Cerpen Cinta: Semester Cinta

Di Cerpen Cinta 677 views

MATAHARI

Set terakhir di lapangan tiga.

“Ya ampun, De. Masih punya aja serve kaya gitu.” Sekar tertawa lalu memungut bola yang jatuh di tepi lapangan. Servis Dea kali ini buruk, padahal mereka sudah menjadi tim ganda campuran sejak satu tahun lalu. Hanya tim biasa, bukan tim yang sudah bermain di banyak turnamen, mereka berempat Dea, Wisnu, Dewa dan Sekar rutin bermain badminton setiap Jumat pagi di gelanggang kampus. Kadang, mereka berempat pergi bersama menonton pertandingan badminton yang lebih besar selevel challenge di GOR kota. 1

Sekar menyerahkan bola pada Dewa, partnernya, giliran Dewa servis ke arah Dea. Servis manis. Beberapa pukulan setelahnya set ketiga benar-benar berakhir, keempat orang itu menepi. Jadwal sewa lapangan sudah habis. Sekar meraih botol air mineralnya lalu duduk selonjoran di tepi lapangan sambil sesekali menimpali candaan Wisnu.

Di sisi lapangan yang lain seseorang mengamati mereka, bukan, bukan seluruhnya. Lebih tepatnya memperhatikan seorang perempuan dengan jilbab lebar dan rok celana, Sekar. Unik. Ini hari pertamanya datang ke gelanggang olahraga kampus setelah lima tahun meninggalkan kota ini dan dia sudah menemukan sesuatu yang menarik. Berbeda dengan tim lain, perempuan itu tidak mengenakan baju ketat atau jilbab lilit untuk memudahkan pergerakan tangan memukul bola. Begitu juga celana, perempuan di ujung sana tidak menggunakan celana, melainkan rok-celana. Sedetil itu ujung matanya menguliti sosok yang tidak dikenalnya.  5

“Galih! Ngelamun aja woi.” Adit menyenggol bahu Galih dengan ujung raket. Galih beringsut, menghindari tatapan mata bertanya ‘siapa sih’ dari Adit. 1

“Jadi gimana, lumayan kan ke sini, banyak pemandangan yang oke.” Gurau Adit kemudian sambil mengikat tali sepatunya. Galih menyeringai lalu memilih bola dan mencobanya. 1

“Sering ke sini, Dit?” tanya Galih. Tangan kirinya menimang bola yang menurutnya nyaman. 1

“Lumayan. Aku kan member.” Jelas Adit. Member berarti bahwa Adit rutin menyewa lapangan satu setiap hari Jumat pagi pukul delapan hingga sepuluh.

“Oh.”

“Kenapa? Kalau kamu mau kamu bisa ikut timku, ya setiap hari Jumat begini ini.” Terangnya. Adit melompat-lompat pemanasan.

“Tau ngga mereka siapa?” Galih justru menanyakan hal lain.

Adit menoleh ke arah tatap mata Galih lalu menemukan empat orang yang tengah sibuk mengobrol. Entahlah mereka membicarakan apa, sedikit yang bisa ditangkap tentang kuliah, dosen, jurnal, dan tesis. Mereka membicarakan tugas kuliah di lapangan badminton? Adit menggeleng cepat.

“Ngga tau, mereka member paling pagi. Sering liat mereka sih, tapi ngga tau siapa. Err..cowo itu mainnya keren juga tadi, ajak lawan kita yuk?” respon Adit lumayan berlebihan tapi tidak cukup meyakinkan Galih bahwa Adit tidak ingin tau pada seseorang yang diperhatikannya beberapa saat lalu.

“Boleh.” Galih sepakat. Tidak sampai hitungan ketiga, Adit melesat ke lapangan tiga, mengajak Wisnu dan Dewa menjadi lawan olahraganya hari ini. Sepertinya kedua orang itu sepakat, kali ini Wisnu dan Dewa membawa raket masing-masing, berjalan ke lapangan satu. Perkenalan singkat sebelum bermain, paling tidak mereka tau nama lawan mereka. Permainan hampir dimulai ketika dua orang perempuan menginterupsi.

“Nu, aku sama Sekar balik dulu ya. Nanti kamu ngampus kan?” seseorang berteriak dari tepi lapangan. Wisnu menunjukkan ibu jarinya, pertanda setuju entah untuk pernyataan atau pertanyaan yang diajukan atau untuk keduanya.

Sekar.

Namanya Sekar. Batin Galih mulai menghafal.

**

“Sekar, tadi Zaky nyari kamu.”

Gadis itu berhenti sebentar, menahan napas, lalu meletakkan tas punggungnya di kursi. Tidak ada kuliah di hari Jumat sebenarnya tapi mahasiswa tingkat pasca sarjana itu biasanya menggunakan hari Jumat sebagai hari mengerjakan tugas sedunia. Mereka tetap ke kampus untuk diskusi mandiri atau menyelesaikan pekerjaan kelompok seperti hari ini. Seusai olahraga tadi, Sekar segera membersihkan diri dan menuju kampus.

“Oh ya? Ada apa katanya Ra?” Sekar menyembunyikan kegugupannya. Zaky? Mencariku?

“Ngga tau tuh.”

“Terus sekarang Zaky di mana?” kejar Sekar pada Rania. Perempuan itu berhenti menulis.

“Di ruang belajar mungkin.” Tebaknya.

“Oke, aku pergi dulu ya Ra. Nitip tas. Kamu ngga ke mana-mana kan?”

Rania mengangguk kecil sedangkan Sekar menghilang dari kelas. Langkahnya menuju ke sayap barat lantai dua gedung magister, ke sebuah ruangan yang tak seberapa besar dengan lapisan karpet berwarna biru empuk di lantainya. Mahasiswa biasanya menggunakan ruangan ini untuk membaca, sekadar surfing di dunia maya, atau melakukan pertemuan-pertemuan kecil. Sekar menemukan sepatu Zaky terparkir rapi di rak sepatu di depan ruang belajar itu artinya tebakan Rania benar.

“Zaky.” Panggilnya. Lelaki itu menoleh ke arah pintu, tersenyum.

Matahari.  Ada sudut yang tiba-tiba menyala.

“Assalamu’alaikum, Sekar.”

“Wa’alaikumsaalam.” Jawab Sekar pendek. Hening sebentar.

“Jadi bagaimana persiapan pernikahanmu, Za?” Sekar bertanya. Wajahnya terlihat ingin tau, tapi tidak dengan tatap matanya. Zaky tersenyum lagi.

“Lima puluh persen. Kami sudah sepakat dengan konsepnya. Kami memakai jasa wedding organizer kenalan Abiku. Beberapa hal yang memang sangat prinsip sih, salah satunya adalah kami tidak duduk bersebelahan pada saat akad. Oya, kamu bisa memilih untuk datang ke kotaku atau kota Tia. Ada dua acara dan kamu kuundang di keduanya. Hm, mungkin Tia akan banyak membutuhkan pertolonganmu. Ya aku tau kalian belum saling kenal, tapi aku yakin kalian akan cepat dekat. Lusa dia ke sini, aku kenalkan ya?.”

Sepi. Zaky berbicara dengan banyak kalimat. Sekar tidak menyimak, tatap matanya kosong, entah apa yang melayang di otaknya.

“Kamu mendengarku, Sekar?”

Sekar mengangguk gamang.

“Jadi kamu akan datang yang mana?”

Sekar kebingungan. Dia benar-benar tidak menangkap kalimat panjang Zaky.

“Acaranya di mana?” gadis itu bertanya dengan intonasi yang sangat datar. Lelaki di depannya terdiam, membaca keadaan.

“Sekar, setelah juma’atan aku mau kita ketemu di perpustakaan.” Putus Zaky kemudian lalu meninggalkan gadis itu sendirian.

Tags: #Cinta

author
Penulis: 
Cerpenis asal Jonggol
Cerbung: Bingkai Cerita Cinta
Prolog Kayla Siang itu sedikit berbeda daripada
Cerpen Patah Hati: Kau dan dia, saya serta beliau
Judul cerpen kau dan dia, saya serta
Cerpen Cinta Romantis: Day by Day
Judul cerpen day by day (ketika balik
Cerpen Patah Hati – Yume Monogatari
Cerpen jepang – Cerpen buatan Sri Yulianti, yang

Tinggalkan pesan "Cerpen Cinta: Semester Cinta"

Baca Juga×

Top