CINTA YANG TAK PERNAH KAN BERSATU

 

Mungkin tidak akan pernah ada yang tahu, luka itu masih ada dan aku masih mengharapkannya. Entah sampai kapan, tapi aku sudah berusaha melupakannya namun tetap tidak berhasil. Kini, aku hanya sendiri meratapi diri.

Cinta yang tak pernah kan bersatu

***
Setengah tahun lalu, di kantin sepulang kerja, sore itu hujan deras menyirami tanah yang sudah rindu akan guyuran air. Di penghujung musim panas ini jiwaku seperti tersambar petir saat dokter memvonisku dengan penyakit leukima. Hari-hari sudah tidak seindah dulu lagi. Hanya awan hitam yang selalu menemaniku.
“Hei” seseorang menepuk pundaku membangunku dalam lamunan
“Oh kau Sena”
“Ngelamum aja. Lagi mikirin apa? Aku lihat belakangan ini kamu terlihat murung dan lemas. Kenapa?” tanya teman kerjaku yang sudah seperti sahabat sambil duduk di seberang meja yang sedang aku duduki dan memesan teh hangat untuk menghangatkan badan.
Aku memang belum memberitahukan pada siapapun mengenai penyakit yang aku derita dan aku berusaha untuk bersikap senormal mungkin dengan teman-teman kerjaku di sebuah lembaga pendidikan. Tapi sepertinya dengan temanku yang satu ini sedikit berbeda, dia sepertinya mulai mencium ada yang berbeda dengan diriku.
“Nggak ada apa-apa cuma lagi nungguin hujan reda saja.” Jawabku seperlunya saja.
“Lagi mikirin si Fandy ya?” dia mencoba menerka apa yang aku pikirkan.
Banyak hal yang tidak menyenangkan yang menimpaku beberapa waktu ini. mulai dari ditinggal menikah oleh pacarku sendiri yaitu Fandy sampai aku harus di vonis leukmia. Sering aku menangis sendiri di kamar kosanku namun itu tidak akan menyelesaikan masalah.
“Hei, ngelamun lagi”
“Aku terkena leukimia” tanpa sadar kata-kata itu keluar begitu saja tanpa rem. Padahal tadinya aku tidak mau memberitahukan siapa pun.
Setelah mendengar jawaban tersebut nampak wajah terkejut dari sahabatku yang satu ini. Memang hanya dialah yang selalu perhatian padaku dan entah kenapa aku selalu bisa membicarakan apapun padanya.
Dia hanya terdiam kemudian berkata “aku antar pulang ya, kamu nampak pucat” dia pun mengambil motor sportnya dan mengantarku pulang karena hujan memang sudh reda.
***
Lima bulan berlalu sejak kejadian di kantin itu. Sena semakin perhatian padaku dan keadaanku semakin memburuk. Rambutku mulai rontok, sedangkan aku pun tidak punya uang untuk operasi aku hanya memperlambat perkembangan penyakitnya saja dengan obat.
Kebaikan Sena ternyata memang karena dia suka padaku bukan perhatian seorang sahabat biasa. Beberapa hari yang lalu Sena meminangku dengan cara yang sangat indah. Di sebuah restoran mewah sambil memberikan cincin yang indah dia ingin menikahiku, namun aku menolaknya karena aku kasihan padanya jika menikah dengan seorang penyakitan sepertiku. Memang ada rasa bersalah sana namun aku akan lebih merasa bersalah jika membiarkanya menikah dengan orang sepertiku.
Setelah penolakan itu kebaikan Sena masih tidak berubah bahkan semakin membuatku merasakan cinta padanya. Hingga dua minggu yang lalu Sena mendanai operasiku dan katanya ada orang yang mau mendonorkan sumsum tulang belakang untuku. Aku hanya bisa menangis. Aku malu. Aku sedih aku merasa bersalah padanya. Demi menutupi rasa bersalahku akhirnya aku bersedia menikah denganya.
Dana untuk operasi itu tidaklah murah dan untuk mendapatkan seorang pendonor itu juga tidak mudah. Tapi Sena? Dia terus berusaha untuk kesembuhanku hingga ia bisa mendapatkan semua itu. Sedangkan aku? Aku terus menyakiti hatinya dengan menolak pinanganya. Manusia macam apa aku ini?
Hatiku tersentuh, hatiku luluh tapi kini aku sangat menyayangi Sena. Aku mulai memikirkan sebuah penikahan denganya. Sebuah bahtera rumah tangga dengan kami berdua berada bersama dalam bahtera itu. Merajut kasih dan sayang. Aku mulai berharap padanya.
Beberapa hari kemudian aku sudah mulai masuk rumah sakit dengan ditemani Sena aku menjalani semua prosedur operasi. Aku mulai optimis dengan kesembuhanku. Aku ingin hidup untuk bisa menjalani sisa hidup membangun rumah tangga bersama Sena.
Namun kenyataan tidak seindah yang dibayangkan. Setelah operasi seminggu yang lalu aku tidak mendapatkan kabar dari Sena. Yang aku dapat hanya sepucuk surat yang ia titipkan pada salah seorang perawat di rumah sakit.

Wahai Adindaku sayang.
Aku sangat menyayangimu. Berbulan-bulan ini aku terus berusaha mencari infomasi untuk kesembuhanmu dan aku akan melakukan apapun untuk kesembuhanku meski harus mengorbankan nyawaku.
Aku mohon kau bisa hidup bahagia. Aku ingin kau bahagia. Aku ingin melihat senyum manismu lagi. Aku ingin mengarungi bahtera rumah tangga bersamamu. Tapi ternyata aku hanya bisa jadi penopang hidupmu. Menjadi bagian dalam tubuhmu dengan menjadi tulang sumsummu.
Aku menyayangimu dengan segenap nyawaku.

***

Pasca operasi seminggu yang lalu, dikantin tempat kerja. Kenangan itu mulai menyeruak kembali. Hatiku bergetar. Walaupun dia sudah tiada tapi dia tetap akan ada di hati dan akan terus menemani hariku dalam tubuhku.
Tak terasa air mata mulai luluh memikirkan kembali bahtera yang ingin kita arungi bersama, namun kini bahtera itu telah terhempas, terbalik, terbawa arus dan hancur lebur.

The end

About Retno P.

Seorang ibu rumah tangga berasal dari Bandung yang memiliki hobi menulis. Ingin menyampaikan ide-ide ceritanya dalam sebuah karya tulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *