Cerpen Sedih: Kegelapan

Di Cerpen Sedih 259 views

Judul cerpen kegelapan
Cerpen karangan: ion ajjah
Kategori: cerpen sedih

Hari masih pagi, qiyan telah bangun dan mempersiapkan diri buat berangkat ke sekolah. Jam dinding masih membagikan pukul enam.

“yan, sepagi ini? Tumben nih” tanya mama sesudah melihat qiyan yg sudah rapi.
“kemudian kamu mau pulang kemana, makan dulu” ucap mama yang melihat qiyan akan berangkat menuju tempat tinggal lona.
Qiyan menghampiri mamanya dengan langkah yang pelan. “iya mama,” qiyan pun segera menuju meja makan dan segera melahap roti yg telah pada siapkan mamanya buat sarapan pagi. Sesudah selesai qiyan pun berpamitan dengan mama. Dan tidak lupa ia pergi menemui kakaknya

Qiyan segera bergegas menuju rumah lona yg tidak mengecewakan jauh dari rumahnya. Terlihat pada depan tempat tinggal leni tengah menunggunya.
“woi ngapain lo pada situ entar kesambet baru tau rasa. Mengagumkan mengagumkan kok sukanya ngelamun” ucap qiyan yg menghasilkan leni tersadar berasal lamunannya.
“ngapain lo disini?” tanya leni relatif ketus sebab qiyan yang lagi-lagi membuatnya terganggu akan kehadirannya.
“ya mau jemput pacar gue lah masa mau jemput lo, jangan kegeeran ya” ucap qiyan agak menyudutkannya.
“apa, kegeeran! Emang siapa yg mau sama lo. Ih amit-amit” jawab leni yg relatif terperajat mendengarnya.

“nih pada ngapain sih pagi-pagi udah ribut-ribut, ada apa?” tanya lona yg datang-datang datang yg menghasilkan qiyan dan leni memandang ke arahnya.
“tuh pacar lo, ngajakin gue ribut mulu” ucap leni yang menunjuk qiyan yang menjadi biang keladinya.
“apa? Gue! Yg bener aja, jikalau ngomong tu dijaga ya, asal-asalan lo” jawab qiyan sedikit menaikan volume suaranya.
“gue bener kan! Emang lo yg mulai duluan kok, apa”
“lo tu yang mulai”
“lo”
“lo”
“lo”
“relatif, kalian ini apa-apaan sih” ucap lona yang telah geram melihat mereka berdua berkelahi, mirip layaknya anjing serta kucing yg tak bisa berdamai.
“udah mari berangkat sekolah, nanti kita kesiangan loh” lanjut lona yang mencoba membentuk keduanya tidak bertengkar lagi.
“apa lo”
“udah ayo berangkat” ucap lona yg segera menarik lengan qiyan. Tanpa banyak basa-basi mereka pun berangkat menuju sekolah yg lumayan jauh dan berlawanan arah berasal tempat tinggal lona serta leni.

“udah jangan pegangan tangan terus ah” ucap leni yg agak sebal melihat kedekatan mereka.
“iya…” qiyan tanpa berbasa basi eksklusif melepaskan tangannya dari lona dan tanpa mengatakan lagi beliau pun segera meninggalkan kekasihnya dan leni yg masih resah dengan apa yg mereka lihat.

“bu aku titip ini ya bu”
“ya,”
“lo lagi! Ngapain lo disini” ucap leni setelah melihat qiyan yang tengah berdiri pada depannya. “lo nggak buntutin gue kan” lanjut leni menduga-duga. “buntutin lo? Ya nggak lah, gue disini cuma, tapi kenapa lo jadi pengen tau banget sih!”
Leni terdiam serta pulang seraya mengawasi telatah qiyan yg mencurigakan.
“kenapa lo membeli semua pil itu, apa gunanya pil itu buat lo?” tanya leni yang mengejutkan qiyan, qiyan memandang leni relatif usang serta pulang tanpa penerangan apa-apa.

“gue wajib cari tau ini!”

Terlihat wajah qiyan yg sangat panik entah karena apa, ia mencari seorang yang mampu membantunya.
“gue butuh pertolongan lo sekarang” ucap qiyan yg tanpa menjelaskan apa-apa pribadi membawa leni pergi asal sekolah.

“lo mau ajakin gue kemana sih?” qiyan tidak menjawab serta segera pergi ke rumah.
“kenapa lo ngajak gue kesini? Bukankah ini rumah lo ya?” tanya leni yg relatif kebingungan, qiyan memegan tangan leni dan berkata “tolong bantu gue, apakah lo masih punya pil itu! Apakah gue bisa mendapatkanya lagi?” tanya qiyan relatif memohan.
“pil maksutmu ini?” leni mengeluarkan pil asal pada tasnya.
“apa yg akan kau lakukan menggunakan pil itu, bukankah pil itu adalah obat penenang serta peredam rasa sakit! Memang siapa yang sakit!” tanya leni yang ingin tau, qiyan segera membawa leni menemui kakaknya
“engkau lihat itu, lihatlah siapa yang ada pada sana? Engkau ingin tau lihatlah” ucap qiyan yg terlihat sangat sedih, tanpa disadari air mata leni pun mengalir begitu saja.
“inilah alasanku membeli pil darimu, beliau ringkih, tidak berdaya, dia lemah. Hah” qiyan menarik nafas pada-pada dan mengeluarkannya perlahan.
“kegelapan sudah sebagai teman abadinya, ia buta, beliau tak bisa apa-apa, beliau takut suatu saat beliau wajib berbuat apa, dia sakit sakitnya melebihi rasa sakitku,”
Leni memegang pundak qiyan dan mengatakan “maafkan saya karena saya tidak tau, qiyan”
“tidak duduk perkara, leni”
Qiyan memandang wajah kakaknya yg tengah merintih, beliau tau kegelapan bukalah akhir semuanya,

Cerpen karangan: ion ajjah

Cerita kegelapan merupakan cerita pendek karangan ion ajjah, kamu bisa mengunjungi laman spesifik penulisnya buat membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

Tags: #sedih

author
Penulis: 
Cerpenis asal Jonggol
No related post!

Tinggalkan pesan "Cerpen Sedih: Kegelapan"

Baca Juga×

Top