Cerbung: Bingkai Cerita Cinta

Di Cerpen Cinta 1453 views

Sajak Mula

Gadis berjilbab cokelat tua dengan setelan gamis warna marun dan sweater yang senada dengan kerudungnya itu masih mengingat betul bagaimana akhir pekan itu terlalui. Dalam hiruk yang tak ujung sepi. Di pojok sebuah etalase buku-buku terbitan luar negeri. Ia masih sibuk mencari karangan Paulo Coelho. Salah satu penulis favoritnya yang membuat ia tertarik mengambil jurusan sastra Indonesia di salah satu universitas ternama di kotanya. Hingga kini ia hampir menuju tahun keempat. Hanya tinggal beberapa bulan lagi ia menginjak akhir semester tujuh.

Ia masih sibuk memilah buku. Menelusuri judul mana yang belum pernah ia miliki, atau hanya sekadar ia baca. Ia tidak akan menyia-nyiakan datang ke toko buku ini. Walau ia tahu anggaran beli buku sudah tidak ada. Sudah ia pakai untuk membeli diktat kuliah yang lebih penting.

Tanpa ia sadari, hasil penelusurannya sudah merambat ke bagian buku-buku non fiksi. Di sebelah rak bagian kanan adalah buku non fiksi islami, dan sebelah kirinya adalah non fiksi motivasi dan umum. Dia bergeser pada bagian kanan. Banyak ia jumpai buku-buku penulis terkenal yang pernah ia tahu. Bahkan sebagian ia temui di beberapa acara seminar dan bedah buku. Ada buku legendaris juga yang ia favoritkan. Serial motivasi pembangun jiwa yang membuatnya bisa berhijrah menjadi sosok muslimah yang sekarang. Beberapa saat ia jadi terkenang bagaimana perjuangannya untuk memakai jilbab besar. Sulit memang, tapi penuh hikmah. Gadis berkulit kuning langsat dengan wajah terbingkai kacamata itu mampu tersenyum sekarang. Semua sudah ia lalui dan ia rasakan sedikit manisnya iman.

“Kaylaaaa!”

Tiba-tiba lamunanya buyar. Sosok gadis berbalut kerudung biru dongker menutup dada dan gamis polkadot dengan dominasi warna senada muncul di hadapan gadis yang sibuk dengan dua buku non fiksi bertema agama di genggaman tangannya.

Seketika gadis bernama Kayla menatap teman yang memanggilnya. Senyumnya miring dan tangannya masih menggenggam buku. Niatnya mengembalikan buku ia urungkan.

“Ada apa, Naz?”

Gadis berbalut kerudung biru dongker itu menghela nafas beberapa kali. Peluh sedikit muncul di bawah atap kerudungnya. Ia berusaha menormalkan kerja jantungnya.

“Maaf ninggalin kamu gitu aja. Nggak nyangka kalau acara meet and greet sama bedah bukunya sampai membludak kayak gini. Maklum, penulisnya rada artis jadi ya gitu deh.” Syanaz, nama gadis berkerudung dongker itu.

Kayla tersenyum padanya, “Nggak papa, Naz. Sudah resiko aku ikut kamu, padahal kamu panitia.”

Syanaz membalas dengan senyum lega. Ia sempat memperhatikan dua buku dalam genggaman Kayla, lalu ia berseru hingga hampir membuat Kayla menjatuhkan buku yang dipegangnya. “Itu buku penulis yang nanti mau ngisi, Kay. Kamu mau beli?”

Sejujurnya Kayla tak sengaja memegang buku itu. Dia hanya merasa tertarik membaca blurp atau sinopsis singkat yang ada di belakang buku itu. sekilas ia baca juga penulisnya.

“Aku nggak sengaja pegang, sih. Jadi, bukunya penulis ini yang nanti bakal ngisi acara? Sudah dateng, Naz?

Syanaz menggeleng. Rautnya agak lelah. Tentu saja gadis itu pasti lelah. Beberapa peserta yang sudah mendaftar belum registrasi. Padahal mereka adalah teman kampusnya sendiri.

“Aku bantu deh!” Kayla menawarkan diri, membuat senyum Syanaz merekah.

“Syukran ya Kay, thanks banget. Ini tugasku cuma nungguin anak-anak dari psikologi yang tadi pesan tempat. Mereka udah registrasi via whatsapp sih, tapi perlu registrasi ulang.” Jelas Syanaz sembari menelusuri area toko buku dengan pandangannya yang sudah lelah.

Kayla mengangguk. Ia sangat paham sesibuk apa Syanaz. Mereka memang berteman karena bergabung dalam komunitas pecinta buku yang sama. Tetapi di sisi lain, Syanaz adalah seorang aktivis dakwah kampus. Selain itu dia juga termasuk pengurus gabungan lembaga dakwah kampus-kampus se-Malang Raya. Acara ini pun atas nama lembaga tersebut. Makanya satu jam sebelum pembukaan Syanaz sudah berada di sini. Kayla bisa ke sini juga karena ajakan Syanaz.

“Aku ke sana dulu ya Kay, mau nyetop anak-anak yang baru datang. Susah nih dihubungi. Nanti kalau kamu ketemu mbak Windi atau Aprilia kasih aja kertas ini ke mereka. Sudah itu aja aku minta tolongnya. Nanti kamu langsung duduk di kursi nomor ini ya? Udah kupesankan tadi. Aku nyusul.” Jelas Syanaz lagi. Sebelum Kayla menjawab, gadis itu sudah tenggelem di puluhan orang yang mulai memadati lokasi bedah buku. Tak sampai sepuluh menit, Kayla bertemu Windi yang masih teman sekomunitas Kayla dan Syanaz. Lalu ia bertolak ke kursi yang tadi dipesankan Syanaz untuk ikut mengikuti acara bedah buku itu.

Kayla tidak tahu siapa penulis yang sedang digandrungi satu ini. Tapi kata Syanaz, dia lumayan terkenal di kalangan anak-anak aktivis dakwah. Apalagi dia juga salah satu aktor youtube yang sering tampil di serial-serial islam di situs video tersebut. Dakwah layar. Begitu Syanaz menjelaskan.

Kayla menerima beberapa brosur dari sponsor dan beberapa stiker juga. Salah satunya menampilkan foto si penulis itu. Sayangnya cetakannya agak buram. Entah karena kualitas foto yang dipakai jelek, atau karena cetakannya tidak begitu bagus. Ia tak ambil pusing dan langsung memasukkannya pada totebag di samping kursinya.

Ia perhatikan, MC sudah sepuluh menit membuka acara. Ia juga sudah membacakan CV dari si penulis. Tetapi belum ada tanda bahwa penulis itu datang. Kayla jadi penasaran bagaiman rupa penulis itu. Ia sedikit menyesal tidak memperhatikan fotonya di buku karyanya tadi.

Beberapa saat kemudian, MC akhirnya memanggil sang penulis. Semua tatapan fokus ke depan. Beberapa berseru bersama menandakan suka cita akhirnya idola yang ditunggu datang juga. Beberapa kelompok perempuan sudah bisik-bisik membicarakannya. Bahkan di seberang agak jauh dari tempat Syanaz duduk, ada yang menyerukan nama si penulis itu.

“Alfa!!! Alfa!!”

Seruan itu baru memfokuskan pandangan Kayla di depan. Sayang sekali pandangannya sedikit tertutup tiang. Tempat duduknya memang tidak begitu strategis untuk melihat ke depan. Berada di bagian belakang sayap kiri dari panggung. Belum lagi, antusiasme peserta di depannya sedikit berlebihan. Mereka sampai berdiri untuk mengamati sang idola itu. Membuat Kayla beristigfar beberapa kali dengan dengusan kesal.

Acara sudah dimulai. Saat itu, Syanaz baru datang.

“Sudah semua?” Kayla menyapa.

Syanaz mengangguk beberapa kali. Disodorkannya minuman yang sempat Kayla bawa dari rumah untuknya. Gadis itu meneguk agak tergesa.

“Pelan-pelan, Naz. Nggak akan ada yang nyuri minumanmu kok.” Ujar Kayla terkekeh.

Syanaz hanya nyengir. Kemudian tatapannya beralih ke depan. Ia amati juga peserta-peserta di depan tempat duduk mereka.

“Masyaa Allah, mereka antusias banget lihat tampang bang Alfa.” Begitu komentar gadis itu.

Kayla hanya tersenyum tipis. Ia kembali memperhatikan di depan. Wajah si Alfa sang penulis itu jadi tak begitu terlihat di antara banyak kepala. Kayla agak frustasi dan memutuskan untuk menyimak sekadarnya. Bahasan yang sempat ia tangkap sebenarnya standar sih. Si Alfa sang penulis itu menceritakan isi bukunya, bagaimana proses menyelesaikan bukunya, inspirasi yang datang, dan bagaimana mengatur waktu di sela-sela sibuknya ia sebagai seorang mahasiswa, aktivis, dan aktor youtube. Ada sesi tanya jawab dan pemberian doorprize pada penanya yang beruntung. Satu jam lebih lima belas menit telah berlalu dan acara itu selesai ditutup dengan booksigning.

“Nggak berminat beli bukunya, Kay? Mumpung penulisnya di sini bisa sekalian minta tanda tangan loh!” rayu Syanaz.

“Haha, kalau buat menaikkan omset, aku belum bisa bantu, Naz. Tahu sendiri ini akhir bulan. Seret deh kantong mahasiwa.” Balas Kayla dengan kelakar.

“Oke, Kay, kalau gitu aku ke sana dulu ya, finishing kerjaan bentar sama sekalian pamit pulang. Insya Allah nggak lama kok.” Pamit Syanaz.

Kayla mengangguk sesaat sebelum Syanaz berlalu. Gadis itu memutuskan untuk menunggu sahabatnya itu di kafe library yang hanya bersekat dinding triplek buatan, dibentuk sebagai penghias dan pembatas antara toko buku dan perpustakaan kafe tanpa ada pintu sebagai penutup. Terlihat sebenarnya toko buku dan kafe ini satu ruangan. Tetapi karena dekorasi dan interiornya sangat apik dan rapi, seakan dua tempat ini berbeda ruangan.

Kayla duduk di salah satu bangku dekat sekat tadi. Beberapa kali ia melirik tempat bedah buku itu dan mengamati Syanaz masih sibuk dengan pekerjaannya. Setelah pesanannya datang, ia menikmati segelas dingin cappucino dan membuka novel yang tadi ia bawa dari rumah.

Tak terasa hampir tiga puluh menit ia menunggu Syanaz. Ia lihat, beberapa pengunjung sudah membubarkan diri. Ia juga tak melihat Syanaz ada di sekitar situ. Bahkan penulisnya sudah tidak ada.

Hm, mungkin dia mengantar si penulis, atau masih ke toilet.

Begitu pikirnya. Jadi ia berniat kembali membaca novelnya sampai ia dengar di samping bangkunya terspasi satu bangku terdengar suara banyak laki-laki bergerumbul di sana dan sedikit berseru memanggil waitress.

Tentu saja suara nyaring itu membuat perhatian Kayla teralihkan kepada mereka. Begitu menoleh, ada sekitar enam pemuda duduk di sana. Dua meja dijadikan satu dan kalimat-kalimat kelakar berbunyi di antara mereka. Dua di antara pemuda itu Kayla pernah lihat karena mereka adalah teman seorganisasi Syanaz di lembaga dakwah, tiga lainnya ia tidak tahu, dan satu orang lainnya –walau ia tidak yakin– ia kenali sebagai si penulis tadi.

Benar. Baju kepanitiaan warna hitam, tertutup jas kasual warna khaki dan celana kain warna hitam. Itu outfit yang dipakai penulis tadi. Kayla benar-benar speechles mengetahui rombongan itu ada di sini sekarang. Dua bangku dari tempatnya duduk.

Walau terspasi, jarak antara dua bangku itu tak terlalu jauh. Kayla jadi tahu bahwa penulis itu ternyata berkacamata. Ia jadi tidak yakin selama bedah buku tadi perhatian ke acara. Tapi dia masih ingat apa yang dikenakan si penulis yang sering dipanggil Alfa oleh penggemar-penggemarnya. Entahlah, setelah ini ia jadi berniat ke poli mata untuk periksa rabun jauhnya.

Suara dari seberang bangku itu begitu ramai. Masih terdengar candaan dan diselingi diskusi-diskusi hangat di antara mereka. Mereka sedikit tenang ketika pramusaji mengantarkan pesanan.

Kayla jadi bingung kenapa sekarang ia malah kurang kerjaan mengamati mereka. Tetapi kalau dipikir-pikir kenapa wajah Alfa si penulis itu begitu familiar ya. Tetapi pikirannya hilang setelah mendengar seruan Syanaz.

“Afwan!!! Kay, jadi nunggu lama ya?” tanyanya sedikit tidak enak.

Kayla menggeleng pelan. Mempersilakan Syanaz untuk pesan terlebih dahulu. Tetapi, gadis itu tidak ingin pesan apa pun.

“Nggak usah, Kay. Tadi ada konsumsi panitia, udah agak kenyang. Hehe. Maaf ya, tadi aku nyari kamu buat ikutan ambil jatah konsumsi, eh, kamunya nggak tahu ke mana. Setelah lihat wa, baru deh tahu kamu nunggu di sini. Oh ya, itu bang Alfa sama orang-orang rombongan juga nongkrong di sini.”

Kayla tidak merespons karena sepertinya kalimat terakhir Syanaz hanya sebuah pemberitahuan.

“Anak-anak peserta tadi ada yang masih nyari Bang Alfa loh. Mereka belum foto bareng katanya. Kayaknya Bang Alfa sengaja langsung ngilang setelah sesi tanda tangan. Hihi.” Jelas Syanaz lagi.

