Cerpen Cinta: Semester Cinta

Di Cerpen Cinta 678 views

Awan

Assalamu’alaikum , alurnya loncat-loncat? Hahaha…tenang, nanti juga paham 😀 enjoy it yaa…

“ABC-nya belum rijit.” Sekar menyodorkan portable personal computer berwarna silver miliknya ke meja Rania. Activity Based Costing (ABC) menjadi alokasi pembiayaan yang belum banyak dikuasai oleh mahasiswa tingkat master termasuk Rania. Tak heran ia banyak bertanya pada Sekar yang semester lalu mendapat nilai A untuk mata kuliah Akuntansi Manajerial.

“Kurang apa?” tanya Rania penasaran.

“Ini harus dibuat per item, Ra. Jadi setiap produk teh per kotaknya harus benar-benar dihitung berapa rupiah kebutuhan bahan baku tehnya, berapa curahan tenaga kerjanya, dan sebagainya.” jelas Sekar. Perempuan di depannya mengangguk-angguk lalu mengambil alih pekerjaan. Sekar kembali mengambil personal computer milik Dewa.

“Gimana?” lelaki berkacamata itu mencoba mengoreksi.

Cost reduction bukan berarti kita mengurangi kualitas dan kuantitas lho, Dew.” Terangnya kemudian.

“Maksudnya?”

“Jadi, benar biaya berkurang tapi …”

“Ciyeee foto dulu ah, kayanya ada yang lagi romantis banget. Lagi ngapain sih kalian? Milih rumah? Serius amat…” Wisnu tiba-tiba meloncat ke hadapan mereka berdua. Sekar menjauhkan kepalanya, menghindar dari gerakan Wisnu yang barbar.

“Kalian mau tinggal di mana nantinya?” Wisnu usil, Dewa tergelak.

“Di kota Sekar apa Dewa?” lanjut Wisnu lagi.

“Kita lagi ngerjain tugas, udah deh Mas, diem.” Sekar malas menanggapi lalu berusaha serius kembali. Wisnu, lelaki yang dua tahun lebih tua daripada Sekar itu belum puas menggoda. Kali ini ia berusaha menganggu Dewa.

“Jadi di mana, Dew? Kalian itu serasi banget!”

“Terserah Sekar aja.” Jawab Dewa sok kalem sambil melirik Sekar. Gadis yang hari ini memakai kerudung warna peach itu memutar bola matanya lalu menunjukkan ekspresi ‘apaan sih kamu, Dew’, sedang lelaki itu malah tertawa tanpa dosa.

Dua detik berikutnya Sekar beranjak meninggalkan  partner badmintonnya yang hari ini menjengkelkan itu. Cerita lama kalau Sekar dan Dewa dipasangkan oleh teman-teman sekelas mereka, tapi sepertinya Cuma Sekar yang keberatan, Dewa kelewat santai. Gosip bermula sejak mereka berempat sering main badminton bersama, di lapangan mereka kompak, mungkin kekompakkan itu yang membuat teman-teman sekelas sepakat: mereka cocok! Termasuk jabatan Dewa yang ketua kelas dan Sekar yang bedahara umum, semacam bapak dan ibu negara. Lelucon yang membuat Sekar mual tetapi sukses membuat wajah Dewa tersipu-sipu.

“Eh Sekar kamu belum selesai ngejelasinnya!” teriak Dewa dari kursinya. Sekar menggeleng dan mendengus sebal.

“Udah males.”

Dua detik hening, ramai kemudian. Dewa dan Wisnu kompak tertawa, bahkan Rania yang sedari tadi sibuk bersama Dea ikut-ikutan tertawa. Sekar melenggang ke luar kelas, tugasnya sebenarnya sudah selesai dan hanya tinggal menggabungkan tugas yang sudah dia bagi ke teman-teman sekelompoknya. Ia berjalan menuju ke sebalik rest room di lantai dua.

 Ada sebuah balkon kecil yang tepat menghadap ke gazebo fakultas. Ia bergeming, menatap ke keramaian di bawah sana. Seorang mahasiswa berorasi di tengah gazebo dikelilingi mahasiswa-mahasiwa bertopeng dengan foto si orator. Kampanye calon presiden mahasiswa sepertinya. Beberapa tahun lalu, Sekar juga pernah menjadi salah satu timses calon presiden. Sayang sekali, calon yang diusung oleh Partai Lingkaran –partainya waktu itu- kalah. Salah strategi, terlena oleh hasil evaluasi kinerja partai taun sebelumnya. Tiga tahun berturut-turut calon dari Partai Lingkaran selalu berhasil menjadi presiden mahasiswa. Timses lengah, lawannya pandai memanfaatkan kelemahan musuh. Selisih dua puluh tujuh suara, tipis. Tidak ada gema kemenangan malam itu, semua simpatisan partai dibungkam oleh keadaan dan kenyataan. Yang paling menyedihkan, tidak ada gema takbir kemenangan, gema yang selalu terdengar hingar tiga tahun terakhir. 2

“Kampanye?” sebuah suara membuatnya menoleh. Zaky berdiri di sampingnya, berselang dua langkah. Sekar mengangguk.

“Jadi inget waktu muda ya.” Kata Sekar. Ia berusaha tidak membahas pembicaraan Jumat lalu ataupun mengungkit-ungkit masalah rencana pernikahan Zaky.

“Kamu sekarang juga masih muda Sekar, aku yang selalu tiga tahun lebih tua daripada kamu.” Zaky menanggapi sambil tersenyum.

Sekar tertawa lalu kembali fokus mendengarkan visi dan misi orator di bawah sana.

“Mau lulus kapan rencananya?” Zaky membuka suara lagi.

Sekar terlihat berpikir, “Maksimal dua tahun deh. Udah mulai nyiapin bahan tesis.”

Hening lagi.

“Kalau kamu?” Sekar menyelidik.

“Sama sih, cuma aku ngga yakin.”

“Kenapa?”

“Perusahaan sedang membutuhkan banyak tenaga. Aku harus sering kembali ke kotaku. Ditambah persiapan pernikahanku, sedikit kompleks.” terang Zaky.

Sekar membulatkan bibirnya, membentuk ‘O’.

“Setelah lulus rencananya mau gimana? Ambil doktoral langsung?” tanya Zaky lagi.

Sekar meloloskan satu napas berat, ” Syarat doktoral dari ibuku adalah nikah dulu, Za.” jeda. Zaky tidak bernapas di sampingnya, “Ada ide nggak?”

Oke, satu kalimat itu membuat Zaky benar-benar sesak sekarang. Bagaimanapun dia harus menerima kenyataan bahwa semua orang akan menikah dengan jodohnya masing-masing, termasuk dia dengan Tia serta Sekar dengan seseorang yang belum diketahuinya.

Please, jangan Dewa.” gumam Zaky nyaris tak terdengar tapi mampu direkam oleh otak Sekar dengan sangat baik. Sekar menoleh, tersenyum, jenis senyum yang sulit diartikan. Tiba-tiba ada sekelompok awan yang menggantung di hati seseorang, Zaky.

Tags: #Cinta

author
Penulis: 
Cerpenis asal Jonggol
Cerbung: Bingkai Cerita Cinta
Prolog Kayla Siang itu sedikit berbeda daripada
Cerpen Patah Hati: Kau dan dia, saya serta beliau
Judul cerpen kau dan dia, saya serta
Cerpen Cinta Romantis: Day by Day
Judul cerpen day by day (ketika balik
Cerpen Patah Hati – Yume Monogatari
Cerpen jepang – Cerpen buatan Sri Yulianti, yang

Tinggalkan pesan "Cerpen Cinta: Semester Cinta"

Baca Juga×

Top