Aljave (The Rise Of Talva) chapter 2

Aljave chapter 2

SELIM DEU KUZET

Belantara Hutan di Negara bagian Sutra Kerajaan Aljave
Angin berhembus lembut
Tanda musim akan berganti
Ia akan datang
Membawa matahari bersama pasukannya
Oh alam buatlah aku tenang bersamamu
Tidur dalam kesejukan udara pagi
(nyanyian alam)

Laki-laki yang memakai baju berwarna coklat muda yang sudah lusuh itu tampak sangat damai menyanyikan lagu tersebut sambil tiduran mengangkat kaki di sebuah batang pohon besar dalam hutan Sutra dengan buah apel tergenggam di tangannya.
Orang sering memanggil hutan Sutra dengan ‘hutan kematian’ di mana jika masuk dalam hutan itu kau tidak akan bisa kembali hidup-hidup karena tidak ada orang yang bisa membayangkan makhluk seperti apa yang bersemayam di sana. Oleh sebab itu penduduk Sutra tidak ada yang berani memasuki hutan ini. Ada hawa menakutkan di sana.
Pasca meletusnya gunung Sutra 114 tahun lalu menyebabkan area yang dilalui lava awalnya adalah daerah mematikan dengan banyaknya gas beracun dan debu vulkanik karena itu hutan terlarang. Namun seiring dengan berlalunya waktu kawasan mematikan itu berubah menjadi tanah yang subur dan terbentuklah hutan dengan hewan-hewan penghuni hutan yang tidak bisa kalian bayangkan sebelumnya. Tidak ada manusia yang berani memasuki hutan ini.
Namun berbeda dengan Selim Deu Kuzet yang sudah menjadi penghuni hutan itu sejak kecil. Ya! dia adalah salah satu penghuni hutan kematian itu. Klan Kuzet adalah suku asli dari negara bagian Sutra. Beberapa tahun yang lalu Jalva membantai semua suku asli dan menyisakan Selim yang waktu itu masih berumur 6 tahun. Untuk menyelamatkan diri dari Jalva, Selim pergi ke hutan dan akhirnya bisa bersahabat dengan semua penghuni hutan kematian ini. Seperti elang besar setinggi 5 meter ini tampak sedang mengabarkan sebuah berita pada Selim yang sedang tertidur di atas tangkai pohon besar itu.
“Apa? Sniki lagi-lagi membuat ulah di lereng gunung itu? Aku harus lebih keras lagi padanya kali ini…” Selim berkata pada burung besar itu. Sang burung hanya mengangguk. “…ayo antar aku ke sana Glee.”
Ia menaiki punggung sang burung kemudian pergi menyusuri hutan Sutra yang luasnya adalah setengah dari luas negara bagian Sutra menuju lereng gunung yang berada di tengah hutan.
Terlihat ular besar berdiameter sekitar 2 meter dan panjangnya hampir 20 meter itu sedang bertarung dengan seekor Gorilla yang tingginya sekitar 3 kali tinggi orang dewasa. Sang Gorilla membanting ular tersebut dan sang Ular tampak kepayahan namun ular itu bisa kembali bangkit.
“GRRROAAAAAAR.” Gorilla itu mengamuk
Ular itu berdesis dan menjulurkan lidahnya.
“SSSSSSHHHHHHHH”
Melihat hal tersebut Selim turun dengan segera lebih tepatnya melompat dari punggung Glee dan tepat mendarat di atas kepala ular kemudian dengan cemeti yang selalu ia lilitkan di dadanya itu, ia gunakan untuk mencekik sang ular.
“Hei Sniki berhenti berbuat ulah. Sedang apa kau di wilayah Graha?” Graha adalah sebutan untuk Gorilla besar itu.
“Oh kau Selim. Aku hanya sedang cari makan tapi tiba-tiba Gorilla itu marah tanpa sebab. Lepaskan cemeti itu. Aku kesakitan.” Itu jawaban ular itu dalam bahasa ular yang jika orang awam pasti tidak akan mengerti apa yang sedang dia katakan, namun bagi laki-laki berkulit sawo matang ini dapat dimengerti dengan baik karena dia sudah berada dalam selama 10 tahun. Dia bisa mengerti bahasa semua hewan di sini.
“Hei Graha, apa benar yang dikatakan Sniki?” Selim masih belum melepaskan cekikan itu. Bagi para hewan penghuni hutan Sutra ini Selim adalah pemimpin mereka. Mereka takluk padanya. Tidak ada yang bisa mengalahkannya. Meski tubuh hewan-hewan tersebut lebih besar darinya namun Selim tahu betul kelemahan semua hewan di sini dan dia bisa memanfaatkannya saat bertarung dengan mereka termasuk Sniki. Ular besar yang satu ini memang paling bandel. Dia sering mengganggu wilayah kekuasaan hewan lain seperti saat ini. Kelemahan ular adalah jika bagian lehernya dicekik maka ia akan bisa dikendalikan.
