Cerbung: Bingkai Cerita Cinta

Di Cerpen Cinta 1452 views

Harmoni Kehidupan

“Kay, lagi nggak fokus ya?” Mbak Erlin, perempuan yang sudah Kayla anggap seperti kakak perempuannya sendiri menegurnya saat mereka sedang dalam satu majelis mentoring bersama.

“Eh, ng-nggak mbak!” Kayla tergeragap. Dia tidak yakin apakah dia melamun atau kelewat memikirkan sesuatu.

Mbak Erlin tersenyum lembut memaklumi. Selang beberapa saat, perempuan itu masuk ke salah satu ruangan di dekat ruang tamu dan memberikan sebuah buku pada Kayla. Saat itu mentoring hanya dihadiri Kayla saja. Naisya dan Najwa teman sementoringnya sedang izin karena kesibukan kuliah dan bekerja.

“Kamu baca-baca ya, Kay.”

Kayla mengangguk. Ia baca blurp di bagian belakang buku itu dan mulai membolak-balik halaman per halaman. Dia tahu jelas itu buku tentang pernikahan. Berisi mengenai pentingnya menikah dalam agama, persiapan untuk menikah, kesiapan sampai fikih-fikih dijabarkan di dalamnya. Namun yang Kayla tidak tahu, mengapa Mbak Erlin memintanya untuk membaca?

“Bingung ya? Hm,sebenarnya ini bukan hal yang mendesak, Kay. Tetapi berhubung kamu sudah semester tujuh jadi nyicil persiapan untuk menikah, ya?” Mbak Erlin menjelaskan dengan sedikit menggoda Kayla. Sedangkan orang yang digoda hanya cengar-cengir tidak jelas.

“Kayla belum ada rencana mengajukan proposal, mbak Hehe. Oh ya, apa di antara kami sudah ada yang maju, mbak?” tanya gadis itu. sebenarnya dia hanya bertujuan untuk mengalihkan topik.

Mbak Erlin hanya mengedikkan bahu. Kayla yakin hal itu bukan karena di antara teman-teman sementoringnya belum ada yang mengajukan, tapi Mbak Erlin merahasiakannya. Walaupun di luar sepengetahuan Mbak Erlin ketiga gadis itu sering saling curhat.

“Kayla, walaupun belum ada keinginan, kesiapan menikah dan persiapannya pun harus tetap dibangun sejak saat ini. Terutama dari segi niat, Kay. Mbak pastikan itu akan sangat membantu kelak, insya Allah. Mbak sudah belajar dari pengalaman.”

Kayla mengangguk dan majelis sore itu pun ditutup seperti biasanya.

***

Menjelang tidur, entah karena apa, Kayla mulai memikirkan nasihat Mbak Erlin. Ia menarik buku yang tadi dipinjami mentornya itu dan mulai membaca. Barakallahu laka. Judul awal itu tercetak besar-besar dengan sampul menarik berwarna merah. Jelas sekali ini buku tentang tetek-bengek persiapan menikah dan semacamnya.

Kayla memang pernah ingin bercita-cita menikah muda. Saat itu dia masih SMA. Saat pemuda cinta pertamanya itu dengan berani-berani memberikan harapan kosong pada Kayla. Dan bodohnya Kayla terlalu percaya. Sekarang kepercayaan itu sudah tidak ada lagi.

Kay, semoga kamu tidak terkejut. Tapi, Kak Hasan, sudah bertunangan dengan perempuan lain. Dia senior satu kampusku namun berbeda jurusan. Aku tidak tahu bagaimana mereka bisa kenal, Kay. Tapi kuharap kamu tidak terganggu dengan berita itu.

Kayla masih ingat, Naisya memberitahukan hal itu padanya. Awalnya Kayla memang tidak percaya meskipun Naisya bilang berita itu sudah menjadi desas-desus di kampusnya. Ia perlu meng-kroscek untuk menghindari fitnah. Tetapi apa yang dikatakan Naisya benar saat dengan berani pemuda bernama Hasan itu memproklamirkan kebahagiaannya telah bertunangan dengan seorang gadis pada sebuah foto di media sosial.

Gadis tunangannya itu cantik tentu saja. Bahkan terkesan jika gadis itu bukan gadis biasa. Ada aura popularitas dan cerdas melihat profilnya. Tetapi, bukan itu poin penting yang ditangkap Kayla. Yang ia pikirkan adalah, sebegitu ringannya-kah Kak Hasan, pemuda yang biasa ia panggil, melupakan ikrar yang telah ia buat sendiri? Bahwa ia tidak akan menjalin hubungan tidak jelas lagi dan memilih jalan yang semestinya untuk melabuhkan cinta yaitu pernikahan? Lantas mengapa ia bisa berubah? Tapi mengapa semuda itu?

Ya. Semua orang bisa berubah tentu saja. Tetapi perubahan yang tidak sesuai dengan apa yang menjadi prinsip Kayla saat ini tentu adalah perubahan yang akan dijauhi Kayla. Sejak saat itu ia memutuskan untuk tidak lagi menggantungkan harapannya pada manusia. Ia mulai belajar, bahwa sebenar-benar tempat bergantung adalah Rabb, Tuhan semesta alam.

***

Kayla segera membereskan peralatan tulisnya saat dosen matakuliah sosio-linguistik itu menutup perkuliahan dan mengucapkan salam. Sudah jam tiga sore yang berarti kajian pekanan jurusannya akan segera dimulai. Ia bergegas keluar kelas. Menuruni tangga cepat-cepat dan berbelok ke koridor menuju lobi. Walau dia bukan petugas–tentu karena dia juga tidak mendaftar di lembaga dakwah jurusannya–tetapi pengisi kajian kali ini adalah ustadz favoritnya. Ustadz Zain namanya. Beliau adalah trainer muda dan juga penulis buku. Beberapa bukunya fokus pada kepemudaan dan juga tentu saja tema-tema baper dan pernikahan.

“Syanaz!” Kayla berseru saat gadis itu menemukan sosok Syanaz sahabat sekomunitas di Komuitas Pecinta Buku, sedang berjalan menuju serambi masjid seperti dirinya. Gadis itu memekik dan melambai-lambai heboh pada Kayla. Tak perlu waktu lama untuk menghampiri gadis itu.

“Baru selesai kuliah?” tanya Syanaz ketika langkahnya sudah sejajar dengan Kayla.

“Begitulah. Akhir semester semakin banyak tugas. Bagaimana denganmu?” Kayla baru selesai melepas sepatu diikuti Syanaz saat menjawab pertanyaan sahabatnya itu.

Syanaz hanya memutar bola matanya, “Kacau Kay. Selain banyak tugas, berbagai event jatuhnya tepat dua pekan sebelum UAS.”

“Acara apa?” tanya Kayla heran. Tidak biasanya jurusan psikologi mengadakan acara yang mepet dengan kegiatan ujian. Ini pertama kalinya semenjak Kayla mengenal Syanaz tiga tahun lalu.

“Kepengurusan BEM! Ini ulah mereka yang menempatkan program kerja keagamaan mepet dengan jadwal UAS. Kami sudah protes karena khawatir acara tidak akan ramai diikuti karena anak-anak tentu sudah fokus dengan ujian akhir. Apalagi ini event besarnya kelembagaan dakwah psikologi! Berbagai lomba bertema islam dan akan diselenggarakannya seminar dengan narasumber inspiratif. Bagaimana bisa dengan seenaknya BEM memberikan waktu yang sangat mepet.” Pipi Syanaz terlihat memerah dan dahinya berkerut samar setelah menceritakan keluhannya. Sepertinya kekesalannya kali ini tidak main-main mengingat Syanaz adalah gadis periang walau tak jarang bersikap melankolis dan kekanakan.

“Aku tidak bisa berkomentar jika itu masalah dengan intern ormawa, Naz. Bismillah aja, semoga Allah kasih jalan buat memudahkan.” Tidak ada jawaban yang lebih baik selain harapan dan doa tentu saja. Pikir Kayla.

Syanaz mengangguk. Setidaknya bercerita pada Kayla sudah mengurangi beban uneg-unegnya. Wajah kesalnya sudah tidak begitu terlihat, lalu dengan semangat Syanaz menarik tangan Kayla untuk memilih duduk di atas karpet yang disediakan panitia.

“Oh ya Kay, sudah tahu belum kalau ternyata Kak Alfa penghafal Quran? Wuih, keren banget tuh orang. Nggak cuma penulis buku, aktor, aktivis dakwah, eh, ternyata penghafal Quran juga. Nih! Aku baru tahu dari postingan orang yang mention dia gitu kalau dia ikut semacam foundation di lembaga tahfidz Quran.” Syanaz kembali heboh sembari menunjukkan sesuatu yang sepatutnya perlu diketahui Kayla dan memang pada kenyatannya Kayla tahu lebih dulu.

Semenjak Kayla tertarik dengan sisi lain Alfa, gadis itu sudah banyak menemukan fakta yang membuatnya bertambah kagum dengan pemuda itu. Kayla tidak pernah menduga bisa mengetahui ada sosok pemuda seperti Alfa. Bukan berarti tidak ada pemuda seperti itu di kampusnya, tetapi karena Kayla sendiri tidak pernah tahu profil para pemuda LDK di kampusnya. Sedangkan Alfa, pemuda itu populer. Tentu saja lebih mudah mengetahui profilnya meskipun jangkauan Alfa bahkan beratus kilo dari tempatnya tinggal.

Kehebatan dunia maya memang mengerikan.

“Apa, Kay?” Rupanya Syanaz mendengar desisan Kayla. Tetapi gadis itu menggeleng. Mengisyaratkan itu bukan apa-apa.

“Aku berani jamin, sekarang yang suka sama kak Alfa pasti lebih banyak, Kay. Pesona penghafal Quran tidak bisa tertandingi, loh! Ngomong-ngomong, kok kamu nggak kaget gitu, sih Kay, aku cerita? Kamu udah tahu ya? Jangan-jangan kamu diam-diam stalking duluan akun-akun media sosial kak Alfa?” Syanaz menatap Kayla curiga. Sedangkan yang ditatap terlihat lebih jengah.

“Tuh kan!” seru Syanaz lagi. “Aku sudah menduga ini juga akan terjadi padamu!” cibirnya.

Kayla mengerling ke arah lain. Sebelumnya ia sempat mengelak dan mengatakan hanya sedikit tahu saja tentang Alfa. Tetapi sikap Kayla malah membuat kecurigaan Syanaz mendekati benar. Jangan-jangan temannya itu juga sudah terkena sindrom Alfa. Astaga!

***

HUJAN DAN SENJA

Februari 2016

Aku lupa sejak kapan aku terakhir kali mengamatimu. Kita tidak pernah bertemu baik sengaja maupun tidak di suatu kesempatan. Tidak ada acara seminar, bedah buku, nonton bareng dan apa pun bentuk yang memungkinkanku bertemu denganmu. Hanya sebatas maya peluang itu bisa terjadi. Lewat layar dengan jaringan di atas awan.
Tetapi nyatanya mengetahui kabarmu itu seperti halnya kubalik punggung tanganku. Terlalu mudah. Dan cepat. Sama sekali tidak ada rintangan. Barangkali itulah ujian terbesarnya. Barangkali itulah yang seharusnya mampu kukendalikan. Agar tidak melampaui batas. Agar masih dalam koridor normal.

Aku masih beruntung jika keingintahuanku akan kehidupanmu tak pernah sampai membuatku ingin selalu melihatmu dalam berandaku. Aku masih bisa bernafas lega menyadari itu. Hanya ada dua-tiga hal yang membuatku serasa terkait denganmu.

Buku.

Kopi.

Dan menulis.

Aku mencintai buku. Aku–walau bukan pecandu-cukup menyukai kopi (dengan krimer). Dan, menulis adalah minat terbesarku. Aku akan sangat antusias membahas tiga hal itu.