Kayla manggut-manggut, lalu ia segera membereskan barang-barangnya yang tadi ia letakkan di meja. “Habis ini langsung pulang ya Naz, tadi aku intip kayaknya agak mendung.”

“Iya-iya, yuk!” ajak Syanaz.

Setelah Kayla membayar, mereka pun berlalu. Saat itu, gerombolan si penulis juga sudah berlalu. Di depan mereka. Sepertinya mereka kembali akan ke tempat stan book signing atau….

Ternyata tidak.

Beberapa kru memang kembali untuk membereskan barang, tetapi Alfa tidak. Kayla bisa melihat laki-laki itu hanya bersandar santai di dinding toko buku yang tak terjamaah rak etalase. Agak jauh dari hiruk pikuk peserta yang masih berkeliaran di situ. Ia keluarkan ponselnya dan iseng-iseng memotret suasana toko itu. Ia menikmati kesendiriannya sampai terdengar suara nyaring meneriakkan nama penulis itu, agak dekat dari tempat Kayla dan Syanaz berdiri untuk mengantri keluar ruangan toko.

“Kak Alfa!” seru salah satu penggemar itu. Tentu satu teriakan itu bisa menular ke yang lain. Akhirnya beberapa orang dengan sengaja mendatangi Alfa. Memintanya untuk tanda tangan di buku mereka yang barangkali belum sempat ditandangai dan mengajaknya selfie.

Kayla dan Syanaz berpandangan. Agak geli. Memang tidak bisa dihindari ada fans yang fanatik pada idolanya. Dan ini merupakan salah satu contoh. Belum juga kehebohan itu surut. Tiba-tiba, secara mengejutkan, seorang gadis dengan rambut digerai sebahu maju dan berhasil mencuri satu cubitan gemas di pipi Alfa. Semua mata yang berhasil merekam kejadian itu di otak mereka, kaget. Tidak terkecuali Kayla dan Syanaz. Bahkan Syanaz sampai bilang istigfar agak kencang. Kayla sendiri hanya mematung dan malah mengucap istirja’ walau lirih.

“Mending pura-pura nggak lihat, Kay!” bisik Syanaz. Kayla juga mengamini. Entah ini disebut musibah atau kecelakaan. Tetapi itu diluar dugaan. Ada rasa keki juga melihatnya, tetapi rasa konyol dan lucu lebih mendominasi. Semua bercampur.

Sesaat Kayla bisa mengamati bahwa Alfa juga sempat mematung. Matanya sedikit melotot tanda terkejut namun perubahan wajahnya tidak terlalu terdefinisi. Yang jelas, laki-laki itu pasti juga kaget. Tetapi senyum miring dengan sedikit memperlihatkan giginya yang rapi sudah bertengger. Bahkan pemuda itu malah mengajak para penggemarnya untuk pergi ke stand photo booth. Saat itulah Kayla menyadari sesuatu.

Dia mengerti mengapa Alfa tidak begitu asing baginya. Senyum miring laki-laki itu, dengan bingkai kacamata yang menghias wajahnya, postur tubuh yang tinggi dan ideal. Dia begitu mirip dengan seseorang.

Seseorang yang sempat ia sesali sekaligus ia syukuri kehadirannya karena mengenalnya membuat ia bisa berhijrah hingga menjadi Kayla yang berbeda.

————-o0o————-

a/n penulis:

Bagaimana? Masih penasaran dengan kisah Kayla dan Alfa? Makanya jangan lupa vomments ya. Sangat membantu masukan yang diberikan untuk ke depannya.

Terima kasih :))

Regards,

Ayuna

Incoming search terms:

  • kumpulan cerpen dewasa
  • kumpulan cerpen cinta segitiga sedih
  • kumpulan cerpen terkenal 5 halaman
  • cerpen jepang romantis
  • Cerpen Morchris horror
  • cerpen cerita cinta
  • download cerpen bingkai cinta
  • gambar bingkai kepemudaan
  • kumpulan cerbung indonesia
  • Cerita pendek tentang hijrah

Tags: #cerbung #Cinta #hijrah #melankolis

author
Penulis: 
    Cerpen Cinta: Semester Cinta
    Cerpen non fiksi (nyata) tentang cinta yang
    Cerpen Patah Hati: Kau dan dia, saya serta beliau
    Judul cerpen kau dan dia, saya serta
    Cerpen Cinta Romantis: Day by Day
    Judul cerpen day by day (ketika balik
    Cerpen Patah Hati – Yume Monogatari
    Cerpen jepang – Cerpen buatan Sri Yulianti, yang

    Tinggalkan pesan "Cerbung: Bingkai Cerita Cinta"

    Baca Juga×

    Top