“Ya dia memang sedang cari makan tapi yang mau dia makan adalah Grame, anakku. Aku hanya sedang melindungi anakku Selim.” Jawab Gorilla besar itu.
“Sniki, kembalilah ke wilayahmu atau kau akan aku cekik hingga mati.” Laki-laki berambut sedikit panjang bergelombang itu pun melepaskan cemetinya dari ular itu. Sang ular hanya bisa pergi dengan lemas.
Di hutan ini setiap hewan memiliki daerah kekuasaan masing-masing bagi yang melanggarkannya maka yang memiliki daerah tersebut bebas melakukan apa saja bagi yang melanggar.
“Selim. Kawanan burung di atas mengatakan ada yang 2 orang manusia memasuki wilayah hutan. Apa kau mau melihatnya?” Glee kembali mengabarkan sebuah berita pada Selim.
“Siapa yang berani memasuki hutan kematian ini?”
Karena penduduk sekitar Sutra tidak akan berani memasuki hutan tersebut, pasti yang datang adalah orang dari luar Sutra. Hatinya merasa tidak enak, teringat kejadian 10 tahun lalu saat Jalwa dan pasukannya tiba-tiba datang ke wilayah Sutra kemudian membantai semua keluarganya sehingga memaksa Selim untuk memasuki hutan.
***
10 tahun sebelumnya di pintu gerbang hutan Sutra
“TERLARANG”
Tulisan itu terpampang jelas di sebuah pagar yang mengelilingi hutan Sutra dengan menggunakan warna merah tebal yang menandakan hutan ini sangat berbahaya. Bagi warga sekitar tanda itu sangatlah sakral mereka menuruti perintah itu.
Hutan itu memang selalu tampak misterius bagi suku Kuzet mereka meyakini hutan itu sangat keramat dan tidak ada yang berani masuk ke sana kecuali jika kau ingin mati. Sekelilingnya di pagar dari kayu dengan tanda silang merah yang artinya tidak boleh memasuki kawasan hutan. Suku yang sudah mendiami kota Sutra sejak bencana dunia ini hanya ingin hidup damai dengan bercocok tanam sebagai mata pencahariannya.
Hingga di suatu malam. Malam tak berbintang itu menjadi saksi bisu akan sebuah kekejaman yang dilakukan Jalva. Saat itu laki-laki berumur 40 tahun dan berperawakan tinggi besar tersebut hendak berburu di hutan Sutra. Namun penduduk memperingatkan jangan masuk menuju hutan kematian karena di sana banyak hewan buas namun Laki-laki berkulit kuning langsat itu tetap bersikeras untuk masuk bersama pasukannya.
Saat itu Jalva belum menjabat sebagai Raja. Dia hanya seorang adik dari Raja. Baginya hidup sangat membosankan hingga ia menemukan hutan Sutra. Adrenalinnya serasa mendapatkan nutrisi untuk jiwa yang selalu ingin berperang ini. Di hutan itu, jiwa bengisnya mulai bangkit. Berburu hewan buas menjadi sangat menyenangkan baginya hingga ia berpikir membawa hewan-hewan tersebut ke Istana sebagai teman berlatih.
“Maaf yang Mulia kami tidak bisa membiarkan Anda membawa hewan itu ke Istana karena itu akan membuat alam marah.” Samayah, sang ketua Suku Kuzet memberi peringatan pada Jalva sebagai ketua suku di depan pagar hutan saat Jalva membawa hewan setinggi 5 meter dimasukan ke dalam kandang besi.
“Apa kau bermaksud melawan pihak Istana? Hah?” dengan angkuh pria paruh baya itu menjawab.
“Tidak, bukan begitu maksud kami. Mohon mengertilah keadaan kami yang tidak bisa menanggung kemarahan alam yang Mulia.” Samayah memohon sambil tertunduk.
“heh? Kemarahan alam? Jika kalian tetap menahanku seperti ini maka rasakanlah kemarahanku…” Jalva mengangkat tangan dan berkata “ Prajurit! Serang!” lanjutnya dengan penuh kemarahan memberikan komando pada pasukannya untuk menyerang suku Kuzet ini.
“Jangan sampai ada yang tertinggal.” Perintahnya sambil ia berlalu dari sana dan kembali mengurusi ‘hewan peliharaannya’ untuk di bawa ke istana.
