Aljave (The Rise Of Talva) chapter 3

 

MASIMA KALIM

 

Kota Almanda kerajaan Aljave

Sungai itu tampak syahdu melantunkan gemericik riak air yang merdu dan seolah tanpa ada rasa lelah selalu bergoyang karena banyaknya kapal yang berlabuh dan berlayar di pagi dini hari ini. Sungai yang membelah 2 bagian wilayah Almanda menjadi wilayah Utara dan Selatan ini sering disebut masyarakat dengan anak laut Almanda karena begitu luas seperti sebuah lautan dan panjangnya terbentang dari Barat sampai Timur Almanda kemudian diakhiri dengan sebuah air terjun menuju Laut Almanda.

Matahari belum menampakkan kekuasaannya, masih bersembunyi dalam gelapnya malam. Ini adalah pagi yang sangat dingin karena angin berhembus dengan kencang menyapa kulit membuat orang-orang ingin memakai mantel tebal berbahan wool. Di sepanjang bibir sungai berdiri bangunan-bangunan sederhana berupa rumah panggung yang dijadikan tempat patroli pasukan dari kerajaan dan ada mercusuar di sana. Pasukan itu seperti tidak punya rasa lelah memunguti pajak dari para pedagang yang ingin melewati sungai Almanda ini.

Ada berpuluh-puluh kapal yang terparkir di sepanjang bibir sungai. Dari Barat sampai Timur Almanda bagian Selatan ini menanti persetujuan dari pasukan Kerajaan agar bisa berlayar menuju Almanda bagian Utara yang merupakan pasar terbesar di kerajaan Aljave.

Wilayah Selatan Almanda ini dihuni oleh para pemasok atau para pengrajin yang menjual hasil kerajinannya di pasar Almanda di bagian Utara. Dermaga sungai bagian Selatan ini bagaikan kota yang tidak pernah tidur dan selalu terdengar bising dari mesin-mesin kapal itu. Dari pagi hingga malam selalu ada yang berlayar dan berlabuh namun semenjak pemerintah dipegang oleh Raja Jalva 5 tahun lalu intensitas kapal yang berlalu-lalang mulai berkurang. Karena Jalva menerapkan tarif pajak yang sangat tinggi sehingga para pengrajin itu mengalami kerugian besar.

Sebelum Jalva hadir dermaga itu selalu penuh dengan gerobak barang dari para pengrajin untuk di bawa menuju pasar di bagian utara dengan menggunakan kapal tersebut. Dengan tarif pajak yang tinggi banyak pengrajin yang bangkrut dan beralih profesi menjadi petani.

Keadaan ini dimanfaat oleh Masima Kalim untuk mendapatkan penghasilan. Mereka menyebutnya ‘Sang Pengantar’. Di ujung Timur sungai itulah dia beroperasi karena bagian itu tidak di awasi oleh pasukan kerajaan. Namun penuh risiko besar karena harus berhadapan dengan air terjun yang langsung mengantarkan pada lautan luas.

Dia hanya minta bayaran setengah dari pajak yang ditetapkan Jalva karena itu banyak pengrajin yang beralih menggunakan jasa sang pengantar untuk mengantarkan barang dagangannya menuju Almanda Utara. Seperti pengrajin barang-barang rumah tangga yang satu ini.

“Hei Masima seperti biasa antarkan semua ini menuju Toko Arsyima yang berada di Utara. Ini bayarannya.” Masima hanya mengangkat tangan menandakan OK sambil memakan makanan kesukaannya yaitu Jenam. Jenam adalah semacam manisan buah dengan memakai gula merah. Rasanya sangat manis. Itu adalah makanan khas orang Almanda.

Selesai mengangkut semua barang ke dalam kapal Masima pun segera mengangkat jangkar, layar mulai dikembangkan dan ia pun siap berlayar melintasi sungai menuju Almanda bagian Utara. Laki-laki bertubuh gempal ini tampak duduk santai dengan kaki terangkat di depan kemudi kapal. Dan seperti tidak ada rasa bosan terus memakan jenam, ini sudah bungkus yang ke-3 habis.

Langit sudah tampak bercahaya, matahari mulai muncul dengan cantik memberikan sinar hangatnya. Angin berhembus dengan kencang membuat layar terkembang sempurna. Namun ada sedikit goncangan pada kapal, arus mulai besar terlihat air terjun di sana sudah dekat. Masima segera bangkit dari tempat duduknya dan melakukan sedikit manuver kemudi agar tidak terbawa arus air terjun. Namun sial di bagian buritan kapal terkena sedikit batu karang dan arah kapal menjadi melenceng ia harus segera putar arah agar kapal bisa tetap pada jalurnya.

Di tengah kekacauan tersebut dia hanya butuh memejamkan mata, konsentrasi pada tubuh kapal dan biarkan ia menjadi kapalnya. Dengan kemampuan telekinetisnya dia bisa memindahkan barang dengan pikirannya tanpa harus menyentuh barang tersebut dan akhirnya arah kapal bisa segera kembali pada jalurnya.

Kemampuan ini ia dapat sejak kecil. Entah bagaimana awalnya hanya saja setiap ia berkonsentrasi pada suatu barang yang diinginkan maka barang itu akan mengikutinya. Namun kemampuan ini seperti pedang bermata dua di mana jika kau menggunakannya terlalu berlebihan maka akan mengurus seluruh tenagamu bahkan bisa sampai kematian. Karena itu Masima hanya menggunakan kekuatan di saat genting saja seperti saat ini karena Sungai Almanda bagian Timur memang sangat mematikan. Bagi yang tidak bisa mengendalikan kapal maka akan terseret arus air terjun dan akan berakhir dengan terhempas di dasar lautan.

***

Masima pun sampai di dermaga kota Almanda bagian Utara. Jangkar di turunkan dan barang-barang diangkut menggunakan gerobak. Terlihat pasar yang sangat luas ada di depannya. Itulah pasar terbesar di kerajaan Aljave. Pasar Almanda.

Segala macam barang ada di sini. Jika kau sedang mencari sesuatu maka kau bisa mendapatkannya di sini. Mulai dari makanan, barang kebutuhan rumah tangga sampai perlengkapan perang ada namun tetap untuk kualitas peralatan perang klan Daseva lah yang terbaik.

Banyak toko-toko yang sudah buka sejak dini hari tadi. Pasar ini hampir tidak pernah sepi dari kunjungan. Perputaran uang terbesar terjadi di sini setiap hari dan karena itulah Jalva menjadikan wilayah putih ini sebagai daerah jajahannya agar ia bisa mengeruk banyak uang untuk digunakan dalam misi menaklukan dunia.

Pasar ini tampak sibuk orang-orang hilir mudik datang silih berganti. Orang yang datang kemari tidak hanya berasal dari Almanda saja namun dari kerajaan lain pun mencari barang kebutuhannya di sini. Dermaga itu selalu penuh dengan kapal-kapal yang ingin ikut bertransaksi di sini.

Di antara semua kesibukan para pedagang itu ada juga yang lebih sibuk setiap harinya yaitu para pasukan kerajaan. Mereka tidak pernah lelah dan bosan menagih pajak kepada para pedagang itu.

Masima tampak sudah kenal dengan semua keadaan ini dan ia tidak mempedulikan itu semua yang dia pikirkan hanya menyelesaikan misi mengantarkan barang. Dengan mantap ia berjalan menuju sebelah kanan dermaga karena di sanalah toko Arsyima berada. Tidak jauh dari dermaga toko itu tampak sederhana dengan plang dari kayu bertuliskan ‘TOKO ARSYIMA’ menggantung di dinding. Ia pun masuk.

Klining. Terdengar bel berbunyi menandakan ada yang masuk toko. Terlihat dalam toko seorang lelaki paruh baya yang memakai kacamata sedang melayani pelanggan dan ada 2 orang lelaki lainnya juga sedang sibuk dengan pelanggannya.

“Hei Arsyima, sepagi ini tokomu tampak ramai sekali seperti buih dalam lautan saja.” Masima langsung mendekati pria yang selalu memakai kemeja putih dan mengganggu pembicaraan pria tersebut dengan seorang pelanggan perempuan muda.

“Oh kau Masima, syukurlah kau datang. Seminggu ini aku kewalahan karena pesanan barang semakin banyak. Sudah seminggu yang lalu aku pesan pada Rama untuk dikirimkan barang namun baru hari ini dikirim. Lihatlah tokoku! sudah seperti toko yang kerampokan saja karena persediaan barangku sudah habis…” Jawab Arsyima yang sebelumnya mengatakan ’sebentar’ pada pelanggan perempuan itu. Sang pelanggan tampak kesal dan langsung pergi keluar. “…Perempuan itu pun kecewa karena barang yang carinya sudah habis.” Lanjutnya dengan berbisik pada Masima.

“Barangmu ada di gerobak yang aku parkir di depan toko.”

Klining terdengar kembali bel ada beberapa orang yang datang namun kali ini Arsyima membiarkan 2 orang pegawainya yang menanganinya.

“Terima kasih Sima. Apa kau mau minum dulu?” Tawar sang pemilik toko pada sang pengantar.

“Tidak, terima kasih. Aku mau ke tempatnya Mazaya untuk memperbaiki kapal yang tergores batu karang saat hendak kemari. Ini harus segera memperbaikinya sebelum terjadi kebocoran besar. Tapi sebelum itu aku juga harus ke toko Selma, persediaan Jenam ku sudah habis.” Tolak Sima dengan mengangkat tangannya.

Mazaya adalah tempat bengkel kapal langganannya Masima sedangkan Selma adalah tempat kedai makanan yang menyediakan makanan khas Almanda.

“Baiklah kalau begitu.” Ia pun membiarkan Masima pergi dari tokonya dan mulai memajang barang dagangannya di etalase toko.

Selang beberapa saat, tak jauh dari toko Arsyima hanya dipisahkan sekitar 5 toko ke kiri ia pun tiba di sebuah kedai makanan dengan desain mirip seperti bar namun makanan yang di sajikan adalah makanan khas orang Almanda. Kedai itu sudah terkenal sebagai tempat oleh-oleh orang berkunjung ke sini.

“Selma, Jenamku sudah habis. Berikan aku seperti biasanya ya.”

“Kau masih saja suka makan manisan itu? Pantas saja tubuhmu semakin besar…” jawab seorang perempuan berambut panjang dengan memakai gaun berwarna putih bermotif bunga. Sangat feminin dan manis. “…ini Jenam-mu.” Lanjutnya sambil memberikan sekantong Jenam pada Sima panggilan akrab laki-laki bertubuh gempal itu

“Terima kasih Selma.” Ia memberikan sejumlah uang untuk kemudian pergi menuju bengkel Mazaya.

“Hei, tunggu Sima. Tadi ada dua orang laki-laki mencarimu kemari.”

“Siapa?” Sima menghentikan langkahnya.

“Entahlah, aku baru melihat mereka di sini. Tampaknya mereka memiliki urusan penting denganmu.”

Sima hanya mengangkat bahu dan berkata

“Jika mereka kembali katakan saja aku ada di tempatnya Mazaya seperti biasa.”

“Aku sudah menyuruh mereka ke sana. Mungkin mereka sudah menunggumu di sana sekarang.”

“Baiklah. Aku pergi dulu.”

 

***

Bengkel yang lebih tepat dengan sebuah gubuk yang tak berdinding itu tampak senyap. Sang montir kapal terlihat sedang sibuk memperbaiki buritan kapal yang retak oleh batu karang. Menyisakan 3 orang yang duduk di sebuah kursi panjang dalam gubuk itu.

“Jadi kau sedang mencari seorang pengantar. Kau datang pada orang tepat anak muda. Bayaranku 100 Plat sekali berlayar.” Plat adalah mata uang di kerajaan Aljave. 100 Plat setara dengan harga emas 10 gram.

“Ini, ambillah.” Talva memberikan sekantong emas pada Masima.

Melihat emas yang terlalu banyak, hatinya merasa tidak enak.

“Apa maksudnya ini? ini terlalu banyak. Kau mau kuantar ke mana dengan emas sebanyak ini?”

“Antarkan pasukanku menuju istana Aljave di kota Jave. Pertemukan mereka dengan Jalva.” Jawabnya dengan penuh keyakinan.

“Kau pasti sedang bergurau kan?” laki-laki berumur 30 tahun itu merasa sangsi dengan permintaan seorang pemuda berumur 25 tahun itu. Namun Talva hanya membalas dengan tatapan penuh keyakinan yang menandakan bahwa dia sedang tidak bercanda.

“Apa yang akan kau lakukan di Istana Raja itu? Dan apa maksudnya ingin bertemu dengan Raja Jalva? Apa kau ingin bertemu dengan idolamu Heh?” Tanyanya nyinyir.

“Tidak, bukan aku yang kau antar ke sana. Pasukanku. Kau harus mengantarkan 100 orangku menuju istana dengan selamat tanpa terjadi konfrontasi dengan pihak kerajaan.”

“Pasukan? apa sedangan kau rencanakan dengan itu?”

“Aku hanya sedang mencoba mengambil kembali apa yang menjadi hak-ku Sima.” Jawabnya datar.

“Apa kau bermaksud menyerang istana menggunakan pasukan yang hanya 100 orang itu?” Penasaran sang pengantar sedangkan Talva hanya tersenyum.

“Apa kau bermaksud bunuh diri? Menyerang istana hanya dengan 100 orang? Heh. Bodoh sekali.” Sambil melipat tangan di dada tanda merendahkan Talva.

“Pasukan Jalva lebih banyak dari itu. Aku dengar dia sedang mengumpulkan pasukan untuk berperang dengan kerajaan Yuvaria. Apa kau pikir bisa menang hah?” Lanjutnya. Terdengar seperti sedang penasaran akan tindakan yang akan dilakukan Talva.

“Tentu saja bisa menang jika kau mau ikut bagian dalam misi ini.”

Masima terdiam sejenak dan kembali berkata

“Jalva itu sangat kuat. Aku pernah berhadapan dengannya sekali di Istana Almanda saat ia mengambil alih kekuasaan dari raja kami. Mereka membawa hewan yang sangat mengerikan. Hewan itu sangat besar dan menyemburkan api dari mulutnya bahkan seratus pasukan kerajaan pun tidak dapat menangani hewan itu. Kau tahu sedang berhadapan dengan siapa?” paparnya tentang kekuatan Jalva.

“Apa kau sedang ketakutan Masima?” akhirnya Selim ikut buka suara.

“Apa maksud perkataanmu hei anak kecil?” ada hawa jengkel dari pertanyaan Masima

“Bilang saja kau takut reputasi tidak ‘pernah gagal’mu terpatahkan dengan misi ini.” Selim menyerang Masima.

“Hei hei apa-apaan kalian ini? apa kalian sedang mencoba menekanku?” ada gurat kekesalan di wajahnya

“Tidak kami hanya sedang tawar menawar untuk bisa membeli jasamu.” Balas Talva dengan sangat tenang. Melihat ketenangan Talva, Masima hanya bisa mengusap wajah dan menghela nafas kemudian berkata.

“Baiklah. Aku ambil emas ini. Sekarang katakan, apa yang harus aku lakukan untuk bisa mengantarkanmu pada Jalva?” Masima pun mau bergabung dalam tim.

***

Sementara itu di gua lereng gunung Sutra ada seorang pandai besi yang sedang kecewa. Hatinya sedang tersakiti dan menangis.

“TUAAN. KUMOHON JANGAN BERIKAN EMASKU PADANYA. ITU BAYARAN 3X LIPATKU.” Teriak kesedihan dalam hatinya sambil sedang menempa besi untuk membuat baju zirah atas perintah Talva. Daseva tampak menempa besi dengan kesal karena emas yang diberikan Talva untuk Masima adalah ‘bayaran 3x lipatnya’ Daseva

About Retno P.

Seorang ibu rumah tangga berasal dari Bandung yang memiliki hobi menulis. Ingin menyampaikan ide-ide ceritanya dalam sebuah karya tulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *