Cerbung: Bingkai Cerita Cinta

Di Cerpen Cinta 1457 views

Benih-Benih Rasa

“Untuk dapat dimuat di media nasional memang perlu jam terbang menulis yang tinggi. Yang terpenting adalah jangan berhenti saat sudah mulai menulis. Begitu saja pesan dari saya, semoga bermanfaat. Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wabarakatuh.”

“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wa barakatuh!”

Kayla mengemasi beberapa alat tulis dan beberapa novel yang tadi sempat ia bawa untuk pertemuan Klub Pecinta Buku atau yang sering disingkat dengan KPB usai menjawab salam. Tadi KPB memang mendatangkan seorang penulis yang karyanya sudah sering muncul di beberapa media nasional di sebuah kedai literasi kawasan kampusnya. Berbakat. Itu yang Kayla pikirkan. Meksipun begitu, Kayla masih belum tertarik untuk mencoba peruntungan mengirim cerpen di media. Ada rasa kurang percaya diri yang tak mampu ia atasi.

Mimpi saja tulisanmu nongol di media, Kay! Kamu nggak sehebat Alfa.

Sisi sensitifnya muncul ketika banyak orang yang menyarankan hal itu. Ia sadar diri kemampuan menulisnya belum sebaik narasumber yang memberikan materi. Apalagi Alfa.

“Hei! Ngelamun aja ini bocah!”

Kayla terlonjak dan mendesis istigfar saat suara lantang itu menginterupsi pikirannya. Pemuda yang hobi sekali meledeknya entah di dunia nyata atau maya. Senior di KPB yang sering mengerjainya tapi juga partner saing yang pas untuk menulis dan membaca buku.

“Mas Lucky apaan sih? Bikin kaget!” Kayla sudah protes tanpa melihat di sekitarnya masih ramai.

Pemuda di hadapannya itu terbahak tak sungkan. Beberapa novel Kayla yang berserakan ia ambil salah satunya. Ia baca judulnya dan baru menyadari bahwa itu bukan novel, tapi buku tema pernikahan karangan Al Ustadz terkenal.

“Mau nikah? Sumpah?” seloroh pemuda bernama Lucky. Ia masih membolak-balik tiap halaman dan membuka tutup buku itu. Seakan-akan memastikan bahwa dia tidak salah membaca judul.

“Balikin deh! Nggak usah kepo.” Kayla merebut paksa buku yang dipinjamkan untuknya. Ia selalu membawa buku itu ke mana-mana meskipun berat buku itu lumayan juga karena isinya yang hampir berisi 500 halaman.

“Elah Kay, kamu baru semester berapa, sih? Cie.. jangan-jangan tulisan yang kemarin itu ya?” Lucky sudah memicingkan mata dengan senyuman penuh makna. Kayla hanya memandang malas ke arah pemuda yang usianya tidak mencerminkan sikapnya.

“Nggak ada sesi wawancara ya, Mas. Udah ah, mau pulang!” Kayla ngeloyor begitu saja saat Lucky sudah tidak menghalangi jalannya. Saat keluar dari ruangan dia masih mendengar Lucky menanyakan kenapa Syanaz tidak datang. Jangankan menoleh, gadis itu melenggang begitu saja. Menghilang di pintu ruangan yang tadi dijadikan tempat pertemuan di komunitasnya.

Kayla sebenarnya tidak begitu akrab dengan Lucky. Dulu sebelum KPB itu bergabung dengan unit pusat, teman-teman komunitasnya hanya terbatas pada anak-anak kampusnya. Namun setahun ini, mereka bergabung dengan unit pusat. Di situlah ia bertemu dengan Lucky.

Lucky sebelum yang benar-benar ia kenal, adalah pemuda yang sering muncul menjadi salah satu pembicara di beberapa acara bedah buku di kotanya. Pemuda itu cukup populer di kotanya. Dan kebetulan lain mengatakan, Najwa, teman sementoringnya, mengidolakan pemuda itu. Kayla sampai malas jika Najwa dengan wajah kepo sering bertanya-tanya tentang Lucky seperti di suatu sore mentoring mereka.