Sementara itu Sraya yang sedari tadi melihat keadaan luar dari dalam rumah segera mengambil tindakan untuk pergi dari perkampungan agar terhindar dari ‘kemarahan Jalva’. Ia menggendong Selim yang merupakan anak dari sang ketua suku dari sana namun dalam keadaan panik tersebut Sraya tidak berpikir panjang dan pergi menuju hutan.
“Ibu, kenapa kita ke hutan? Bukankah ibu selalu memarahiku jika bermain di hutan kenapa sekarang kita kemari?” Selim yang baru bangun tidur terkejut saat mendapati dirinya sedang berada di hutan bukan di tempat tidurnya.
“Sssttt.” Sang ibu memperingati anak berumur 6 tahun agar jangan berisik karena ada sesuatu yang sedang mendekat.
Terdengar nafasnya begitu berat seperti desisan seekor ular namun ini berbeda. Suara itu terdengar sangat jelas. Begitu dekat sehingga mereka bisa merasakan hembusannya. Di balik pohon mereka mencoba berlindung namun seolah hewan itu bisa merasakan keberadaan mereka. Ular itu mendekat hingga wanita itu merasakan air liur hewan itu berada di pipinya.
“LARI SELIM” Teriak sang ibu.
Mata Selim terbelalak melihat ular setinggi hampir 2 meter itu. Ia terpaku tidak beranjak dari tempatnya.
“LARIIIIII” Teriakan ibunya yang kedua kali ini membangunkannya dalam keterpakuan, ia pun berlari. Sraya mencoba mencegah Ular itu mengejar anaknya dengan memukulnya dengan batu atau kayu yang berada di dekatnya namun itu tidak membuat ular itu terluka sedikit pun. Wanita itu mencoba berlari namun langkah tidak sebanding dengan kecepatan gerak ular tersebut dalam sekejap saja wanita itu menjadi santapan ular lapar.
“IBU……..” teriak Selim sambil terus berlari tanpa menghiraukan sekitar. Ingin ia kembali tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa. “…..ibu……..” air mata pun mengalir jatuh mengiringi kematian sang Ibu.
Langkah cepatnya tidak terhentikan. Ia terus melangkah meski lelah mendera namun tidak mengendurkan kecepatannya.
“Hah. Hah.” Nafasnya terengah. Ditemani cahaya bulan ia terus berlari meski tidak ada tujuan. Pepohonan dianggap seperti angin lalu dan suara-suara makhluk nokturnal tidak mengendurkan derap langkah cepatnya. rasa takutnya mengalahkan lelah yang mendera ia terus berlari.
Berlari. Berlari. Berlari hingga ia tidak sadar bahwa kakinya sudah membawanya ke tengah hutan di lereng gunung dan tubuhnya tidak mampu menahan lagi rasa lelah yang tertahan dalam tubuh kecilnya itu.
BRUUUK. Ia pun terjatuh dan tak sadarkan diri.
***
Matahari tampak tidak segan menyinari tanah Sutra ini. memberikan kehangatan kepada semua penguhuni hutan yang sudah terbangun dan memulai aktifitasnya hari ini. burung-burung terdengar bernyanyi saling bersahutan. Semilir angin terasa lembut menyentuh tubuh pepohonan membuatnya seperti penari yang cantik dan dari gunung Sutra terdengar riak air sungai mengalun merdu membentuk sebuah simpfoni alam yang indah.
Pagi itu seorang anak berumur 6 seolah dibangunkan oleh teriknya sinar matahari. Tangannya menutupi sebelah matanya yang terkena sinar hangat itu melalui sela-sela pepohonan.
“AAAAKHHH. aduh!..” teriaknya. Teringat kejadian tadi malam ia berlari hampir setengah luas hutan ini. kakinya kesatian, ada bengkak dan kemerahan di sana. Tidak teripikirkan olehnya ia bisa berlari selama itu. Air matanya menetes terbersit ingatan tentang ibunya. Matanya basah oleh kesedihan dan kebingungan akan hidupnya sekarang. ‘apa yang harus aku lakukan sekarang?’ tanda tanya besar menggantung dalam pikirannya.
Tak lama berselang seekor Gorilla besar datang memecah lamunan tentang ibunya. Anak berkulit coklat itu ketakutan. Belum pernah ia melihat Gorilla sebesar ini. ia mencoba berlari namun kakinya tidak mampu bergerak lagi. keringat becucuran, ia mundur perlahan menggunakan tanganya. Tidak berjalan namun tampak seperti tangan yang menggeser tubuh kecilnya. Perlahan ia terus bergerak hingga tangan itu menyentuh sesuatu dan tidak bisa lagi ia menggeser tubuhnya. Buntu.
“GRROOOAARRR.” Terdengar suara Gorilla di belakang tubuhnya
Selim tampak terkejut ternyata yang ia sentuh adalah seekor anak Gorilla yang sudah ia bangunkan karena sentuhannya. Ia pun merasa pasrah jika ini akan menjadi akhir hidupnya seperti yang dialami sang ibu.
Buntu. Ia pun hanya terdiam.
Namun yang terjadi adalah Gorilla besar itu hanya sedang membawakan makanan untuk anaknya yang sedang tidur. Primata berbulu hitam itu seperti tidak mempedulikan keberadaan anak kecil yang sedang ketakutan itu mungkin keberadaannya seperti seekor semut yang sedang singga di ‘rumah’ nya. Ia pun membiarkannya.
Tetapi berbeda dengan sang anak Gorilla. Ia menganggap anak berambut ikal itu mungkin seperti mainan atau bahkan teman karena begitu terbangun ia langsung memaluk Selim dengan erat hingga sulit bernafas. Gorilla kecil itu membagi makanan yang diberikan ibunya kepada anak kecil itu.
Itulah pertemuan pertama Selim dengan Graha sang anak Gorilla. Dari dialah Selim belajar menjadi ‘penghuni’ hutan hingga ia bisa bahasa binatang.
***
Kembali ke masa kini. 2 orang yang entah tahu atau tidak tentang mematikannya hutan Sutra ini sedang berjalan di bibir hutan.
“Hei Daseva, ini masih pagi, berjalanlah lebih cepat sedikit…” Perintah laki-laki yang selalu membawa pedang dengan simbol Aljave. “…dan siapkan panahmu karena kita tidak tahu apa yang akan muncul. Entah makhluk seperti apa penghuni hutan kematian ini.” lanjutnya pada Daseva yang berjalan seperti seorang pemalas yang membutuhkan jam tidur lebih banyak.
“Siap, yang Mul…” belum selesai ia bicara terlihat ada makhluk besar setinggi 3 meter sedang berlari dengan sangat kencang mendekati mereka. “…. LARI TUAN. Itu Serigala yang sangat besar.” Teriaknya sambil berlari.
Talva hanya diam dan segera mengeluarkan pedangnya. Ia membiarkan Serigala itu mendekatinya hingga jarak semeter ia merebahkan diri dengan posisi seperti tertidur membuat tubuh hewan buas itu berada di atasnya dan dengan cepat ia tancapkan pedangnya tepat di dada Serigala besar itu. Ia kesakitan. Darah mengucur hingga akhirnya ia terjatuh dan tidak sadarkan diri.
Melihat hal tersebut sang penakluk besai hanya bisa terpaku diam
“Wow. Tuan hebat sekali. Bagaimana Tuan bisa tenang saja melihat hewan sebesar itu?”
“Sudah kubilang untuk waspada.” Jawabnya singkat sambil menyarungkan pedangnya.
Kembali terdengar ada yang datang.
“SSSSSSSHHHHHH” desisan ular dari arah belakang
“TUAAAAAN. KALI INI ULAR. BAGAIMANA INI?” Teriak Daseva. Kepala menengadah ke atas dan matanya melotot.
“GUNAKAN PANAHMU DASEVA” perintah Talva. Namun sebelum Daseva mengeluarkan panah datang burung elang besar.
“HENTIKAN! Dia temanku….” teriak Selim dari atas, di balik punggung burung besar yang bernama Glee itu. “…..sedang apa kalian di hutan terlarang ini?” lanjutnya sambil terjun dari atas dan mendarat dengan sempurna dengan menggunakan kakinya.
“Hei. Kau bilang ular ini temanmu? Kau bercanda kan?” heran Daseva sambil menunjuk ular yang sedang merayap menuju tubuh serigala yang sudah tidak bernyawa.
“Kau belum menjawab pertanyaanku.” Dengan nada kesal Selim berjalan mendekati Daseva.
“Kami mencarimu.” Jawab Talva dan kemudian menyarungkan pedangnya.
“Ini aku Selim.” Talva menunjukkan luka di dadanya.
“Luka itu?…” selim mencoba mengingat kembali “… Kau Talva?”
“Kau masih ingat?” mereka pun saling berjabat tangan dan berpelukan.
“tentu saja”
“Apakah ini saatnya?” tanya sang pria hutan.
“Ya, apa kau ikut?”
“Tentu saja, sudah aku nantikan hari ini. Aku akan ambil bagian dalam sejarah ini.” Selim tampak bersemangat.
Anggota baru pun masuk. Sementara itu Daseva tampak merasa jijik melihat ular yang sedang makan serigala.
“YHAKKKK” merasa mual.

About Retno P.

Seorang ibu rumah tangga berasal dari Bandung yang memiliki hobi menulis. Ingin menyampaikan ide-ide ceritanya dalam sebuah karya tulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *