Cerbung: Bingkai Cerita Cinta

Di Cerpen Cinta 1454 views

Sesosok Itu

Ada satu masa yang sangat disesali Kayla. Itu terjadi ketika dia menginjak SMA. Cerita cinta memang selalu tertoreh pada bangku sekolah. Masa abu-abu yang membuat Kayla sempat merasakannya.

Itu terjadi saat dia menginjak kelas sebelas. Dia mengagumi sosok kakak kelas pengurus osis di sekolahnya yang juga aktif dalam kegiatan keagamaan. Sempurna. Saat itu Kayla merasa sosok pemuda itu sempurna di matanya. Pintar, aktif dalam berbagai kegiatan, dan rajin ibadah. Kayla merasa sosok itu patut dikagumi. Apalagi saat itu Kayla bersemangat untuk belajar agama. Ikut majelis taklim tiap jumat siang. Dan bergaul dengan teman-temannya aktivis rohis, sampai akhirnya dia masuk juga dalam anggota kepengurusan dan mulai mengenakan kerudung.

Kekaguman Kayla akan sosok itu menjadi lebih besar. Frekuensi pertemuan yang meningkat tak bisa dihindari karena mereka kini satu organisasi. Bahkan, pemuda itu sudah hafal betul wajah dan nama Kayla. Diam-diam, pemuda itu juga menaruh simpati padanya.

Dan begitu saja, Kayla jatuh hati untuk pertama kalinya. Pemuda itu rasanya juga mengirimkan sinyal yang sama. Hingga akhirnya, lewat bantuan ponsel, mereka berkomunikasi. Sekali, dua kali, hingga tak terhitung lagi.

Satu tahun telah berlalu. Pemuda itu akhirnya lulus. Ada rasa sedih di hati Kayla. tetapi, dalih mengejar cita-cita sudah cukup memaksa hatinya untuk lapang dada. Akhirnya terputus oleh jarak hubungan mereka. Intensitas komunikasi yang melemah. Lalu semuanya mengabur tanpa arah.

Kayla memendam tanya. Walau lama-lama merasa gelisah juga. Ingatannya kembali melayang saat ucapan pemuda itu dalam surat yang diberikannya pada Kayla. Sesaat sebelum dia meninggalkan kota mereka untuk ke perantauan.

“Jika saatnya kelak, insya Allah aku kembali datang, La. Sebagai laki-laki yang siap melamar. Sekarang kita terlalu dini untuk memikirkannya. Aku perlu mengejar impianku dulu. Tapi itu terserah kamu, jika kamu tidak bisa menunggu.”

Kayla ingin sekali belajar setia. Akhirnya ia memutuskan untuk percaya padanya. Satu tahun, dua tahun. Dan akhirnya Kayla mulai lelah. Dia berusaha untuk menghubungi pemuda itu kembali. Sepekan sebelum ujian nasional.

Lalu Kayla menyesal. Atas tindakannya yang konyol. Atas penantiannya yang tak masuk akal. Dan atas rasa percayanya pada pemuda itu.

***

Kayla menutup novel yang baru saja ia pegang. Sepuluh menit yang lalu, ia memang berniat untuk meneruskan membaca novel pembangun jiwa karya salah satu penulis favoritnya. Tetapi konsentrasinya terganggu saat tiba-tiba notifikasi aplikasi whatsapp masuk di ponselnya dan menampangkan foto hasil jepretan Syanaz pekan lalu. Wajah Alfa berbingkai kacamata dan berjas warna khaki.

Untuk apa juga Syanaz mengirimkannya? Batin Kayla heran.

Maaf ya Kay,titip dulu, memori penuh mau hapus foto satu-satu. Hihihi 😀

Tanda online sudah hilang. Setelah sebaris kalimat itu, Kayla sudah tidak ingin bertanya lagi. Dilihatnya foto Alfa bersama beberapa penggemarnya. Berfoto dengan senyum merekah sampai menunjukkan deretan gigi bersihnya.

Kayla mendesah.

Ia jadi teringat buku yang dibelinya dua hari setelah acara bedah buku itu. Buku kedua Alfa yang stoknya mulai terbatas. Buku itu menyempil di antara buku non fiksi di rak bertitel agama.

Kayla membelinya karena penasaran setelah membaca sosok Alfa dari beberapa artikel yang ia temukan di internet. Kebanyakan ia temukan dari portal berita islam. Rupanya Alfa menjadi salah satu kontributor di beberapa portal itu. Kayla juga tak sengaja menemukan website pribadi Alfa. Bahkan di dalam website itu, biografi Alfa selengkap curriculum vitae saja.

Mereka seumuran. Itu yang tidak Kayla sangka. Ia mengira Alfa beberapa tahun di atasnya karena perawakan pemuda itu yang tinggi besar dan terlihat dewasa. Ternyata wajah sangat menipu. Selain website, Kayla juga menemukan beberapa akun media sosialnya. Ia putuskan untuk mengikuti pertemanan dengan Alfa di instagram dan twitter.

Dan karena itu pula, kini di tangan Kayla ada buku Alfa tanpa tanda tangan. Kayla jadi merasa menyesal tidak memperhatikan acara bedah buku itu sepenuhnya. Pasti banyak ilmu yang seharusnya ia dapat dari sana. Apalagi buku Alfa termasuk buku dengan pembahasan yang mendalam. Sedikit berat namun sangat bermanfaat. Ah, lagi-lagi Kayla merasa menyesal. Ia tidak menyangka sosok Alfa mencuri perhatiannya.

Usiamu tidak jauh berbeda dari usiaku. Kau juga masih menuntut ilmu yang setara dengan ilmu yang sedang kutuntut. Kita sebaya –bisa kukatakan begitu. Bedanya, ilmu yang kau pelajari sangat dekat dengan kalam Tuhan. Fakultas Syariah di suatu perguruan tinggi berbasis agama. Meruntuhkan pendapatku bahwa kau hanya sekadar penulis baru, artis baru. Karir dakwahmu telah lama kau ukir. Amanah besar sedang kau pegang. Oh, kau salah satu bintang yang patut dikagumi. Bahkan menjadi sosok penginspirasi.

***

Kayla berjalan cepat untuk memasuki gedung serbaguna di fakultas MIPA. Dia ada janji untuk bertemu Syanaz di sana. Foto kemarin yang dititipkan gadis itu perlu dikumpulkan untuk kepentingan dokumentasi.

“Thank you, Kay. Kamu jempol banget deh!” Syanaz girang setelah mendapat flash disk dari Kayla.

Kayla mengangguk, lalu duduk di sebelah Syanaz. “Mau ada kajian?”

“Iya, Kay, anak-anak bingung nyari tempat yang agak besar. Di mushala sempit banget. Makanya kita bikin acaranya di sini deh.” Jawab Syanaz tanpa menoleh. Gadis itu masih menyalin data dari flashdisk ke hardisk laptopnya.

“Eh, ngomong-ngomong, banyak anak-anak yang mulai suka nih sama Bang Alfa. Katanya dia imut. Iya nggak sih?” tiba-tiba Syanaz mengganti topik. Topik yang tak sempat terlintas dalam kepala Kayla.

“Namanya juga orang yang patut diidolakan, Naz. Apalagi sekarang masa kita itu masa yang butuh figur orang baik. Kebetulan banget kan?” Jawab Kayla diplomatis.
Syanaz hanya mengangkat bahu. Lalu tatapannya kembali ke layar laptop, dan ia berseru lagi, “Ternyata videonya udah diupload, Kay. Lihat nih! Ada kita!”

Kayla mengernyit. Sama sekali tidak paham apa yang dibicarakan Syanaz, hingga dia melihat apa yang ditujukan sahabatnya itu.

Sebuah video diputar dalam player perangkat lunak laptop Syanaz. Kayla bisa melihat wajahnya sangat jelas tercetak di dalam frame berjalan itu. ada banyak orang sebenarnya. Tapi fokusnya ada pada stand booth di belakang mereka. Ada Alfa di situ. Sedang berfoto dan memberikan tanda tangan.

Putaran video itu habis di menit ke satu lebih empat puluh detik. Sangat singkat, namun mampu membingkai sempurna wajah Alfa, kegiatan beda buku dan dirinya. Kayla sendiri sampai tidak sadar bahwa ia masuk dalam bingkai itu.

“Wuaaaah, Kay, wajahmu kelihatan banget loh yang ini! Mana sok-sok baca bukunya Bang Alfa lagi!” seru Syanaz heboh.

Kayla meringis, “Itu pencitraan Naz, tahu sendiri aku cuma lihat-lihat.”

“Pinter ya fotografinya ambil sudut pandang,” Syanaz kembali memutar video itu. Sedangkan Kayla tidak menanggapi. Ia menata posisinya untuk menghadap ke arah pemateri kajian. Walau kajian belum berlangsung saat itu.

Kayla hanya perlu menjernihkan otaknya dari kemungkinan-kemungkinan yang terjadi saat Alfa melihat video itu. Kayla seharusnya tak perlu khawatir karena Alfa tak mengenalnya. Tetapi Kayla sedikit resah, tak terdefinisi untuk alasan apa.

***

Sorenya, Kayla datang ke pertemuan rutin di rumah Mbak Erlin. Perempuan awal tiga puluh tahun itu adalah salah satu orang yang sangat berjasa saat Kayla memutuskan untuk benar-benar berhijrah dari masa lalunya. Dialah guru sekaligus kakak seiman Kayla.

“Kayla nggak telat, kan, Mbak?” tanya gadis itu setelah mendapatkan jawaban salam dari Mbak Erlin.

Perempuan yang masih ayu walau sudah dikaruniai tiga anak itu tersenyum lembut. Wajahnya yang keibuan membuat tenteram siapa pun yang melihat. Sosok Mbak Erlin bagi Kayla adalah sosok yang membuatnya bisa terinspirasi.

“Kemarin kita bahas apa, dik?” tanya Mbak Erlin sembari menimang buah hatinya yang masih berusia dua bulan.

Kayla mencari buku catatannya untuk melihat jadwal pekan lalu. Hanya ada sebaris judul di sana. Tazkiyatun Nafs. Pensucian jiwa.

Kayla menunjukkannya pada Mbak Erlin dengan wajah meringis. Dia lupa kalau kemarin tidak mencatat sama sekali. Mbak Erlin memberikan lembaran fotokopi. Biasanya Kayla akan mencatatnya kembali di buku catatan kajian bersama. Namun dia benar-benar lupa.

“Kayla Cuma nyatet judul, Mbak. Hehe,” jawabnya polos, bingung memberikan alasan.

Mbak Erlin tersenyum geli. Sedikit maklum dengan sikap Kayla. Ia beranjak ke dalam rumahnya. Lalu menghilang di salah satu ruangan.

Tepat saat Mbak Erlin berlalu, pintu ruang tamu diketuk. Sebuah kepala muncul dari sana karena pintu itu tak tertutup. Ada wajah Naisya. Teman sekajian Kayla. Tubuhnya dibalut gamis warna ungu dan jilbab instan berbahan sifon. Jilbabnya sempat melambai saat ada angin yang ikut masuk ke ruang tamu. Tempat pertemuan rutinan itu.

“Assalamu’alaikum, Kay,” sapa Naisya. Wajah gadis itu cerah. Senyumnya tersungging membentuk simpul di salah satu pipinya. Dia gadis manis dengan lesung pipit.

“Wa’alaikumsalam, Sya. Tumben telat?”

“Ada tugas ngantar barang dulu tadi, baru ke sini. Biasalah ane pengangguran, jadi bisanya disuruh-suruh.” Jawab Naisya cuek. Dia masih sibuk mengeluarkan buku catatn dan alat tulisnya. Kayla hanya memperhatikan dengan kepala menggeleng-geleng.

“Eh, apa materinya?” tanya Naisya. Dia sudah siap dengan buku catatan spiralnya dan bolpoin imut warrna ungu. Jika diperhatikan, Naisya memang sering memakai warna-warna ungu.

“Belum tahu, Sya. Mbak Erlin masih ambil buku. Eh, Sya, lembaran materi kemarin masih punya? Pinjem dong! Kayaknya punyaku hilang nggak tahu ke mana.” Pinta Kayla.

Naisya mengangguk dan mencari lembaran yang dimaksud di selipan buku catatannya. Lalu ia serahkan pada Kayla. “Tumben ilang?”

“Pekan lalu agak sibuk ngerjakan laporan magang, sih. Terus lupa nggak nyalin, tahu-tahu udah nggak nyelip di buku.” Jelas Kayla. ia segera memasukkan lembaran fotokopi itu di dalam tas ranselnya.

“Eh, gimana bedah buku kemarin? Katanya kamu ke sana? Ketemu penulisnya dong? Anak-anak kampusku bilang cakep. Bener?”

Kayla hanya termenung. Beberapa detik kemudian dia hanya mengangkat bahu.

“Ih, Kayla, kok nggak cerita, sih?”

“Kalau aku cerita, kamu pasti heboh sendiri, Sya. Aku ada foto dia, ntar kutunjukkan.” Tutup Kayla.

Naisya ingin menanggapi, tetapi Mbak Erlin sudah kembali dengan membawa buku setebal hampir 500 halaman dengan judul tercetak besar ‘fiqh wanita’, sehingga gadis itu menelan kembali pertanyaan beserta rasa kepenasarannya.

Kalau aku tunjukkan fotonya ke kamu Naisya, kamu yakin wajahnya tak akan asing bagimu. Dan kalau aku bilang siapa dan bagaimana dia, aku takut kamu akan menilai aku telah tertarik padanya. Padahal aku sendiri tidak yakin. Aku tak pernah yakin dengan perasaanku sendiri, Naisya. Aku hanya takut kilasan balik itu terjadi padaku. Aku takut ini hanya bagian dari ujian yang harus kulalui atas hijrahku. Semoga Tuhan mengampuniku.

————-o0o————-

Incoming search terms:

  • kumpulan cerpen dewasa
  • kumpulan cerpen cinta segitiga sedih
  • kumpulan cerpen terkenal 5 halaman
  • cerpen jepang romantis
  • Cerpen Morchris horror
  • cerpen cerita cinta
  • download cerpen bingkai cinta
  • gambar bingkai kepemudaan
  • kumpulan cerbung indonesia
  • Cerita pendek tentang hijrah

Tags: #cerbung #Cinta #hijrah #melankolis

author
Penulis: 
    Cerpen Cinta: Semester Cinta
    Cerpen non fiksi (nyata) tentang cinta yang
    Cerpen Patah Hati: Kau dan dia, saya serta beliau
    Judul cerpen kau dan dia, saya serta
    Cerpen Cinta Romantis: Day by Day
    Judul cerpen day by day (ketika balik
    Cerpen Patah Hati – Yume Monogatari
    Cerpen jepang – Cerpen buatan Sri Yulianti, yang

    Tinggalkan pesan "Cerbung: Bingkai Cerita Cinta"

    Baca Juga×

    Top