“Nggak ada pemuda lain ya Mbak? Kenapa harus Mas Lucky?” protes Kayla terang-terangan.

“Ih Kay, dia lucu tahu. Hihihi.” Najwa mesam-mesem saat mengingat momen pertemuannya dengan Lucky di suatu acara pameran buku islam di kotanya. Saat itu dia dan juga Kayla datang ke sana dan menyimak acara bedah buku dengan tema ‘nikah muda’ dan Lucky adalah salah satu pembedahnya.

Kalau sudah begitu Kayla hanya geleng-geleng kepala. Najwa memang lebih tua dua tahun darinya. Tetapi jika sisi Najwa ini sudah muncul, dia merasa dialah yang lebih tua dari Najwa. Dan ngomong-ngomong tentang Najwa, Kayla jadi ingat ahad ini dia ada janji dengan sahabat mentoringnya itu untuk menghadiri kajian pernikahan di Masjid Abdul fatah, di pusat kota.

Dan kenapa juga akhir-akhir ini ia sering sekali menghadiri majelis bertema pernikahan. Kayla bahkan merasa hal-hal yang berkaitan dengan pernikahan masih jauh dari pemikirannya.

***

“Adalah tentang barokah. Seyogyanya kita memiliki visi ini jika sudah meniatkan diri untuk menikah. memperbaiki niat, adalah bekal utamanya. Karena amalan kita tergantung pada apa yang kita niatkan. Kebarakahan merupakan visi, dan menuju surga bersama adalah tujuan. Kampung akhirat….”

Kayla mengingat setiap apa yang dikatakan Ustadz pemateri pada seminar bertema pernikahan yang baru saja selesai ia ikuti. Walau tidak mencatat namun ia tidak melewatkan tiap kalimat dari Ustadz yang memberikan materi tadi. Ada yang menggelitik dirinya dari perkara-perkara yang dibicarakan saat seminar.

Niat.

Barokah.

“Kamu ngomong apa, Kay?” Najwa menyenggol bahunya. Gadis yang ditanya tidak merasa mengatakan apapun.

“Bukan apa-apa, mbak. Eh, Kayla perhatikan dari tadi mbak Najwa celingak-celinguk gitu kayak nyari orang. Emang nyari siapa?” Gadis itu sengaja mengalihkan topik segera.

Najwa cengar-cengir. Matanya bergerak ke kiri ke kanan, namun tidak segera menjawab pertanyaan Kayla.

Begitu tidak ada jawaban, Kayla maju jalan–meninggalkan Najwa yang masih celingukan–untuk menuju parkiran.

“Kay! Kay!”

Kayla tidak menanggapi. Ia meraih helm dan bergegas menuntun motornya untuk keluar dari tempat parkir.

“Mbak Najwa kutinggal nih kalau nggak cepetan ke sini!” seru gadis itu tidak sabar. Sedangkan temannya malah mondar-mandir antara pergi ke tempat Kayla segera atau bertahan di tengah-tengah pelataran masjid. Tapi kemudian dia memutuskan untuk menemui Kayla dulu. Takut ditinggal karena dia nebeng gadis itu untuk pergi ke seminar itu.

“Duh, Kay. Mas Lucky! Mas Lucky ada tadi di masjid!” Najwa sudah heboh dan menarik-narik lengan gamis Kayla yang berwarna hijau lumut.

“Terus?”

“Ya jangan buru-buru pulang, dong!” protes perempuan itu.

Kayla memutar bola matanya. Kali ini Najwa memang perlu diberi sedikit teguran. “Ih, Mbak Najwa! Istigfar, mbak. Istigfar! Jangan heboh gitu dong. Malu kali dilihatin banyak orang!”

Najwa nyengir sebelum melafalkan kalimat istigfar. “Kelepasan, Kay! Hehehe.” Akunya malu.

“Udah yuk, mbak. Pulang!”

“Mas Lucky?”

Kayla kembali tidak sabar. Dengan muka jutek ia menyalakan mesin motor.

“Iya-iya! Aku naik.” Najwa mengalah, tetapi tubuhnya masih bergerak-gerak untuk mencari gerangan Lucky.

“Kalau memang mau ketemuan, dan naksir, minta tolong Ustadz Zain, gih! Minta diproses. Gitu. Beres!” Kayla memberi nasihat saat motor sudah melaju meninggalkan masjid, menembus jalan raya Malang yang mulai padat di siang yang panas.

“Nggak berani, Kay!”

“Kenapa?” tanyanya sedikit berteriak. Najwa tidak segera menjawab. Gadis yang sudah bekerja di sebuah perpustakaan kampus swasta itu baru menjawab saat motor yang mereka kendarai berhenti karena lampu merah.
“Nggak ada potensi jadi calonnya. Nggak selevel dia.” Kalimat Najwa terdengar sedih di telinga Kayla. Tetapi Kayla bisa mengerti.

Seperti dirinya, Najwa teman sementoringnya itu juga baru berhijrah. Bahkan masih enam bulan yang lalu. Ketika mereka tidak sengaja bertemu di sebuah majelis taklim. Kayla mengenalnya dan Najwa tertarik ikut grup mentoring.

Motor sudah melaju. Kayla memutuskan untuk berkonsentrasi menyetir. Tetapi pikirannya tidak mau diajak bekerja sama. Jawaban Najwa serasa melayang-layang di atas kepalanya.

Tidak selevel.

Ia membayangkan dirinya juga tidak akan berani mengajukan diri untuk bertaaruf dengan Alfa.

Astaga! Kenapa juga Alfa yang tiba-tiba ia pikirkan! Astagfirullah

“Kamu kenapa, Kay?” Najwa yang tidak sengaja mendengar ucapan istigfar Kayla, bertanya. Kayla hanya menggeleng-gelengkan kepala.

Perjalanan pun hanya dibungkam dengan ramai mesin motor dan lalu lalang kendaraan yang berebut jalan. Dua puluh menit kemudian mereka sampai di rumah Najwa.

“Aku mengagumi mas Lucky sebagai salah satu inspirator untukku saja, Kay. Aku tidak berani bermimpi untuk bersanding dengannya. Kamu jangan anggap serius ya?”

Kayla menghela nafas. Dia bingung dengan sikap temannya ini. “Habis mbak kelihatannya naksir abis gitu. Nggak baik buat hati, mbak.” Nasihatnya pada Najwa. Juga untuk dirinya.

Najwa terkekeh. Ia menggelengkan kepala. “Don’t take it seriously, dear.” Tutup Najwa final, sebelum gadis itu mengucap salam dan masuk ke dalam pekarangan rumahnya.

***

Hujan dan Senja

Maret 2016

Sudah berapa kali aku merasa tertampar. Pada setiap apa yang kau gulirkan dalam bingkai geranganmu. Pada setiap kenangan yang berusaha kau simpan dalam rumah mayamu. Pada setiap kata perjuanganmu. Pada setiap figur dirimu. Padamu.

Aku tertampar!

Bagaimana bisa kau begitu gigih. Untuk memperjuangkan kebaikan. Untuk mempertahankan keistiqamahan. Untuk setiap dzikir yang berusaha kau lantunkan—barangkali—dalam setiap hembusan nafas.

Aku tertampar!

Bagaimana kau berani melawan arus. Berani menerjang keumuman. Tanpa memikirkan apa pendapat orang tentangmu. Padamu.

Aku tertampar!

Karenamu. Aku merasa belum melakukan apa apa. Belum memberikan sumbangsih dalam mewarnai dunia. Belum merasa ikut berjuang. Aku iri. Aku benci pada diriku yang mengagumi dirimu begini. Lecut semangatku tiap kali melihatmu semoga Tuhan ridha.

Walau aku masih tertampar!

Sekaligus mengamini. Setiap doa yang kau panjatkan. Setiap pinta yang kau harapkan.

Pada Rabbmu. Juga Rabbku.

Semoga engkau senantiasa terberkahi. Diberkahi.

(c) Afrazaraa

Kayla merenungi setiap sajak yang baru saja ia torehkan. Ia hanya menyusunnya begitu saja setelah melihat aktivitas Alfa di sosial media. Ia tahu, ini sepertinya tidak benar. Tetapi melihat apapun yang Alfa lakukan membuatnya tertarik. Kayla sudah mulai penasaran bagaimana kehidupan Alfa di kampusnya. Bukankah Alfa sedang berada di tingkat empat seperti dirinya. Apakah pemuda itu juga gemilang di kampusnya?

Pasti dia mahasiswa pintar. Tidak mungkin dia bisa membuat buku dan menjadi salah satu ketua di lembaga dakwah kampusnya jika dia tidak pintar. Hah! Kayla merasa tertampar mengetahui hal itu.

Gadis itu pun sebenarnya pun tidak bisa dikatakan bodoh. Bahkan prestasinya stabil. Walau bukan yang terbaik, namun IPKnya sampai akhir semester enam kemarin aman pada angka 3,5. Dia memang bukan aktivis, apalagi anak dakwah. Namun ia memiliki kesibukan di klub pecinta buku dan menjadi salah satu kepala divisi pengembangan karya di sana. Namun tetap saja, track record-nya tidak akan menyamai Alfa.

Tidak selevel.

Kata-kata Najwa kini terngiang-ngiang di kepala Kayla. Ia tahu betul maksud Najwa. Ia pun juga merasa seperti itu bila dibandingkan Alfa. Siapalah dia. Tidak akan ada apa-apanya dibanding mahasiswa-mahasiswi aktivis yang terjun dalam medan dakwah kampus. Akan tetapi, terlalu sempit apabila Kayla berpikir harus menjadi aktivis kampus dulu untuk bisa berdakwah. Bukankah dakwah adalah kewajiban? Siapa pun dan apapun profesi dan kesibukan manusia?

Kayla beristigfar berkali-kali. Yang pertama untuk pikirannya sempitnya tentang dakwah. Dan yang kedua adalah, tidak ada waktu untuk memikirkan hal-hal tentang Alfa. Atau ia perlu meralat! Tidak ada gunanya memikirkan Alfa yang tak terjangkau untuknya. Kehidupannya dengan Alfa belum tentu bersinggungan lagi. Ia tidak mau terjebak dengan romansa-romansa yang ia ciptakan sendiri. Walau ia tidak bisa pula memungkiri, ada rona merah tiap mengetahui eksistensi Alfa walau hanya di dunia maya.

Ada bahagia yang mendentumkan dadanya secara halus. Ini memang tidak benar. Tetapi Kayla tidak bisa menghalau dirinya sendiri untuk merasakan sedikit kegembiraan semu itu. Setidaknya untuk kali ini. Ia memberanikan diri untuk menerobos sedikit lebih jauh.

.

.

.

.

.

******

Incoming search terms:

  • kumpulan cerpen dewasa
  • kumpulan cerpen cinta segitiga sedih
  • kumpulan cerpen terkenal 5 halaman
  • cerpen jepang romantis
  • Cerpen Morchris horror
  • cerpen cerita cinta
  • download cerpen bingkai cinta
  • gambar bingkai kepemudaan
  • kumpulan cerbung indonesia
  • Cerita pendek tentang hijrah

Tags: #cerbung #Cinta #hijrah #melankolis

author
Penulis: 
    Cerpen Cinta: Semester Cinta
    Cerpen non fiksi (nyata) tentang cinta yang
    Cerpen Patah Hati: Kau dan dia, saya serta beliau
    Judul cerpen kau dan dia, saya serta
    Cerpen Cinta Romantis: Day by Day
    Judul cerpen day by day (ketika balik
    Cerpen Patah Hati – Yume Monogatari
    Cerpen jepang – Cerpen buatan Sri Yulianti, yang

    Tinggalkan pesan "Cerbung: Bingkai Cerita Cinta"

    Baca Juga×

    Top