Tetapi kulihat kutipanmu di salah satu media. Beberapa hal harmoni kehidupan itu adalah mereka dengan satu tambahan.

CINTA.

Sayangnya satu hal itu sangat jauh.
Jauh untukku.

Tidak. Tidak. Aku tidak pernah berpikir mengaitkannya. Walau aku tidak tahu bagaimana kelak, namun saat ini Tuhan sedang tidak menggariskan kita di dalam satu hal itu.

Terlalu jauh.

Terlalu tak terjangkau.
Maka beginilah adanya. Kutulis tentangmu sebagai sebuah imaji.

Fiksi.

dan terlalu jauh dengan ranah edarmu saat ini.

– Afrazaraa –

Kayla menutup kembali laman rumah mayanya setelah ia berhasil membuat postingan tentang, ah, walau Kayla malu mengakuinya, tetapi sajak-sajak itu masih mengenai Alfa. Baru saja gadis itu membuka twitter dan menemukan Alfa memosting gambar sebuah cangkir kopi yang bersanding dengan buku. Ia hanya memberikan keterangan bahwa kopi dan buku adalah keseimbangan hidup untuknya.

Hanya dari gambaran itu, tetapi, Kayla sudah merasa ide-ide bertaburan di kepalanya. Tentu karena ia telah terbiasa dengan kata-kata. Menempuh pendidikan strata satu untuk jurusan sastra Indonesia membuatnya tidak asing dalam menyusun kalimat.

Asalkan ada sumber inspirasi!

Begitu bisiknya pada diri sendiri.

Ia terkadang merasa geli. Baru sekali bertemu dengan Alfa secara nyata. Selanjutnya pertemuan mereka hanya sebatas persimpangan di dunia maya, tetapi bagaimana bisa gadis itu merasa Alfa dapat memberikan inspirasi. Ah, pasti karena sosoknya yang begitu prestasif! Kayla hanya iri tentu saja. Walau ia mulai tidak yakin dengan perasaan itu.

Sudah hampir sepuluh menit ia memosting karyanya. Tiba-tiba sebuah notifikasi masuk di ponselnya. Kayla memang mengintegrasikan segala macam notifikasi blog pada akun emailnya. Sehingga apapun yang berhubungan dengan pemberitahuan bisa dengan mudah ia ketahui lewat email.

Setelah berhasil membuka, Kayla mendapati pemberitahuan itu dari akun ‘kopidankamu’. Kayla tahu siapa pemilik akun itu. Tidak lain adalah Kak Lucky. Seniornya di Klub Pecinta Buku. Pemuda yang lebih tua tiga tahun darinya itu hanya meninggalkan jejak dengan memuji karya Kayla dan memberikan tanda ‘like’. Tetapi Kayla yakin, besok ahad, saat gathering dengan seluruh anggota KPB, Kayla akan diledek habis-habisan oleh Kak Lucky.

Ah, masa bodoh dengan besok!
.
.
.
.
.
.
.
.
*****

Incoming search terms:

  • kumpulan cerpen dewasa
  • kumpulan cerpen cinta segitiga sedih
  • kumpulan cerpen terkenal 5 halaman
  • cerpen jepang romantis
  • Cerpen Morchris horror
  • cerpen cerita cinta
  • download cerpen bingkai cinta
  • gambar bingkai kepemudaan
  • kumpulan cerbung indonesia
  • Cerita pendek tentang hijrah

Tags: #cerbung #Cinta #hijrah #melankolis

author
Penulis: 
    Cerpen Cinta: Semester Cinta
    Cerpen non fiksi (nyata) tentang cinta yang
    Cerpen Patah Hati: Kau dan dia, saya serta beliau
    Judul cerpen kau dan dia, saya serta
    Cerpen Cinta Romantis: Day by Day
    Judul cerpen day by day (ketika balik
    Cerpen Patah Hati – Yume Monogatari
    Cerpen jepang – Cerpen buatan Sri Yulianti, yang

    Tinggalkan pesan "Cerbung: Bingkai Cerita Cinta"

    Baca Juga×

    Top