Cerpen Cinta: Semester Cinta

Di Cerpen Cinta 676 views

Udara

“Ngopi file yang kemarin dong Mas.” Ajeng mendorong pintu kamar Galih. Galih yang sedang memunggungi pintu berseru kaget. Dia baru saja pulang dari masjid selepas shalat Jum’at.

“Ketuk pintu dulu dong, Jeng! Kalau aku lagi ngapa-ngapain gimana coba!” protesnya pada kelakuan Ajeng. Gadis itu Cuma nyengir kuda.

“Lagi ngapain misalnya, Mas?” kerling Ajeng usil lalu menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.

“Tau deh! Kamu kok ngga memanah?”

Ajeng menggeleng cepat, “Ngapain sih Abah nyuruh aku rajin-rajin panahan? Yang mau dipanah aja belum ada.” Jawabnya ringan lalu mengangsurkan hardisk eksternal ke tangan Galih. 1

“Ciyeee….jomblo ciyeee…” ledek Galih kemudian sembari mengeluarkan handycam dari wadahnya. Lepas wisuda kemarin, dia belum memindahkan video yang direkamnya hari itu.

“Kaya situ engga aja.” Potong Ajeng cepat. Keduanya tergelak bersama.

“Mas Galih ngga ikut kampanye Mas Gesang?” tanya Ajeng ingin tahu. Tumben, biasanya Ajeng tidak peduli pada urusan yang satu itu. Sekalipun Ajeng tidak menyuarakan ketidaksetujuannya pada keputusan Gesang untuk maju secara independen pada pemilihan bupati di kabupaten tempat Gesang tinggal, gadis itu juga kentara menunjukkan ketidakpeduliannya pada urusan politis.

“Temen-temen Mas Gesang udah banyak, aku mau fokus mikirin pesantren saja.” Jawab Galih kalem. Gesang. Anak sulung di keluarga Abdurahman, keluarga yang turun temurun mengelola pesantren yang kini telah berkembang menjadi pesantren modern terbesar di kota ini, memilih untuk bergabung dalam kontetasi bursa politis. Selepas menikah dengan Sarah setahun lalu, seorang perempuan dari sebuah keluarga dengan background politik yang sangat kentara, sepertinya Gesang banyak berprogres kalau terlampau sulit dikatakan berubah. Ayah mertua Gesang adalah seorang petinggi partai politik, meskipun parpol mereka mengaku berlandaskan syariat Islam, Ajeng dan Galih sama sekali tidak berminat bergabung.

Pernikahan Gesang dan Sarah sempat membuat Galih kecewa tentu saja. Bukan, bukan pilihannya pada Sarah yang membuatnya kecewa, tapi Galih merasa pengorbanannya sia-sia.

Perbedaan Usia Galih dan Gesang tidak terlampau jauh hanya sekitar dua tahun atau kurang. Itu pula yang membuat keduanya tumbuh bersama, sering berada di sekolah yang sama, memiliki hobi yang nyaris sama, termasuk menyukai satu perempuan yang sama.

Ajeng bangkit dari posisinya dan menghampiri Galih. Dia berdiri di belakang Galih yang duduk di kursi menghadapi personal computer. Terlihat lembar-lembar kopian melayang-layang di layar.

“Mas Galih udah setuju pindah ke sini?” tanya Ajeng berhati-hati. Galih tidak menjawab. Setuju atau tidak dia tidak pernah diberikan pilihan itu.

“Kasihan Abah, ngga ada yang bantu.” Diplomatis, jawaban Galih tidak membutuhkan sanggahan sebenarnya. Hening. Suara detak jarum jam di kamar itu terlihat jelas.

“Hm…Mas.”

“Ya?” Galih menoleh pada adik perempuannya.

“Mas Galih ngga pengen tau kabar Mba Rania?” ujar Ajeng takut-takut. Gadis itu bisa menangkap perubahan air muka Galih.

“Aku ada syuro dengan Ustadz Hasan. Kamu terusin sendiri ngopinya.” Galih meraih ponselnya di atas meja, lalu keluar dari kamar. Di tempatnya, Ajeng menelan ludah berat.

Salah.

Dia sudah mengajukan pertanyaan yang salah untuk masnya.

**

“Prasastia Humaira Husain.” Zaky menyodorkan ponselnya. Pada layar, tergambar seorang perempuan berjilbab model masa kini. Manis, hidungnya mancung. Sekar minder sendiri melihatnya.

“Dia tegas. Dewasa dan disiplin.” Terang Zaky kemudian sambil tersenyum. Sekar belum memberikan tanggapan.

Dari dulu selera kamu kan begitu.

“Aku merasa menemukan apa yang kucari setelah bertemu dengannya. Dia anak dari teman mamaku. Beberapa kali pernah ke rumah, tapi aku baru menyadari perasaanku kepadanya akhir-akhir ini.”

“Oh. Masih kuliah?” tanya Sekar seadanya. Zaky mengangguk.

“Sedang skripsi, insya Allah tiga bulan lagi wisuda.”

Sekar mengangguk-angguk sok paham. Padahal dia tidak ingin tau sama sekali.

Kamu ngga tanya kenapa aku milih dia?

Mata itu menunduk, memperhatikan lagi gambar di depannya dengan saksama.

Karena dia mirip aku kan?

Mereka bertatapan beberapa detik, lalu keduanya mengarahkan pandang ke jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan dari lantai lima perpustakaan pusat.

“Sekar.” Panggil Zaky kemudian. Percakapan yang tak terungkapkan itu buyar. Gadis itu mmutar kepalanya, berusaha fokus pada kalimat Zaky.

“Kita akan tetap bersahabat, kan? Saat kamu sudah menikah nanti, kita akan tetap saling mengunjungi. Anak-anak kita berteman, kita masih saling berkomunikasi. Bukan begitu Sekar?” kejar Zaky.

Sekar tersenyum tipis, separuh luka separuh hampa. 1

“Tentu saja.” Sahutnya pendek. Udara di sekelilingnya berangsur mendingin. Hujan turun perlahan di luar sana.

Begitu hujan.

Begitu luka.

Lalu doa apa saja yang hendak kau langitkan?

Tags: #Cinta

author
Penulis: 
Cerpenis asal Jonggol
Cerbung: Bingkai Cerita Cinta
Prolog Kayla Siang itu sedikit berbeda daripada
Cerpen Patah Hati: Kau dan dia, saya serta beliau
Judul cerpen kau dan dia, saya serta
Cerpen Cinta Romantis: Day by Day
Judul cerpen day by day (ketika balik
Cerpen Patah Hati – Yume Monogatari
Cerpen jepang – Cerpen buatan┬áSri Yulianti, yang

Tinggalkan pesan "Cerpen Cinta: Semester Cinta"

Baca Juga×

Top