ANAK MENJADI JALAN HIJRAH

Sebuah kisah nyata

Ini adalah pengalaman seorang ibu yang memilik 2 anak.

Pernah tidak ibu-ibu merasa kebingungan saat anaknya sedang sakit dan sudah ikhtiar ini itu tapi tidak kunjung sembuh? Memberi obat tapi tidak dimakan malah dimuntahan. Datang ke dokter tidak dikasih arahan penyakitnya malah ditakuti-takutin penyakit keras dan akhirnya cuma dikasih obat namun tetap sang anak tidak mau makan obat.
Seorang ibu pasti tahu rasa khawatir saat anaknya jatuh sakit seperti itu.

Dan cerita ini berawal pada bulan Juli 2018 anak yang kedua berumur 2 tahun sakit panas kemudian batuk-batuk. Dikasih obat hebal malah batuknya semakin parah. Hari ke-3 demamnya belum juga sembuh kemudian pada paginya sang ibu mencoba membawanya ke Dokter. Sang Dokter hanya bilang “…Jika demamnya besok masih belum turun atau turun tapi anaknya tetap lemas cepat bawa lagi kemari. Takutnya sakit demam berdarah” kemudian ia pun memberikan 3 macam obat yaitu obat batuk, obat demam dan antibiotik.

Anak menjadi jalan hijrah

Sampai di rumah si Ibu pun mencoba meminumkan obat tersebut namun sang anak menolak minum obat malah nangis sejadi-jadinya dipaksa juga malah dimuntahkan lagi, coba diminumkan lewat makanan juga tidak dimakan.
Semua usaha sudah dicoba namun hasilnya tetap mentok. Kondisi si anak pun semakin lemas karena makanan tidak ada yang masuk dan obat juga tidak dimakan. Berat badan si anak pun turun drastis. 9 kilo untuk anak 2 tahun adalah berat badan sudah di bawah normal.
Jika ibu-ibu pada posisi seperti itu akan berbuat apa?

Sang Ibu sudah kehilangan akal. Pusing mendera dan ia pun tidak nafsu makan. Diantara kebingungan itu dan sudah tidak tau lagi ikhtiar apa yang harus dilakukan sang ibu pun akhirnya menyerahkan urusan pada Allah. Malam itu ia bertobat. Memohon ampunan padaNya. Malam itu di atas sajadah ia menangis sejadi-jadinya. Dan merendahkan diri pada sang pemilik kehidupan.

Beristighfar sebanyak-banyaknya. Bertafakur atas semua dosa yang telah diperbuat dan berniat akan memperbaiki diri juga ibadahnya.
Yang tadinya suka melalaikan shalat jadi akan di awal waktu. Yang tadinya Shalat malamnya bolong-bolong ia berazam akan mengistiqomahkan shalat malam juga dhuhanya. Yang tadinya tilawah 1 juz menjadi 2 juz. Juga ia akan banyak bersedekah. Juga shalat rawatib mulai di istiqomahkan serta dzikir pagi dan petang mulai dilakukan.
Malam itu menjadi titik balik hijrahnya. Perubahan yang sangat drastis ia lakukan demi keselamatan anaknya.

Dan benar saja, besoknya ia dapati sang anak demamnya sudah turun meski tidak harus minum obat dan ia sudah mau makan tanpa dipaksa. Semua semakin membaik kini berat badan anaknya sudah ideal dan menjadi anak yang sangat aktif.

Anak adalah titipan Allah. Jiwanya masih sangat bersih dan suci tidak mungkin dia terkotori dosa. Yang ada adalah dosa orang tuanya yang memicu musibah datang.
Saat kita terkena musibah itu adalah cara Allah untuk mengingatkan kita bahwa ada sesuatu dari diri kita yang harus diperbaiki. Itu adalah cara lembut Allah untuk memanggil kita kembali padaNya. Wallahu’alam. Ini hanya sebuah pengalaman. Jika bermanfaat silahkan dipraktekan sendiri.^_^

About Retno P.

Seorang ibu rumah tangga berasal dari Bandung yang memiliki hobi menulis. Ingin menyampaikan ide-ide ceritanya dalam sebuah karya tulis.

One comment

  1. Masya Allah inspiratif bgt,. Membuka sudut pandang baru buat saya yg juga seorang ibu.,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *