Aljave (The Rise Of Talva) chapter 1

Aljave (The Rise Of Talva) chapter 1

ALDRICH DASEVA

Kota Jave Kerajaan Aljave
Istana yang memiliki nuansa putih dalam setiap tubuhnya itu tampak gagah berdiri menjulang tinggi dengan sombongnya. Seolah tidak mempedulikan apa yang ada di bawahnya ia tetap berdiri seperti sedang menantang langit. Bangunan yang berdesain clasic itu terlihat sangat elegan dengan atap berbentuk limas segi empat berundak 3 dan di pucuk limas itu ada tiang seperti jarum menambah kesan kegagahannya. Itulah istana Aljave.
Di sekeliling istana ada taman yang luas dengan rumput hijau yang sedang menari oleh hembusan angin. Pohon-pohonnya pun tampak rindang membuat sejuk area istana. Di sana ada 6 bangunan istana yang membentuk seperti bintang dan di tengahnya adalah istana utama tempat sang Raja Tinggal. Sedangkan 4 bangunan lainnya adalah tempat para pengawal dan pelayan kerajaan kemudian 1 bangunan lagi digunakan sebagai gudang logistik istana.
Seperempat luas kota Jave adalah lingkungan kerajaan yang berada tepat dijantung kota dan dikelilingi benteng tebal juga kuat dengan pintu gerbang yang menghadap timur. Di sebelah barat kerajaan adalah wilayah hutan dan danau yang berbatasan dengan kota Pipaga sedangkan sebelah selatan adalah pemukiman warga dan ada pasar di sana. Bagian utara kerajaan adalah hutan yang berbatasan dengan kota Sutra.
Di Istana itu tinggal seorang raja yang bertangan besi dan ambisius ingin menaklukan dunia. Dialah Raja Jalva Alvara. 10 tahun yang lalu Raja Jalva merebut kekuasaan dari kakaknya sendiri. Dulu wilayah kerajaan Aljave hanya meliputi kota Jave, Sutra dan Pipaga namun ditangan Jalva dia terus menginvasi Kota-kota di dekatnya hingga Kota Almanda dan Sriwiya dapat bergabung dalam kekuasaannya.
Raja Jalva sangat menyiksa rakyatnya dengan membebankan pajak yang tinggi. Pajak itu ia gunakan untuk biaya perang meluaskan wilayah jajahannya. Dan hari ini saat matahari mulai naik sepenggala tampak dari arah kerajaan pasukan berkuda datang menuju kota Jave untuk menagih pajak ke setiap rumah. Jika tidak ada yang bisa membayar pajak biasanya dia akan diberi hukuman. Ada yang dipenjara, dicambuk dan yang paling mengenaskan adalah jika mendapat hukuman diseret kuda mengelilingi kota Jave. Mereka sangat tidak tahu ampun dalam urusan pajak.
Dan pasukan yang memakai baju zirah itu datang dengan cepat menunggangi kuda ke arah selatan menuju pasar saat penduduk Jave sedang sibuk berjual beli, bertransaksi bermacam-macan barang kebutuhan mereka. Mereka menyebar ke seluruh pasar tidak ada satu pedagang pun yang terlewat. Prajurit itu sangat pintar dalam urusan menagih pajak namun ketika rakyat minta kesejahteraan dan pengampunan pihak kerajaan tidak mau tahu.
2 orang berkuda itu tampak berhenti di sebuah toko seorang pandai besi bernama ‘Aldrich Daseva’. Terlihat dari papan nama toko berbahan besi, nama itu terukir di sana, menggantung di sebuah rumah sederhana tanpa cat. hanya seperti bata yang tidak memakai pulasan. Mereka pun masuk dan hawa panas mulai menyesaki kedua pasukan yang tampak gagah dengan baju zirah itu. Hawa itu berasal dari sebuah tungku tempat menempa besi kemudian terlihat seorang laki-laki bertubuh kecil dan berkulit kuning langsat sedang menempa besi untuk dijadikan pedang. Tampak punggungnya basah oleh peluh yang bercucuran dengan deras membasahi kain katun berwarna putih yang sudah tak lagi putih, lebih tepatnya putih keabuan.
“Pajak kalian ada di dekat pintu itu. Ambil saja” Sang pandai besi yang selalu memakai ikat kepala berbahan kain dengan simbol ‘D’ itu langsung berkata demikian tanpa menghentikan kegiatannya menempa besi.
“Hei Daseva, selain mengambil pajak kami juga dapat perintah dari Raja Jalva. Bulan depan dia ingin kau menyelesaikan 1000 pedang dan juga baju zirah untuk pasukannya yang akan berperang melawan kerajaan Yuvaria.”
Klan Daseva memang sudah terkenal sebagai pandai besi yang paling unggul hingga orang-orang menyebutnya sebagai ‘penakluk besi’. Selain cepat, kualitas mereka adalah yang terbaik. Namun kali ini berbeda secepat apa pun, 1000 pedang+baju zirah dalam sebulan adalah hal yang sangat mustahil.
Seperti seorang yang sedang terbakar api kemarahan Daseva berbalik arah dan menghentikan sejenak pekerjaannya kemudian berkata “Apa kau ingin membuatku mati kelelahan dengan menyuruhku menyelesaikan begitu banyak pesanan hanya dalam sebulan saja? Kalian bergurau saja kan?”
“Ini ambillah, Raja meningkatkan bayaran menjadi 3x lipat dari biasanya.” Mereka melemparkan sekantong emas dan membiarkannya tergeletak di tanah yang penuh dengan debu. Melihat banyaknya emas dalam kantong, dengan wajah tersenyum Daseva pun berubah pikiran.
“Baiklah akan aku selesaikan, hanya saja aku tidak yakin akan kualitasnya.” Ia pun mengambil kantong itu.
“Cukup selesaikan saja pada waktunya.” Jawab mereka singkat sedangkan sang Pandai besi hanya megacungkan jempol tanda setuju sambil melihat emas dalam kantong tersebut.
2 orang itu pun pergi sambil membawa uang pajak, namun Daseva hanya bisa menepuk dahi dan mengeluh lirih “bagaimana aku bisa menyelesaikannya? Dasar Raja tidak tahu diuntung. Menyuruhku harus bekerja 3x lipat. Aku jadi terpaksa mengurangi waktu tidurku. Haaah. Sungguh sial.” kemudian merebahkan badan di lantai berdebu dalam ‘ruang kerja’-nya yang penuh dengan tumpukan besi dan tungku api untuk menimpa besi-besi itu. Sehingga membuat kulit kuning langsat berdebu dan pakaian putih pudarnya pun menjadi kotor.
***
Sore itu tampak teduh, cuaca bersahabat waktunya untuk sedikit ‘menyenangkan’ diri dengan menyalurkan hobi berburunya. Apalagi setelah dapat bayaran 3 lipat dari biasanya. Begitu pikir Daseva,
Remaja berumur 16 tahun itu pun segera mengambil panah dan tombak, menaiki kuda dan segera pergi ke hutan. Membelah keramaian kota Jave ia pergi dengan sangat bersemangat melupakan sejenak beban tentang ‘1000 pedang’ karena setelah ini pasti ia tidak akan bisa menikmati hal ini lagi.
Ia tiba di hutan, tercium aroma pepohonan. Tali kekang kuda ia ikat di dahan pohon maka ia siap untuk berburu. Busur dan panah sudah digenggeman, ia pun berjalan dengan perlahan sambil menunduk mengamati sekeliling.
Kresek kresek. Tiba-tiba saja terdengar suara semak bergerak insting berburunya mulai mencium ada mangsa di sana. panah itu pun melesat seperti seekor burung yang terbang dengan cepat untuk berburu mangsanya.
JLEBBB
Anak panah itu tepat mengenai sasaran.
“Yeah. Rusa ini bisa kujual di pasar.” Riangnya sambil berjalan mendekati tubuh rusa yang sudah tidak bergerak.
Kresek kresek kembali terdengar bunyi semak dari arah jam 3 segera ia mengambil panah yang di simpan di balik punggungnya untuk kemudian di tembakan.
BRUUKK terdengar sang mangsa terjatuh.
“Aaah sial. Aku pikir rusa ternyata hanya babi hutan. Kubiarkan saja.” keluhnya dan membiarkan babi itu tergeletak karena di Aljave babi hutan tidak bisa dijual.
Daseva adalah seorang pemanah ulung. Setiap bidikannya selalu tepat sasaran. Kemampuan ini ia asah sejak kecil. Ayahnya sering membawanya berburu. Terkadang, Dia juga ikut bersama keluarga kerajaan yang sebelumnya yaitu Raja Dave Alzeva untuk ikut berburu karena keluarga Daseva ini sudah melayani keluarga Raja sejak dari generasi pertama yaitu kakeknya.
Namun semenjak pemerintahan beralih ke tangan Jalva yang semena-mena dan menetapkan pajak tinggi ia pun harus banting tulang untuk bisa membayar pajak dan hobinya berburu juga jarang ia lakukan lagi. Ayahnya meninggal saat penyerangan Jalva ke Istana. Ia membantu Raja sebelumnya untuk mempertahannya kerajaan namun harus berakhir dengan meregang nyawa.
Kini ia harus meneruskan bisnis ayahnya seorang diri. Kresek kresek. Kembali terdengar suara semak bergerak.
JLEBBB.
Tapi itu bukan panah Daseva. Siapa? Ia pun melirik ke sumber arah anak panah tersebut. Laki-laki berperawakan tinggi besar dan berjanggut itu menyarungkan panahnya ke bahu kemudian berjalan mendekati Daseva.
“Bidikanmu memang tidak pernah meleset tapi kau kurang cepat dariku.” Ujarnya
“Siapa kau?” heran Daseva ada yang bisa memanah dengan tepat sasaran namun lebih cepat darinya.
“Talva Alvara.”
“Alvara?..” Daseva berpikir sebentar mengingat nama itu dan “…maksudmu Pangeran Alvara?”
Laki-laki yang memiliki mata coklat dengan memakai baju berwarna senada itu hanya mengangguk dan mengeluarkan pedang. Daseva tampak riang, ia seperti melihat mentari bersinar menyinari harinya melihat pedang dengan ukiran simbol kerajaan Aljave tersemat di sana. Ia tahu betul bahwa pedang itu adalah buatan kakeknya yang merupakan seorang pandai besi terhebat di Aljave.
Pedang itu menggunakan besi pilihan yang berasal dari hutan Sutra. Besi yang bisa bertahan dari semburan lava panas Gunung ini bisa ia tempa dan bentuk menjadi pedang dengan ketajaman bisa memotong pohon dalam sekali tebas. Oleh Raja Maldave pedang itu dijadikan simbol kekuasan di kerajaan ini dan hanya di turunkan pada pewaris murni.
Daseva tampak kagum dan berlutut kemudian berkata.
“Saya siap melayani Anda Yang Mulia.”

About Retno P.

Seorang ibu rumah tangga berasal dari Bandung yang memiliki hobi menulis. Ingin menyampaikan ide-ide ceritanya dalam sebuah karya tulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *