilih mundur dan tidak memperjuangkan perempuan itu kembali.

“Tapi bukan berarti kamu tidak memaafkanku, kan?” Gesang menyelidik. Galih bergeming.

“Aku hanya masih heran bagaimana bisa kau melepaskannya begitu saja.” gumam Galih.

“Itu sudah lama berlalu, Galih…” rintih Gesang. Galih tersenyum satir.

“Bagiku, kejadian itu selalu baru kemarin.” Galih memutar tubuhnya, berlalu menjauhi Gesang.

Selalu itu terdengar intimidatif bagi Gesang.

“Aku akan meminta Abah untuk membiarkanmu memilihnya.” Lantang suara Gesang membuat Galih mengunci langkahnya. Ngilu, ia memejamkan matanya sesaat. Baginya solusi dari Gesang sama sekali tidak berguna. Semuanya sudah terlambat.

 Beberapa saat kemudian Galih melangkah menuju tangga turun.

Tags: #Cinta

author
Penulis: 
Cerpenis asal Jonggol
Cerbung: Bingkai Cerita Cinta
Prolog Kayla Siang itu sedikit berbeda daripada
Cerpen Patah Hati: Kau dan dia, saya serta beliau
Judul cerpen kau dan dia, saya serta
Cerpen Cinta Romantis: Day by Day
Judul cerpen day by day (ketika balik
Cerpen Patah Hati – Yume Monogatari
Cerpen jepang РCerpen buatan Sri Yulianti, yang

Tinggalkan pesan "Cerpen Cinta: Semester Cinta"

Baca Juga×

Top