Cerpen Cinta: Semester Cinta

Di Cerpen Cinta 673 views

Cerpen non fiksi (nyata) tentang cinta yang dibuat oleh azizi, semoga cerita ini menarik untuk dibaca kalian. Semoga menyenangkan yaa.

Semester Cinta

oleh : Azizi (https://www.facebook.com/1782129157)

#Galih

Aku mengarahkan handycam-ku pada Ajeng, tangan kananku berusaha menghalau lalu lalang orang-orang yang bertebaran di gazebo kampus Agroteknologi sambil sesekali tersenyum melihat preview dalam kamera. Ajeng, adik perempuanku terlihat dominan dalam rekaman, senyumnya merekah sepanjang siang, merayakan gelar sarjananya. Abah dan Ummi memilih sudut lain gazebo, duduk sembari memegangi buket bunga dari teman-teman Ajeng. Hm, rupanya adikku banyak fans juga.

“Ajeng, kenalin dong temen-temennya siapa aja.” Pintaku masih tetap fokus padanya. Ajeng merengut.

“Mas Galih modus nih!”

Aku tertawa, “Ayo, Jeng, ini kamu keliatan cantik banget sekarang.” Rayuku. Ajeng mulai bercuap-cuap. Aku sudah tidak peduli siapa nama-nama teman-teman Ajeng, toh nanti bisa di re-run bukan di rumah? Sekarang lebih baik mengambil gambar terbaik sebelum digetok Ajeng dengan gagang sapu gara-gara dia terlihat kurang pas. Kurang pas di sini bisa berarti bermacam-macam: pipiku kok tembebm, Mas? Harusnya Mas Galih ambil gambarnya dari barat, aku kan jadi item. Yah foto yang ini kok ngeblur? Bla bla bla.

“Halaaaahhh….” seorang perempuan bergamis lewat di depanku, sembarangan sekali dia. Terlihat terburu-buru tapi sadarkah dia mengacaukan filmku? Sepertinya dia bukan teman Ajeng, karena nyatanya dia tidak memanggilnya. Aku kembali bekerja.

“Mas Galih arahin kameranya ke sini.” Ajeng sudah merangkul leherku, mencekik lebih tepatnya.

“Ish, Ajeng patah leher Berbie tau!” rutukku.

“Halooo…aku Ajeng Pertiwi, ini kakakku tercincaku, Galih. Senyum lah, Mas.” Dia menarik pipku. Benar-benar tidak sopan, padahal aku lima tahun lebih tua darinya. 1

“Dia jauh-jauh dateng dari Jakarta, bolos kerja demi dateng ke wisudaku, so sweet ngga sih dia?” perempuan ini masih bermonolog di depan kamera. Aku memutar mata jengah.

“Tapi kabarnya bulan depan dia mau balik ke Jogja, dia sudah memutuskan resign dari perusahaannya dan tinggal di rumah. Ya kan?”

Aisshhh…siapa bilang? Kenapa pula hari ini dia mengungkit urusan pindah dari Jakarta ke Jogja hari ini? Itu sebenarnya wacana dari Abah, mengingat Gesang kakak pertamaku resmi menjadi calonwalikota di sebuah kota di luar kota ini. Dan, menurutku Gesang sediki semaunya sendiri, tiba-tiba melepas tanggung jawab dari mengurus pesantren Abah dan menjadi cawalkot! Lalu akulah yang menerima tongkat estafet itu meski setengah hati.

“Ya kan?”

Yaelah, ini bocah maksa banget!

Aku mengangguk kecil. Sebenarnya aku cukup malas untuk kembali ke kota ini meskipun konon katanya kota ini terbuat dari kerinduan. Selain keluargaku, satu-satunya orang yang membuatku kembali adalah tentang Rania.

#Sekar

“Dari manaaa?” teriak sebuah suara.

“Hah, aku abis shalat, ada apa emang?” tanyaku lalu memasukkan mukenaku ke dalam tas dan kembali duduk di depan personal computerku.

“Besok bisa main kan?” seseorang di sampingku bertanya, meski tanpa menatapku.

“Jam?” aku sudah menangkap ajakannya, main berarti main badminton di gelanggang olahraga kampus.

“Biasa, ada gratisan sewa lapangan, lumayan kan.” Katanya kemudian. Aku tertawa, Dea, semua tentang gratis pasti cepat direspon. Aku melanjutkan pekerjaanku, menginput ribuan data ke dalam lembar excel.

“Lama banget kamu shalatnya.” Celoteh Dea beberapa saat kemudian, ” Kamu ngga shalat tarawih 11 rakaat kan tadi?”

Aku tertawa lagi sebelum menjawab, “Iya tadi di gazebo rame banget, ada anak-anak wisuda sarjana, jadi macet gitu.” Kilahku, padahal aku tadi memang sengaja berlama-lama berhenti di gazebo untuk berfoto bersama teman-teman seangkatanku di jenjang sarjana yang baru saja diwisuda hari ini. Sebenarnya aku bisa saja memilih shalat di gedung ini, tanpa meleewati gazebo tentu saja, tapi aku memilih shalat di gedung lain demi menyempatkan diri bertemu dengan teman-temanku. Aku lulus relatif lebih cepat dari mereka yang wisuda sekarang dan melanjutkan kuliahku di program magister di fakultas yang sama.

“Ih cakep-cakep ngga?” tanya Dea antusias.

“Masih kecil kali, De…”

Dea manyun lalu kembali menekuri layar komputernya.

“Eh tadi aku liat Zaky!” lirihnya di telingaku. Mataku membulat.

“Sungguh?” demi mendengar jawaban Dea, sepertinya ada sesuatu yang nyaris meloncat dari dalam dadaku.

“Dia ngga bilang kamu dia udah selesai penelitian dan udah kembali?” Dea tidak percaya. Aku menggeleng.

“Iya, tapi aku ngga sempat menyapa, dia masuk ke ruang direktur!”

Aku menelan ludah, Zaky sudah kembali.

Dan dia tidak memberitauku.

Bukannya dulu dia yang memintaku bertemu secepatnya selepas dia kembali?

“Oh.” Aku berusaha mentralisasikan suasana. Kening Dea berkerut.

“Oh?” dia mengkonfirmasi tanggapanku.

“Kamu tau dia akan menikah?”

Aku menelan ludah untuk kedua kalinya, sebenarnya aku tau, aku sangat tau.

Aku menggeleng meski berat, “Kata siapa.” Kataku berpura menyelidik.

“Kata…eh Rania!”

Seseorang baru saja masuk ke ruangan ini, perempuan berwajah puisi: menentramkan, begitu julukan Dewa, ketua kelas kami, pada teman sekelas kami ini.

“Assalamu’alaikum, hei kalian …” sapanya ramah.¬†

Tags: #Cinta

author
Penulis: 
Cerpenis asal Jonggol
Cerbung: Bingkai Cerita Cinta
Prolog Kayla Siang itu sedikit berbeda daripada
Cerpen Patah Hati: Kau dan dia, saya serta beliau
Judul cerpen kau dan dia, saya serta
Cerpen Cinta Romantis: Day by Day
Judul cerpen day by day (ketika balik
Cerpen Patah Hati – Yume Monogatari
Cerpen jepang РCerpen buatan Sri Yulianti, yang

Tinggalkan pesan "Cerpen Cinta: Semester Cinta"

Baca Juga×

Top