Cerbung: Bingkai Cerita Cinta

Di Cerpen Cinta 1458 views

Sehangat Salam,

Hujan Dan Senja

April 2016

Assalamu’alaykum…

Sehangat salam yang kuucapkan pagi ini, kembali aku bersitahan dengan perasaan yang entah kusebut apa.

Aku sedang di kereta saat ini. Berperjalanan menuju rumah. Menuju pulang dan bertemu orang-orang terkasih.

Aku bahagia tentu saja. Tetapi, kereta, perjalanan, dan rumah, walau aku yakin semua orang familiar dengan aktivitas ini, tetapi memoriku hanya bisa mengenangmu. Mengenang apa yang kautulis, atau barangkali kauucapkan lewat tulisan.

Kau tidak asing dengan perjalanan. Semua orang percaya karena kau pemuda tersibuk yang saat ini kukenal. Nusantara kausinggahi hampir separuhnya, dari barat hingga timur. Aku tidak terkejut. Dari kota termetropolitan hingga daerah terpelosok sekalipun.

Tetapi aku penasaran, acapkali sering berpikir, dari semua orang yang kautemui, dari semua kota yang kausinggahi, adakah hatimu telah terpatri?

Adakah dirimu telah memilih, untuk menetap dan membangun bahtera menuju surgawi.

Aku penasaran, hingga terkadang perasaanku terjebak sendiri.

Padamu aku tidak berani berharap. Walau tidak ada yang mustahil di dunia ini, jika Tuhan sudah berkehendak.

Tetapi, memintamu kepada Tuhan sepertinya aku terlalu serakah.

Aku masih mengamini konsep memantaskan diri, walau setiap kali konsep itu kujalankan, aku sering kepayahan. Hampir menyerah, lalu berazam untuk memulai lagi dari awal, semua bergulir demikian hingga rasanya aku menciptakan lingkaran setan.

Lantas, batas kesadaranku hadir, lelaki sebaik dirimu, walau kuharapkan sebanyak apa pun, sebaiknya lebih bersinar dengan perempuan yang sebanding.

Akhirnya aku sampai pada doa-doa yang kulayangkan ke langit, untuk harapan-harapan yang belum terwujud, untukmu, untukmu.

Semoga diberkahi seseorang yang dengannya kaumampu membangun peradaban yang bercahaya dan diridhai.

Untukmu.

Dalam keterdiamanku di kereta saat ini, semoga doaku dapat mengetuk pintu langit, dan semesta turut mengamini.

~Afrazaraa

***

Ada yang bergetar halus dalam hati Kayla. Perasaan tak menentu yang dirasakan pada laki-laki yang bahkan jarang sekali ia temui. Ia hanya pernah bertemu satu kali dalam ketidaksengajaan. Tetapi berkali-kali dalam beranda mayanya. Ia sesekali bahkan mengintip, punya koleksi cerita apa saja laki-laki itu di ‘rumah’nya. Kayla mencuri baca dari layar lima inci ponsel pintarnya. Di era digital, semuanya memang serba mudah. Serba cepat. Dan serba mungkin. Tetapi itu tidak pernah menutupi fakta bahwa semuanya masih semu. Masih abu-abu. Bagi Kayla, mengenal pemuda itu pun begitu.

Kayla tidak pernah benar-benar mengenal laki-laki itu. Dua orang yang dibentang jarak tetapi tampak dekat hanya dari bantuan dunia maya. Semuanya hanya delusi di kepala Kayla. Seberapa pun dia menekan tombol hati di setiap status laki-laki itu, atau memosting ulang lewat akun pribadinya, kenyataannya mereka tidak benar-benar saling mengenal. Kayla sebenarnya tahu itu. Hanya saja, harap di hatinya telah tumbuh tanpa bisa ia kendalikan. Atau sengaja tidak ingin ia hentikan? Perasaannya juga ambigu.

“Jangan sering dilihatin, Kay!” suara halus Naisya menelusup pikirannya. Memecah lamunan dan hening di antara mereka.

Kayla meringis separuh malu karena ketahuan stalking di akun laki-laki yang tadi memenuhi lamunannya. “Sudah pesan?” gadis itu mencoba mengalihkan topik.

Naisya menghela napas. Kecurigaannya semakin tajam, namun ia sendiri berusaha menghentikan rasa penasarannya atas perasaan sahabatnya itu. Segera diambilnya menu yang ada di atas meja. Mereka memang sengaja janjian di sebuah kedai kopi dekat kampus Kayla untuk berdiskusi beberapa hal. Mungkin salah satunya adalah perasaan Kayla, harap gadis itu.

Kayla menuliskan pesanannya, segelas madu lemon dengan mint hangat dan roti bakar. Sedangkan Naisya menginginkan ice cappucino dan pisang bakar. Setelah pelayan berlalu, gadis itu membuka topik lagi.

“Bukunya sudah tamat kamu baca?”

Kayla menggeleng, “ada satu lagi yang belum selesai, Sya. Oh ya, kayaknya dia bakal nerbitin buku baru lagi, deh.”

Naisya mengernyit, setelah beberapa detik ia mengerti. Siapa lagi yang dimaksud kalau bukan Alfa si idola baru itu. Dengan melihat mata Kayla yang berbinar dan membesar saja Naisya bisa memastikannya. “Kamu tahu, yang kumaksud itu buku pernikahan yang dipinjami Mbak Erlin, Kay.”

Ada hening di udara. Lagi-lagi Kayla terpergok tidak fokus. Ia sendiri heran kenapa hari ini ia sangat tidak beruntung. Gadis itu yakin, sahabatnya itu takkan melepaskannya kali ini.

“Kamu mikirin Alfa?”

Kayla menghindar menatap mata Naisya. Ia menjangkau apa saja yang ada di atas meja sebelum pesanan mereka datang demi menghindari pertanyaan sahabatnya itu. Ia menemukan ponsel Naisya yang ada di atasnya. “Kamu ubah pola kata sandinya?”

Naisya yang hampir bosan dengan taktik Kayla menghindar tidak mau menjawab pertanyaan gadis itu. Ia tetap menatapnya. Lurus. Dan tampak menunggu.

“Aku cuma kagum, Sya. Nothing else, oke?”

“Aku bakal percaya gitu aja?”

Kayla memutar bola matanya, pandangannya tak tentu arah karena tentu saja ia takut Naisya menemukan sesuatu yang dia sendiri tidak yakin ia sedang menyembunyikan apa.

“Aku takutnya itu jadi penyakit, Kay! Kamu udah pernah sakit hati, seenggaknya sebelum terlambat, kamu harus lebih hati-hati!”

“Tidak ada terlambat karena aku sama sekali tidak memendam lebih dari itu, Sya. Kamu nggak percaya?”

Naisya berdecak. Ia sangat paham karakter sahabatnya itu. Bertahun-tahun bersahabat dengannya membuatnya mengerti bahasa tubuh Kayla. Bagaimana bisa ia percaya jika gadis di hadapannya itu tampak rikuh dengan pandangan mata tak menentu. Banyak keragu-raguan yang ia tangkap. Banyak tanya yang tak terjelaskan. Dan ia—walau belum bisa dipastikan—menebak ada harap pula. Sahabatnya itu mulai berharap pada laki-laki yang bahkan kehadirannya tidak pernah bersinggungan kecuali sekali saat acara bedah buku itu.

Setelah bepikir beberapa saat, ia mengatakannya walau tak mantap,”kali ini aku memilih percaya, Kay. Please hindari hal-hal yang cuma bikin kamu dekat dengan sakit hati, oke?”

Kayla tersenyum. Ada haru menyelinap di hatinya. Ia tahu sahabatnya itu hanya mengkhawatirkannya. Walau ia tidak bisa berjanji untuk hal-hal yang belum bisa ia pastikan, setidaknya ia ingin memperlihatkan pada Naisya bahwa kekhawatirannya ini tidak akan terjadi. Setidaknya di hadapan gadis berlesung pipi itu.

***

Hampir seratus dua puluh hari sejak hari itu. Ketika siang setengah hujan di sebuah pusat kota mempertemukan Kayla dan pemuda yang kini menjadi inspirasinya. Dalam hal apa pun, Kayla memang hanya menganggap pertemuan dengan pemuda yang sekilas itu adalah sebuah kebetulan menyenangkan. Juga mengantarkannya untuk lebih melakukan kebaikan. Termotivasi, katakanlah begitu.

Tetapi hampir empat bulan tidak bertemu, ternyata tidak membuat Kayla tidak tahu kabar pemuda itu. Baru saja teman sementoringnya, Najwa, mengabarkan sesuatu yang menyenangkan. Tepat saat dia baru selesai menghadiri kuliah yang cukup membosankan. Bukan karena dia tidak menyukainya, tetapi karena dosennya tidak hadir di mata kuliah mahapenting itu. sosio linguistik. Mata kuliah paling sulit yang ingin sekali dikuasai Kayla.

Di luar gedung jurusannya, Kayla segera mengeluarkan ponsel pintarnya. Menyentuh salah satu aplikasi chatting dan membalas obrolan yang sempat terputus sebab ia masih perlu menyelesaikan tugas di perkuliahannya.

Secepat kilat Najwa membalas. Akan ada sebuah seminar lagi yang akan mendatangkan Alfa. Entah di bulan apa. Yang pasti, salah satu forum yang diikuti Najwa sedang merencakannnya. Tak sabar, Kayla menelepon gadis yang usianya terpaut dua tahun itu.

“Benar, Mbak?” di ujung telepon, Kayla tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya.

“Yah, masih direncakan, Kay. Sabarlah, nanti aku kabari lagi. Jangan terlalu semangat loh! Hihihi.” Kayla sudah tidak menyimak sindiran Najwa. Gadis itu tak lepas tersenyum sepanjang telepon, bahkan setelah telepon ditutup pun, air mukanya masih sama.

Bagaimana setelah empat bulan ini? Apakah nanti ada kesempatan untuk lebih mengenal Alfa? Bisakah ia ikut tergabung dalam panitia? Ah, buku! Kayla ingat, bukunya sama sekali belum ditandatangani Alfa. Setelah ini ia tidak perlu berpikir untuk mencari alasan.

Dengan langkah ringan ia menuju parkiran untuk mengambil motor maticnya. Ada beberapa rencana yang ingin ia tulis dalam agendanya. Beberapa ide di dalam kepala sudah meletup-letup untuk segera dituangkan. Sayangnya ia tidak membawa laptop hari ini di kampus, jadi lebih baik ia segera pulang dan mulai menyusun.

Melewati perpustakaan Kayla akan sampai pada parkiran di samping gedung pertama favoritnya sampai ia mendengar namanya dipanggil dari seberang. Awalnya suara itu hanya sayup yang tenggelam diterpa angin, tetapi setelah beberapa saat gelombang membawanya sampai pada gendang telinganya.

Kayla menoleh ke belakang, mendapati sesosok yang tak pernah ia sangka akan bertemu di kampusnya.

“Kay! Baru selesai kuliah?”

Bukannya Mas Lucky bukan alumni sini?

Isi kepalanya tidak lebih cepat dari sapaan pemuda itu. Kayla mengangguk seadanya. Dengan nada tidak begitu berminat namun berusaha ingin menjaga kesopanan dia pamit untuk pulang. Meneruskan tujuannya menuju parkiran.

“Duluan ya mas, Assalamu’alaikum!”

Dahi Lucky mengernyit, ia merasa Kayla menghindarinya. Tetapi untuk alasan apa?

“Kok buru-buru? Nggak pengen negajak ngopi dulu nih? Mumpung aku di kampusmu!” jelas ini hanya basa-basi, pikir Kayla.

“Sejak kapan kita akrab sampai harus ngopi segala?” nada sakartis gadis itu muncul. Ia masih jengkel karena ledekan Lucky di suatu hari yang lalu. Saat mereka ada agenda tunjuk karya di komunitas klub pecinta buku, agenda baru di komunitas itu.

Renyah tawa Lucky lepas di udara. Membuat gadis itu makin keki dengan pemuda di hadapannya. “Kamu nggak usah sok jutek gitulah, Kay! Aku ada salah nih, sampai dijutekin?”

“Nggak sadar?” Kayla sudah melanjutkan langkah. Sayangnya Lucky masih mengejarnya, dalam arti sebenarnya sekaligus karena ledekan pemuda itu tak diacuhkan Kayla.

“Kamu beneran ngefans sama Alfa?”

Seperti guntur, suara Lucky kali ini meledak sekaligus menghentikan langkah buru-buru Kayla. Hatinya berdegup beralasan dan tatapannya gelisah. Bagaimana orang ini tahu?

Tahu dari mana dia?

“Hahahaha, lupa? Di grup. Aku bisa ingetin kalau lupa.” Pemuda itu sudah tersenyum mengejek. Lalu dengan langkah tenang, dia melambai dan pamit, “Aku sempat kenalan sama Alfa, Kay, beberapa bulan lalu, waktu ngisi acara di Jakarta. Kalau kamu pengen kenalan, bilang aja. Hahaha. Udah dulu, yak! Assalamu’alaikum!” sambungnya, kemudian berlalu entah ke mana.

Kayla masih mematung sampai beberapa detik, kemudian pikirannya berputar pada kejadian yang dimaksud Lucky. Jika dia bilang grup, pasti grup chatting!

Astaga! Bego banget sih!

Sudah pasti waktu mereka membahas Alfa. Ya tentu saja saat itu, Syanaz dengan ceroboh bilang di grup kalau Kayla mau ikutan grup pengagum Alfa! Kenapa juga dia sampai lupa tragedi itu? Ah, kalau begini dia tidak bisa langsung pulang. Setidaknya dia harus bertemu dengan Syanaz terlebih dahulu.

Demi apa pun, jika Lucky sudah sampai begitu, pasti rumor yang menyebar lebih gawat daripada yang ia bayangkan.

***

.

.

.

.

.

.

.

Incoming search terms:

  • kumpulan cerpen dewasa
  • kumpulan cerpen cinta segitiga sedih
  • kumpulan cerpen terkenal 5 halaman
  • cerpen jepang romantis
  • Cerpen Morchris horror
  • cerpen cerita cinta
  • download cerpen bingkai cinta
  • gambar bingkai kepemudaan
  • kumpulan cerbung indonesia
  • Cerita pendek tentang hijrah

Tags: #cerbung #Cinta #hijrah #melankolis

author
Penulis: 
    Cerpen Cinta: Semester Cinta
    Cerpen non fiksi (nyata) tentang cinta yang
    Cerpen Patah Hati: Kau dan dia, saya serta beliau
    Judul cerpen kau dan dia, saya serta
    Cerpen Cinta Romantis: Day by Day
    Judul cerpen day by day (ketika balik
    Cerpen Patah Hati – Yume Monogatari
    Cerpen jepang – Cerpen buatan Sri Yulianti, yang

    Tinggalkan pesan "Cerbung: Bingkai Cerita Cinta"

    Baca Juga×

    Top