CERPEN INSPIRATIF TENTANG PERJUANGAN MELAHIRKAN SEORANG ANAK

MENANTI LAHIRNYA MALAIKAT KECIL

Di ruangan 3×3, sore itu selepas adzan ashar keadaan sudah mulai tidak terkendali. Sakit perut yang tak tertahan semakin sering terjadi. Di dalam ruangan hanya ada ibu Bidan dan ditemani suami. Aku terbaring kesakitan. Sudah pembukaan 10.
Berkali-kali rasa sakit perut itu datang namun sang jabang bayi masih belum keluar. Ibu bidan merasa keheranan dengan keadaan saat itu. Sudah hampir 3 jam tapi masih belum ada perkembangan. Aku pun sudah merasa lelah dengan rasa sakit yang semakin sering datang dan semakin sakit terasa. Suamipun terlihat gusar melihat sang istri masih berjuang untuk melahirkan anak kedua kami.
“abi, sepertinya umi sudah tidak kuat. Bagaimana kalau melahirkan secara caesar saja” kataku sambil memegang tangan suami yang berada disamping kananku.
Suamiku masih terdiam, masih ingin melahirkan secara normal. Karena pada kehamilan yang pertama saya bisa melahirkan dengan normal. Namun entahlah keadaan saat ini berbeda dan setelah bidan mengecek ternyata memang posisi bayi bergeser sedikit dari jalur melahirkan jadi memang harus di ceasar.

Cerpen inspiratif tentang perjuangan melahirkan seorang anak
Keadaan semakin tidak menentu saat bidan mengatakan hal tersebut. Ibu bidanpun mulai mencari rujukan rumah sakit yang akan dituju untuk cesar dan suami segera mencari pinjaman mobil untuk membawaku ke rumah sakit. Beberapa teman ia telephone dan akhirnya ada sabahat suami yang bersedia meminjamkan mobilnya pada kami.
Dan saat maghrib kami baru bisa mendapatkan rumah sakit yang siap untuk operasi ceasar yang jaraknya tidak terlalu juah dari tempat prakter ibu bidan saat ini.
Kamipun menaiki mobil namun ditengah perjalanan tiba-tiba pecah ketuban dan akupun sudah semakin kelelahan. Dalam hati terus berdoa semoga sang bayi tetap selamat.
Saat tiba di rumah sakit sang dokter dan perawat sudah menunggu di ruang operasi. Sang dokerpun langsung menyuntikan obat bius, dan dalam seketika rasa sakit yang selama berjam-jam dirasakan hilang sudah. Akupun tak sadarkan diri.
Satu jam kemudian aku mulai tersadar namun rasa kaku masih dirasakan di sekujur tubuh. Rasa sakit yang dirasa terbayar sudah saat bisa melihat malaikat kecil berada di sampingku saat ini. akupun tersenyum.

About Retno P.

Seorang ibu rumah tangga berasal dari Bandung yang memiliki hobi menulis. Ingin menyampaikan ide-ide ceritanya dalam sebuah karya tulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *